Desember 2007


Reflexology can bring benefit in many ways, helping to ensure that each individual can achieve optimum health. Reflexology is particularly beneficial for stress related disorders which can account for 75% of all illnesses.

What conditions can it help?

Reflexology works by bringing the body back to homeostasis or balance. Any condition where the bodies systems are out of balance, will be helped. Reflexology is not used to diagnose conditions and is not a substitute for seeking medical advice from your doctor. Reflexology is designed to help you achieve and maintain optimum health.

  • IBS
  • Stress related conditions
  • Sleep disorders
  • Hay Fever
  • Eczema
  • Aches and pains
  • Multiple Sclerosis
  • PMS
  • Infertility
  • Pregnancy (from 12 weeks to birth)

Xanthe offers a range of different Reflexology treatments. They are as follows:

Foot Reflexology:

The history of foot massage originated from the Chinese who used footmassage for treatment 5,000 years ago. Then it was disseminated inThailand. From then on, Foot massage was improved, developed and applied for health care, especially for relieving muscle pain, relaxing and curing some diseases, because Foot massage could stimulate the function of physical organs and provide balance.

Hand Reflexology:

Hand reflexology is an non-invasive therapy based on the principle that body organs and structures are mirrored in the feet and in the hands. It treats the whole body by means of specific pressure. By treating a reflex point, I can un-block congestion and enhance energy flow encouraging the body’s systems to work in union. It is a natural way of bringing the body back into balance and to heal itself.

Ear Reflexology:

Thermo Auricular Therapy is an ancient natural therapy, which can be traced back to the Indians of North and South America. It is a natural way of having your ears syringed.

It can be very effective for conditions linked to the ear and head area, such as: Migraine, Headache, Sinusitis, Glue ear, Snoring, Hay Fever, Excess Ear Wax, Ringing in the Ear and Mild Hearing Loss.

Maternity Reflexology:

Xanthe offers a one-on-one session to demonstrate simple Reflexology techniques for your newborn. This will help you bond with your baby and help to resolve minor ailments, such as colic, constipation, vomiting, emotional distress, irritability, as well as some simple relaxation methods to calm and encourage sleep. These can be hugely beneficial and can be done anywhere.

“Reflexology is the application of a specific pressure massage technique on precise reflex points on the feet or hands, based on the premise that reflex areas on the feet or hands correspond to all body parts” Inge Dougans

By working on these points the Reflexologist can help to activate the body’s own healing and cleansing mechanisms, thereby bringing about a state of health and peace of mind. The Reflexologist uses their hands to apply pressure to the feet. For each person the application and the effect of the therapy is unique. Sensitive, trained hands can detect tiny deposits and imbalances in the feet, and by working on these points the Reflexologist can release blockages and restore the free flow of energy to the whole body. Tensions are eased, and circulation and elimination is improved. This gentle therapy encourages the body to heal itself, often counteracting a lifetime of misuse. Reflexologists do not diagnose, nor claim to cure. Reflexology complements conventional medicine rather than being an alternative to it.

Indian Head Massage or Champissage is based on the ancient Indian Ayurvedic healing system. It has been practised in India for over a thousand years. In India they believe massaging their heads with natural vegetable oils keeps their hair healthy and strong. Massaging the scalp stimulates the flow of blood to the follicles, improving the supply of nutrients needed for healthy hair growth. Today the common cause of poor blood flow is stress generated muscle tension, by helping dispel such tension, head massage not only proves an invaluable treatment but helps releive stress linked problems like headaches, eye strain, neck and shoulder stiffness.

How does it work?

The head, neck and shoulders are important energy centres within your body, if you are stressed or anxious, tension tends to accumulate. Indian Head Massage involves working with a strong, but gentle rhythm helping to unknot blockages and release tension, this effect is not just physical, it also works on an emotional level, calming the spirit, promoting relaxation and relieving stress.

Physical and mental benefits
  • Relief of neck and shoulder stiffness
  • Fibrous adhesions (knots and nodules) can be broken down
  • Dispersal of toxins
  • Loosens the scalp
  • Increases oxygen uptake in tissues
  • Improves circulation of blood, providing extra oxygen to the brain
  • Promotes hair growth
  • Helps relieve eye strain and headaches
  • Helps with mental tiredness
  • Improves concentration
  • Relief from mental and emotional stress
  • Relaxation of the whole person

Minum jamu dari ramuan tumbuhan obat adalah salah satu bentuk pengobatan tradisional. Demikian juga dengan akupuntur atau pijat refleksi.

Pandi Winoto memilih jenis pijat yang disebut terakhir itu karena menurutnya jauh lebih aman.

Dalam pijat refleksi tidak ada benda yang dimasukkan ke dalam tubuh, baik lewat mulut maupun tusukan jarum, begitu Pandi Winoto (64 tahun) berpendapat.

Kalau pun dalam pijat refleksi tersebut juga muncul rasa sakit, diyakini itu adalah proses dari suatu penyembuhan.

Pandi Winoto secara khusus mempraktikkan pijat refleksi sebagai teknik pengobatannya. Setiap kali berpraktik, ia selalu membagi pijat refleksi menjadi tiga bagian, pijat refleksi kaki, pijat refleksi tangan dan pijat refleksi akupuntur. Menurut Pandi, manusia mempunyai dua organ vital, yaitu kepala dan jantung.

“Jantung adalah pusat peredaran darah, pemijatannya di sekitar kaki. Sedang kepala adalah pusat saraf, pemijatan dilakukan di sekitar tangan. Apabila dipijat di bagian kaki, harapannya peredaran darah lancar. Dan dipijat bagian tangan susunan sarafnya pun membaik,” kata Pandi.

“Namun demikian saya masih menambahkan pijatan langsung ke organ, seperti mata atau telinga. Pijatan ini namanya akupuntur jari,” lanjutnya menjelaskan.

Dengan merujuk bagian organ tubuh yang dipijat itu, Pandi lalu menyebut cara penyembuhan yang dilakukan sebagai metode ReKa-TaKu, yaitu Refleksi Kaki-Tangan dan aKupuntur.

Cara Memijat

  • Secara khusus, pasien yang datang berobat kepadanya selalu dicatat nama, alamat dan keluhannya.

Hal ini dilakukan, supaya pasien dengan sadar menyerahkan dirinya kepada Pandi untuk disembuhkan. Setelah mengetahui data dan riwayat pasien, Pandi akan menanyakan riwayat pengobatan yang telah dilakukan. Setelah itu, Pandi akan melihat kulit si pasien, apakah lunak atau tidak, matanya kering atau basah. Setelah itu, ia akan memijat seluruh tubuh pasien.

Saat memijat, Pandi menerapkan teori yang dimilikinya. Pijatan pertama, pijat refleksi kaki. Cara memijat daerah refleksi yang terdapat pada kaki dilakukan dari arah bawah ke atas. Sedangkan cara memijat daerah refleksi yang terdapat pada betis dilakukan menuju arah jantung. Setiap daerah refleksi di bagian ini dipijat selama 5 menit.

Pijatan kedua, pijat refleksi tangan. Cara memijatnya dapat menggunakan tekanan keras, sedang, atau ringan dengan menggunakan ibu jari atau jari tangan, atau tiga batang tusuk gigi, benda tumpul atau api rokok di dekatkan. Ada kalanya setelah mendapat terapi ini, sekali pijatan sudah sembuh, namun ada juga yang memerlukan beberapa kali pijatan. “Semua titik simpul saraf terdapat di kedua tangan kita, maka kedua tangan tersebut perlu dipijat,” ujarnya.

Pijatan ketiga, Pandi menerapkan pijat refleksi akupuntur. Caranya dengan memijat titik-titik akupuntur yang dicurigai berhubungan dengan bagian tubuh tertentu yang terserang penyakit. Model pijatan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu mengusap, memencet, menekan atau menggetarkan.

Total pemijatan dilakukan Pandi selama setengah jam. Dan harapannya, pasien akan datang sampai tiga kali. Pandi mengumpamakan, dirinya menyapu halaman tidak bisa sekali bersih, diperlukan dua sampai tiga kali menyapu lagi supaya halaman nampak bersih total.

Setelah melakukan pemijatan, Pandi memberikan segelas air putih. Air ini dinyakini sebagai penurun toksin. Jelasnya lagi, air mempunyai sifat melarutkan. Ia pun biasa menyakinkan pasien dengan ilustrasi air yang menetesi batu, lambat laun batunya akan berlobang. Ketika air diterima pasien, pasien diminta berdoa menurut agamanya masing-masing, sebut saja yang beragama Islam, melafalkan Al Fateha. Baru setelah didoakan, airnya diminum.

Sesekali Pandi memberi energi murni yang terasa panas ke arah tubuh pasien. Ia juga mengingatkan yang terpenting dalam mendapatkan kesembuhan itu perlu mohon ampun kepada Allah agar sembuh dari penyakit.

Kiat Sehat

  • Pandi menyebutkan secara khusus, pasien yang banyak datang kepadanya akibat nyeri sendi, asam urat, jantung, hati, epilepsi, batu ginjal dan masuk angin.

Untuk itu Pandi memberi kiat sehat memelihara kesehatan. Pertama, bangun tidur, ibu jari kaki digerakkan 12 kali dan minum air putih (matang) 1,5 liter. Satu jam ke depan baru boleh makan atau minum. Kedua, bersihkan lobang hidung dengan air putih setiap terasa ada lendir atau ingus. Ketiga, selama masa pemijatan hentikan dahulu minuman atau makanan yang didinginkan, asam-asam dan obat-obat apotek tanpa resep dokter.

Sebenarnya untuk berobat kepadanya, Pandi tak menetapkan harga resmi. Ia sudah cukup senang bisa menyembuhkan orang lain. Namun lambat laun banyak pasien yang protes dan tak mau berobat lagi, karena tak mau dibayar. Bahkan ada yang memberi tanda mata terlalu besar. Maka kini di selembar kertas saran memelihara kesehatan, Pandi menuliskan biaya pengobatannya sebesar Rp 20.000. @ Hendra Priantono

Pandi Winoto
Hotel Lokawisata
Jl. Retnodumilah No.38
Peleman Rt 33 Rw 10
Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta
Telp: 0274-371898
(Kamis-Sabtu 08.00-17.00)

Happy Land Medical Centre
Jl. AIPDA Tut Harsono No 53
Timoho-Yogyakarta
(Senin-Rabu 08.00-13.00)

Dalam bahasa Jepang, shiatsu berarti tekanan jari. Dalam praktiknya, teknik pijat ini menitikberatkan pada aliran chi atau energi kehidupan yang mengalir di seluruh tubuh. Dengan keterampilan itu, Nina Radiah Taryaman mengobati banyak orang.

Shiatsu mirip pijat pada umumnya. Bedanya, dalam shiatsu, pemijatan dilakukan dengan menggunakan sistem perabaan tertentu.

Asal mula shiatsu dapat ditelusuri dari pengobatan Cina kuno yang berkembang sekitar 2000 tahun lalu. Penelusuran itu berisi informasi tentang penyebab sejumlah penyakit dan cara penyembuhannya, di antaranya dengan mengubah pola makan dan gaya hidup, di samping akupuntur dan pijat.

Dalam saluran-saluran khusus atau meridian, akupuntur menggunakan jarum, sedangkan shiatsu memakai rabaan dengan tangan pada titik-titik akupuntur. Demikianlah Nina Radiah Taryaman, pengusada tinggal di Bogor itu menjelaskan kerja terapinya.

Nina berpendapat, ketidakseimbangan energi dapat menimbulkan berbagai masalah. Karena itu, setelah menikmati terapi shiatsu, pasien biasanya merasa dirinya lebih baik. Tidur lebih nyenyak, suasana hati lebih tenang, pikiran terkonsentrasi, tidak tegang, bahkan sejumlah penyakit lama ikut hilang.

Menurutnya, tubuh manusia memiliki kekuatan yang dapat menghidupkan lagi sel-sel tubuh yang mati. Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi pada mesin, yang notabene buatan manusia.

Secara khusus, Nina menjelaskan bahwa terapi shiatsu yang berkembang belakangan ini berbeda dengan shiatsu yang dimilikinya. “Shiatsu yang banyak dipraktikkan orang adalah shiatsu yang hanya untuk kebugaran semata, sedangkan shiatsu yang saya miliki untuk mengatasi penyakit. Karena itu, yang datang ke sini biasanya yang mempunyai masalah dengan kesehatan,” katanya.

Awaalnya Nina hanya memegang-megang saraf pasien. Sambil mengajak bicara, titik saraf itu kemudian ia pijat.
“Sejak umur 7 tahun, manusia telah menggunakan saraf. Hidup hingga puluhan tahun, saraf tak lagi pernah diperhatikan. Padahal, saraf itu jujur, tidak mau berbohong dan tak mau dibohongi. Kalau dirasa sakit, akan bilang sakit. Kalau gembira, bilang gembira,” tuturnya.

Dalam hidup sehari-hari, tambah Nina, sebenarnya banyak tanda yang diberikan oleh saraf-saraf kita. Tanda-tanda itu seharusnya mengisyaratkan agar kita berbuat sesuatu.

“Ketika kita menguap berulang kali, itu tanda agar kita secepatnya beristirahat. Bila tidak, itu merupakan contoh bahwa kita sudah memaksakan saraf untuk bekerja ekstra keras. Padahal, saraf sudah memberi sinyal akan kelelahannya,” paparnya.
Contoh lain, bila kita haus atau lapar berarti harus minum atau makan. “Itu semua sinyal dari saraf.”

Menurutnya, saraf tidak meminta sesuatu yang mahal. “Saraf hanya minta pengertian, perhatian, dan kasih sayang. Setiap saraf tahu belaian yang saya lakukan. Begitu saya pegang, saraf tak lagi terasa tegang. Yang susah tidur misalnya, setelah sarafnya saya pegang, langsung akan merasa mengantuk. Tak jarang pasien tertidur di pangkuan saya,” ujarnya.

Dari Kepala Hingga Kaki
Pasien datang biasanya dengan keluhan migrain, stres, susah tidur, asma, epilepsi, ketergantungan obat, tumor, hingga gangguan organ dalam. Setiap hendak berpraktik, Nina selalu mendeteksi pasien dengan stetoskop dan tensimeter.

Ini selalu dilakukannya untuk mengetahui tekanan darah pasien. Bila ada kelainan, ia akan menyarankan pasien untuk menghubungi dokter terlebih dahulu. Namun, bila dalam perhitungannya pasien bisa langsung ditangani, ia akan mulai menerapi.

Pertama-tama Nina akan memijat-mijat kepala si pasien. Dari pijatan ringan di kepala, sedikit banyak ia mulai mengetahui derita yang dikeluhkan. Ia pun bisa mengetahui keluhan pasien lewat wawancara singkat.

Kemudian pijatan merembet ke leher. Dari leher, ia meneruskannya ke tangan, kemudian dada hingga kaki. Pijatannya akan diulang dan difokuskan pada titik-titik yang dirasa menjadi pusat gangguan. Saat memijat, Nina mengaku selalu mengajak berbicara saraf si pasien, meski kelihatannya ia hanya mewawancarai pasiennya saja.

Setelah mengetahui segala macam keluhan yang ada, ia segera akan merendahkan ketegangan saraf pasiennya. “Dari data, pasien yang mengalami keluhan jantung sering mengalami migrain dan stres. Terapi untuk mereka, saraf-sarafnya akan saya tekan hingga lemas. Dengan demikian, kondisi saraf menjadi seimbang. Saraf mempunyai dua sifat, buruk dan baik. Jadi, secara khusus cara kerja saya hanya menyeimbangkan saraf yang buruk dan baik,” ujarnya.

Banyak yang Tertidur
Nina akan terus menerapi tubuh pasien dengan jari hingga 10 menit lamanya. Reaksi pasien dalam merasakan pijatannya itu bermacam-macam, ada yang menangis, berteriak, atau tertawa-tawa.

“Secara umum, supaya tak kelihatan hanya berkonsentrasi di tempat yang dirasa sakit, saya selalu memijat seluruh badan pasien terus-menerus hingga 10 menit. Tujuannya, supaya pasien tidak akan merasakan sakit apa pun. Padahal, ada titik-titik yang saya khususkan.”

Setelah dipijat, pasien diminta tiduran di ruangannya selama 5 menit. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan rasa lelah di tubuh pasien. Menurutnya, ketika diterapi, pasiennya akan mengalami kelelahan dan lemas di sekujur tubuh. Tak heran, banyak pasien yang setelah diterapi malah tertidur berjam-jam.

Bila dirasa tak ada masalah yang cukup serius, pasien diminta datang seminggu sekali selama 3 pertemuan. Namun, untuk kasus stroke, pasien diminta datang seminggu 2 kali. Bisa juga Nina yang datang ke rumah si pasien.

Untuk urusan tarif, semua berpulang pada keikhlasan pasien. “Bila saya memasang tarif dan pasien merasa keberatan, saya takut sarafnya akan malah bertambah sakit. Semua terserah Anda. Tertarik? @ Hendra Priantono

Menjadi pengusada bukanlah cita-cita Nina Radinah Taryaman (70 tahun). Ia sebenarnya seorang penari istana di zaman pemerintahan Soekarno. “Dari tahun 1950 sampai 1965 saya menjadi penari di istana. Setiap acara 17 Agustusan saya menari dengan Gordon Tobing, Sampan Hismanto, Buyeh, dan Wayan di Istana Negara. Karena itu, setiap bulan Juni hingga Agustus, saya selalu latihan menari di istana,” katanya.

Sebelum tragedi G30S di tahun 1965 meletus, pimpinan IAM (Indonesia Artis Manajemen), Usmar Ismail, meminta Nina untuk mengajarkan kesenian Jawa, Sunda, Sumatera, dan Bali pada anak seorang petinggi Jepang yang tinggal di bilangan Prapanca, Jakarta Selatan. Karena tempat tinggalnya waktu itu di Panglima Polim, Jakarta Selatan, Nina menyanggupinya.

Namun, Nina hanya mengajarkan tari Sumatera klasik pada anak petinggi Jepang tersebut. “Pada hari pertama memberi bimbingan, saya melihat dan membaca buku shiatsu tulisan Jepang di rumah orang itu. Secara tak sengaja, petinggi Jepang yang juga ahli shiatsu itu melihat apa yang sedang saya lakukan. Ia lalu bertanya apakah saya tertarik pada teknik pengobatan tersebut,” paparnya.

Nina mengaku tertarik pada isi buku shiatsu itu, yang memuat tentang cara-cara mengatasi amarah dan stres. “Kebetulan ketika itu saya mempunyai sifat gampang tersinggung. Karena itu, setelah memberi bimbingan tari, saya minta dishiatsu olehnya. Hasilnya, badan saya menjadi lebih nyaman,” ceritanya.

Dari pengalaman tersebut, Nina meminta orang Jepang itu mengajarkan ilmu shiatsu sebagai ganti biaya bimbingan tari. Namun, ia hanya tertawa. Jadilah Nina belajar secara otodidak lewat buku shiatsu yang dipinjamnya.
“Uniknya, istrinya sempat berpesan agar saya membantu pasien-pasien suaminya. Katanya, pasien suaminya sangat membutuhkan tangan saya,” tutur istri mantri kesehatan ini.

Setelah itu Nina kerap mempraktikkan keahliannya meski belum membuka tempat praktik khusus. Setelah suaminya pensiun di tahun 1978, barulah Nina memberanikan diri membuka praktik pengoatan.

Dengan keahliannya itu, Nina kerap berpraktik keliling kota, bahkan hingga ke negeri Belanda. Padang, Semarang, Yogyakarta, Bali, dan Singapura, pernah disinggahinya. @

Pijat ala Kalimantan? Mungkin Anda baru dengar. Urat tersumbat yang menghambat peredaran darah adalah sasarannya. Makan ketan adalah pantangan utamanya.

Walaupun punya tampang lumayan untuk jadi pemain sinetron, H. Syahrudin lebih tertarik pada dunia pengobatan, khususnya pijat.

Selama ini orang mengenal pijat sebagai sarana termudah untuk mengembalikan kebugaran. Diyakini, bila dipijat, aliran darah bisa menjadi lancar kembali. Itu sebabnya, bila seseorang merasa pegal, setelah dipijat, dia akan bugar lagi. Bisa jadi aliran darahnya sudah lancar kembali.

Hal itu pula yang diyakini oleh H. Syahrudin (36 tahun), yang mengklaim dirinya sebagai ahli urat dari Kalimantan. Menurutnya, bila seseorang sering mengeluh sakit, bisa dipastikan saluran darahnya mengalami hambatan.

“Orang sering tidak memahami kalau ada hambatan di beberapa titik tubuhnya. Itu yang potensial memperburuk keadaannya hingga menjadi sakit,” ujar pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini.

Dari Kaki
Bagi Syahrudin, penggunaan istilah pijat, urut, atau nama lain yang sejenis, bukanlah masalah. “Yang terpenting adalah penanganan sehingga orang itu kembali mendekati normal, walaupun belum sehat seratus persen,” tuturnya.

Seperti para pemijat kesehatan lainnya, Bang Syahrudin, begitu ia akrab disapa, menjadikan kaki sebagai sasaran pertama. Alasannya, kaki merupakan tempat berkumpulnya titik yang menghubungkan organ-organ penting dalam tubuh manusia, seperti jantung, pankreas, hati, dan lainnya.

Namun, tidak hanya titik saja, baginya, ada juga urat-urat pembuluh darah yang menyebabkan pembuluh darah tersumbat, “Selain akibat makanan tertentu, biasanya itu adalah angin. Ini yang saya benahi.”

Tidak jarang, bila urat yang sudah bertahun-tahun mengalami kekakuan dipijatnya, pasien akan meronta, bahkan menjerit kesakitan. Bagi Syahrudin, hal itu hal wajar saja, mengingat lamanya sakit yang diderita dan dibiarkan saja oleh pasiennya.

“Justru mereka harus lebih tahan kalau dipijat saya. Sebab, untuk melemaskan dan melancarkan kembali peredaran darah, tidak cukup hanya dipijat sekali, tapi bisa berkali-kali sampai badan terasa enak dan keluhan berkurang,” kata pria yang masih kagok bila berbicara dengan bahasa Indonesia itu.

Bagi Syahrudin, kesakitan itu justru merupakan tanda bahwa seseorang benar-benar mengalami sakit. Diumpamakan olehnya, sumber penyakit yang hanya sebesar biji beras pun akan tetap terasa menyakitkan bila sedang ia pijat.

Syahrudin pada saat memijat sering mengeluarkan angin lewat mulut (glegekan). Menurutnya, itu adalah pertanda bahwa sakit si pasien sedang dipindahkan atau bahkan dikeluarkan. Dan hanya dengan menggunakan tangan tanpa media apa pun, Syahrudin melakukan pemijatan.

Dilarang Makan Ketan
Dalam membantu kesembuhan, Syahrudin akan menetapkan pantangan yang harus dijalankan pasiennya. Pantangan utama, menurutnya, setiap orang yang sedang menjalani pengobatan dilarang makan ketan.

“Biarpun sudah sepuluh kali dipijat oleh saya, kalau dia mencoba makan ketan satu biji saja, saya yakin pembuluh darahnya bakal tersumbat lagi. Lain halnya bila dia sudah merasa sehat. Silakan saja,” ucapnya.

Syahrudin tidak menampik kenyataan kalau selama ini ada saja pasiennya yang melanggar pantangan itu. Menurutnya, semua itu memang terpulang kepada diri pasien, apakah ingin sembuh atau tidak.

Bagi penderita penyakit asma, selain ketan, juga dilarang mengasup makanan yang banyak menggunakan cabai dan lada, ikan tongkol, ikan peda, dan rebung pohon bambu. Jenis makanan yang disebutnya itu berpotensi menyebabkan terjadinya rasa panas pada paru-paru penderita asma. Dan ini akan menyebabkan gangguan pernapasan.

Syahrudin bukan tidak memantau perkembangan yang terjadi pada diri pasiennya. Bila pasien rajin menaati pantangan yang diberikan, biasanya saat dipijat, urat-uratnya sudah lancar.

Bila para pengobat lain dalam melakukan upaya penyembuhan terkadang memberikan ramuan untuk dibawa pulang, tidak demikian halnya dengan Syahrudin. Diakuinya, dulu dia pernah berbuat hal yang sama, tetapi karena suatu hal, dia tidak melakukannya lagi.

“Bagi saya, ramuan tumbuhan yang ada di pedalaman hutan Kalimantan punya khasiat tertentu dalam pengobatan. Hanya saja, adat kami memerlukan ritual khusus walaupun hanya untuk mencabut satu jenis tanaman,” paparnya. “Ini yang membuat saya harus mempertimbangkan baik-baik saat harus mengolah tanaman obat. Dan untuk mengolahnya hingga siap dipakai, diperlukan waktu.”

Syahrudin pernah minta tolong kepada familinya di Kalimantan mengiriminya tanaman obat yang akan digunakan untuk mengobati pasien. Namun, ketika pesanan diterima, ternyata herba ramuan itu bukan yang diinginkannya.

“Jadi saudara saya tidak tahu kalau sudah ditipu. Bagi saya, kalau barang yang saya inginkan tidak asli, pasti ada halangan untuk mengolahnya,” ungkapnya. @ Suharso Rahman

No. HP. H. Syahrudin
0815 885 6842

Sebuah agen pemasaran di kawasan Pantai Barat Amerika Serikat, mendorong karyawannya berhenti bekerja dan istirahat untuk pijat. Sebuah perusahaan keuangan di New York, karyawannya diberi waktu istirahat untuk mengikuti kelas yoga.

Menurut Reuter Health, 9 Juni lalu, belakangan memang semakin banyak perusahaan yang menawarkan kenyamanan pijat dan rileksasi yoga di sekitar kantor kepada karyawannya. Ini tidak sekadar membuat karyawan senang, tetapi supaya mereka makin gigih bekerja dan meningkat daya saingnya.

Program semacam itu — semula dilakukan oleh perusahaan-perusahaan nontradisional, tetapi sekarang dikenal sebagai benteng pertahanan bisnis — membantu karyawan betah bekerja mengingat mereka mudah sekali berpindah tempat kerja dan bahkan pindah ke perusahaan pesaing. “Kami harus melakukan apa pun yang bisa kami lakukan untuk membuat karyawan senang. Persaingan di industri kami saat ini sengit sekali,” tutur Tracy Cote, Direktur PSDM Organic Inc., sebuah agen pemasaran digital di San Francisco yang berafiliasi pada Omnicom Group Inc.

“Ada kemajuan di pasar selama 12 bulan ini. Bisnis kami baik, tetapi pesaing kami juga maju. Ini semua berkaitan dengan recruiting dan retaining karyawan,” tambah Cote.

Semula Organic menawarkan pijat di kantor sekali sebulan dan sesuai permintaan, ditambah menjadi dua kali sebulan. Kini karena sesi pijat itu sangat diminati, perusahaan sedang menimbang untuk menambah lagi menjadi seminggu sekali.

Menurut Meredith Stern dari Infinite Massage di San Francisco, perusahaan memang harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengeruk lebih banyak keuntungan. Kata Stern, program pijat di kantor – yaitu bila sebuah perusahaan embayar pemijat berijazah di salah satu ruangan yang mereka miliki – tampaknya menjadi salah satu faktor yang diinginkan diantara daftar tempat kerja terbaik di AS.

“Dalam perekonomian yang kembali melonjak, kami perhatikan bahwa perusahaan menambahkan pijat sebagai tunjangan tambahan,” ungkap Stern. “Perusahaan-perusahaan berupaya menemukan cara untuk menambah kesejahteraan karyawannya agar mereka betah karena memang semakin susah untuk mengganti seorang kaiyawan.”

Sebuah survei yang dilakukan Massage Therapy Journal mendapati, selama lima tahun belakangan ini semakin banyak perusahaan yang menawarkan program pijat. Hingga Juli tahun lalu, setiap tahun sekltar 47 juta orang Amerika menikmati pijat di kantor atau di luar kantor, menlngkat 2 juta dibanding tahun sebelumnya.

“Argumentasi saya adalah, dalam hal produktivitas, Anda akan memperoleh lebih bila Anda mengizinkan karyawan Anda sedikit menikmati keleluasaan. Dan menggunakannya untuk pijat lebih baik dibanding untuk merokok atau bahkan minum kopi,” sebut Stern. Riset memperlihatkan bahwa pijat bisa menurunkan stres, tekanan darah, dan pegal-pegal. Salah satu penelitian yang dilaporkan di International Journal of Neuroscience bahkan mengungkap, orang yang memperoleh terapi pijat terbukti lebih sigap dan mampu lebih cepat dan akurat dalam menghitung soal-soal matematika.

Permintaan sedang meningkat, tambah Michael Wald dari Namaste New York, yang menawarkan program antistres bagi kantor-kantor. “Yang saya lihat adalah meningkatnya anggaran,” kata Wald, tentang anggaran klien-klien bisnisnya.

“Setiap tahun ada peningkatan, tetapi saya tidak mendapati CEO yang berkata, “Kita memperoleh tambahan keuntungan sekian dolar lagi karena program ini.” Sulit untuk dikuantifikasikan, tetapi yang terlihat, semangat dan atmosfer jadi membaik, rasa tidak peduli dan keausan sikap menjadi berkurang,” ujarnya.

Di Organic, Cote membandingkan nilai pijat dengan kiasan dua orang yang sama-sama harus menebang pohon. “Salah satu dari mereka berhenti untuk mengasah gergaji, dan pohon yang harus dia potong tumbang lebih cepat dibanding penebang yang tidak berhenti menajamkan gergajinya dulu. Persis seperti itulah yang terjadi di tempat kerja,” katanya.

Pijat dulu, ah… @ jjw

Dalam sejumlah kasus, rasa sakit bisa berarti tubuh dalam proses penyembuhan. Setelah tubuh diterapi, dengan pijat misalnya, rasa sakit akan berkurang.

Malah kemudian, segala keluhan akan hilang. Demikian Agus Budiarto membimbing pasien ketika sedang memijat. Teknik refleksi ditambah transfer energi membuat Agus mampu mengurangi keluhan stroke ringan dan diabetes.

“Pada dasarnya manusia mempunyai tiga poin penting, yaitu, energi, otak, dan tubuh. Energi adalah basis kehidupan yang diatur oleh otak dan diwadahi oleh tubuh manusia itu sendiri,” kata Agus Budiarto, praktisi pengobatan pijat refleksi di daerah Duren Sawit, Jakarta.

Jelasnya lagi, ketika mengobati penderita, Agus mengombinasikan pijatan dengan transfer energi. Transfer energi itu diyakininya untuk memperlancar kerja saraf si penderita. Dalam memijat, ia mengaku menguasai betul titik-titik atau simpul saraf, baik di kaki maupun tangan.

Menurutnya, pasien yang biasa ditangani adalah penderita diabetes, hipertensi, hipotensi, dan stroke. Meski begitu, ada juga pasien yang datang dengan keluhan nyeri lambung, misalnya.

Segala keluhan pasien tersebut ditanganinya hanya lewat tranfer energi, pijat, serta refleksi kaki dan tangan. Dalam memijat, Agus melakukan sistem silang. Artinya, bila keluhan ada di daerah sebelah kanan, ia akan memijat tubuh bagian kiri. Begitu sebaliknya.

Lewat Ujung Jempol
Seperti dalam kedokteran medis, pasien datang sudah dengan keluhan. Agus akan mendiagnosis pasiennya dengan melakukan wawancara singkat. Ia juga mendeteksi gangguan lewat transfer energi atau gerakan anatomi tubuh pasiennya, seperti keseimbangan kedua tangan, sinkronisasi bolamata, atau cara berjalan.

Agus sebenarnya membutuhkan pengakuan atas keluhan yang diderita pasien. Baginya, omong kosong kalau dirinya mampu menebak semua keluhan pasien tanpa bertanya terlebih dahulu.

Langkah awal pengobatan, Agus akan mentransfer energi kepada pasien. Mula-mula kaki pasien diminta untuk diluruskan. Setelah itu, tangannya akan digerak-gerakkan, seperti sedang meraba, namun tidak menyentuh tubuh pasiennya. Gerakannya hanya ditujukan pada ujung ibu jari kaki hingga paha.

Gerakan yang hanya sebatas kaki itu bertujuan untuk membantu kelancaran peredaran darah pasien. Menurutnya, pasien stroke mengalami gangguan peredaran darah di sekitar otak kecil dan besar. Dan di antara kedua otak itulah yang akan dilancarkan aliran darahnya.

“Biasanya stroke terjadi akibat adanya gangguan peredaran darah yang menuju ke otak. Karena itu, saya harus mencari sumbatan-sumbatannya. Terapi pada penderita stroke yang sudah kronis biasanya dapat mengurangi kekambuhannya. Tadinya tak bisa menggerakkan tangan, setelah terapi, bisa untuk memegang sesuatu,” paparnya.

Meski teknik gerakannya mirip prana, Agus menolak bila dibilang meniru gerakan prana. Saat tangannya bergerak itulah, ia akan merasakan adanya sumbatan-sumbatan di aliran peredaran darah.

Saat itu juga Agus akan memberikan energi positifnya bagi pasien. Mereka yang peka akan turut merasakan adanya hawa hangat yang masuk melalui ujung ibu jari kaki atau timbulnya gerakan-gerakan halus di sekitar kaki.

Katanya, ”Pada umumnya tubuh manusia terdiri dari kumpulan energi yang terkandung di dalamnya dan secara kasat mata tak kelihatan. Untuk mencapainya, saya hanya berinteraksi dengan energi itu, saling timbal balik. Energi positif akan tersalur mengganti energi negatif.”

Setelah dua menit melakukan gerakan-gerakan itu, ia mulai memijat-mijat kaki dilanjutkan ke daerah tangan.

Campuran Minyak Tawon
Saat memijat, Agus terlebih dahulu membalurkan campuran minyak tawon dan berbagai tanaman obat ke bagian kaki maupun tangan pasien. Tanaman obat yang dicampurkan ke minyak tawon biasanya panjang jiwo, jahe, daun sambung nyawa, tapak dara, dan brotowali.

Menurutnya, minyak tawon itu sudah direbus bersamaan dengan tanaman-tanaman obat itu. Campuran minyak itu berfungsi untuk memperlancar aliran peredaran darah.

Setelah membalurkan campuran minyak tawon, Agus mulai memijat-mijat “kecil”, dimulai dari ujung ibu jari kaki hingga seluruh jari kaki. Lalu, tangannya akan beranjak ke sekitar betis hingga paha. Baru kemudian seluruh jari tangan kiri dan kanan. Biasanya pijatannya dari yang halus hingga terasa sakit.

Pada titik-titik yang dirasa sakit itulah yang akan diprioritaskan Agus. Bila pasien merasakan sakit, menurutnya, itu merupakan proses penyembuhan. Lamanya pijatan di kaki dan tangan sekitar 40 menit.

“Saya melakukan pemijatan secara diagonal. Artinya, bila stroke yang dialami pasien sebelah kiri, saya akan memijat sebelah kanan. Begitu sebaliknya. Untuk vertigo dan sinusitis, saya memijat hanya di daerah tangan saja,” katanya.

Untuk terapi pijatnya, rata-rata pasien datang 3-5 kali pertemuan. Namun, bila sekali dipijat sudah tidak terasa sakit, pasien tak perlu datang lagi padanya. Agus pun tetap menganjurkan pasiennya untuk kembali berobat pada dokter untuk mengetahui perkembangan penyakitnya secara medis.
Saat melakukan pemijatan, Agus juga kerap mengajarkan tentang titik-titik refleksi kepada anggota keluarga yang mengantarkan pasien. Tujuannya, supaya mereka bisa melakukannya di rumah.

Soal biaya, Agus tak menetapkan tarif resmi. Ia menerima dengan senang hati pemberian pasien. Agus juga menyanggupi jasa pemanggilan di rumah.
”Bagi pasien diabetes, saya biasa menganjurkan untuk berendam air garam selama 10 menit setiap hari di rumah. Pakai air hangat-hangat kuku yang sudah ditambah garam sebanyak 1 sendok makan. Yang direndam kaki dan tangan. Cara ini efektif untuk mengontrol tekanan gula darah maupun tekanan darah tinggi,” katanya. @ Hendra Priantono

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.