MINUM kapsul obat tradisional untuk mengatasi hipertensi belum tentu aman. Bila penggunaannya tanpa konsultasi atau pengawasan dengan dokter, bisa jadi kesehatan dan nyawa Anda akan terancam.
Permasalahannya adalah kini banyak obat tradisional yang beredar di pasaran. Apakah pemerintah mengawasi penggunaan obat tradisional  Adakah peraturan mengenai obat tradisional dan apakah obat tradisional yang sudah beredar diakui manfaatnya oleh pemerintah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengemuka dalam rubrik Konsultasi Kesehatan Harian Kompas yang diasuh dr Samsuridjal Djauzi.  Berikut tanya jawab selengkapnya :

Saya penderita hipertensi berumur 62 tahun. Saya teratur minum obat hipertensi selama 10 tahun ini.

Obat saya dua macam, menurut dokter untuk menurunkan tekanan darah dan salah satu di antaranya menjaga jantung. Saya tak ada masalah dengan biaya pengobatan karena saya anggota asuransi. Perusahaan asuransi membayar biaya pengobatan, termasuk konsultasi dokter, pemeriksaan laboratorium, dan obat yang harus digunakan.

Tekanan darah dapat ditekan menjadi normal, sistolik berkisar antara 120 dan 130 dan diastolik 80. Menurut dokter, saya harus mempertahankan tekanan darah agar terhindar dari komplikasi tak diinginkan. Setahu saya komplikasi hipertensi dapat berupa stroke dan serangan jantung.

Sekitar enam bulan lalu saya terpengaruh teman. Dia juga menderita hipertensi dan tampak sehat dengan menggunakan obat tradisional. Saya disuruh meminum kapsul obat tradisional mengandung bawang putih dan beberapa ramuan lain. Karena sudah mulai bosan minum obat darah tinggi, saya mencoba minum obat tradisional tersebut. Saya juga mengurangi konsumsi makanan yang asin dan rajin berenang.

Saya merasa segar dan sehat, tak mengalami sakit kepala atau gejala hipertensi lain. Setelah tiga bulan minum obat tradisional, saya kontrol ke dokter. Alangkah terkejutnya saya karena tekanan darah sudah menjadi 190/110.

Dokter hampir tak percaya dan mengulangi pemeriksaan tekanan darah berkali-kali. Setelah saya jelaskan saya menghentikan minum obat hipertensi barulah beliau mengerti. Dokter menekankan pentingnya minum obat teratur dan memeriksakan tekanan darah teratur pula. Menurut beliau, gejala hipertensi amat individual sehingga saya tak merasa apa-apa meski tekanan darah sudah tinggi. Tekanan darah setinggi itu menurut beliau amat berisiko bagi saya yang sudah berumur 62 tahun.

Pengalaman ini mengajarkan kepada saya untuk berhati- hati minum obat tradisional. Sekarang saya sudah kembali ke obat hipertensi dan syukurlah tekanan darah sudah kembali terkendali.

Pertanyaan saya, apakah pemerintah mengawasi penggunaan obat tradisional karena apa yang saya alami mungkin juga dialami penderita lain? Adakah peraturan mengenai obat tradisional dan apakah obat tradisional yang sudah beredar diakui manfaatnya oleh pemerintah? Saya melihat di toko obat banyak obat penurun kolesterol, asam urat, bahkan obat kanker dan obat-obat tersebut terdaftar di Depkes. Terima kasih atas perhatian Dokter.

M di J

Pertanyaan Anda amat penting karena menyangkut kepentingan orang banyak. Selain itu, ternyata bulan Mei ini merupakan Hari Hipertensi Sedunia sehingga amat relevan kita membahas hipertensi.

Kali ini Hari Hipertensi Sedunia bertema kenali tekanan darah Anda. Artinya, kita dianjurkan mengetahui apakah tekanan darah kita normal atau tinggi. Banyak sekali orang tak mengetahui sesungguhnya dia penderita darah tinggi. Karena tidak tahu tentu tidak diobati sehingga dalam jangka lama dapat terjadi penyulit berupa gangguan jantung, stroke, atau gangguan ginjal. Selain itu, pengobatan hipertensi terdiri dari pengobatan farmakologi dan nonfarmakologi.

Pengobatan nonfarmakologi antara lain menjaga berat badan, menghindari konsumsi garam berlebihan, mengurangi konsumsi lemak, dan berolahraga. Upaya ini harus diamalkan di samping pengobatan farmakologi berupa obat hipertensi untuk mengendalikan tekanan darah serta menghindari komplikasi hipertensi.

Kekerapan penyakit hipertensi cukup tinggi, di negara sekitar 10 persen, bahkan di beberapa daerah lebih tinggi. Pada aras global, satu dari empat orang dewasa diduga menderita hipertensi.

Hipertensi merupakan pembunuh yang diam-diam menimbulkan korban, jumlahnya jutaan orang tiap tahun. Karena itu, kita perlu peduli terhadap hipertensi dan tahu tekanan darah kita.

Bagi pembaca yang belum pernah mengukur tekanan darah amat dianjurkan melakukan pemeriksaan. Jika tekanan darah normal, dianjurkan secara berkala mengukur tekanan darah, sedikitnya setahun sekali. Sedangkan jika tekanan darah tinggi dianjurkan berkonsultasi dengan dokter untuk merencanakan pengendalian hipertensi.

Pengendalian ini penting karena jika terjadi penyulit, biaya terapi mahal dan bahkan penyulit tersebut dapat mengancam nyawa. Penyulit yang dapat timbul adalah stroke yang dapat mengancam nyawa atau menimbulkan kecacatan. Sedangkan penyulit pada jantung dapat berupa gagal jantung yang biaya pengobatannya juga mahal. Cuci darah mungkin diperlukan pada kelainan ginjal akibat hipertensi. Karena itu, dengan pengendalian dini diharapkan penyulit tersebut dapat dihindari.

Lebih dari 90 persen hipertensi merupakan hipertensi esensial, artinya penyebabnya tidak diketahui sehingga terapi hipertensi pada keadaan ini perlu dilakukan terus-menerus sepanjang hayat. Pengendalian terapi perlu dinilai secara klinis dan pengukuran tekanan darah secara teratur.

Sebenarnya ilmu kedokteran modern amat toleran pada pengobatan tradisional. Kedokteran modern mengakui, pengobatan tradisional telah memelihara kesehatan masyarakat ratusan tahun sampai ditemukan obat-obat antibiotika, obat diabetes melitus, obat hipertensi, obat kolesterol, obat kanker, dan lain-lain.

Kita tahu obat kimiawi kebanyakan baru ditemukan pada awal abad ke-20. Dengan tersedianya obat-obat yang didasarkan pada penelitian, kita sekarang telah berada dalam era evidence based medicine (praktik kedokteran yang didasarkan pada bukti sahih).

Jadi, obat tradisional boleh saja digunakan sepanjang menunjukkan hasil nyata. Hasil ini biasanya diteliti melalui uji klinik. Anda telah menceritakan pengalaman menggunakan obat tradisional yang kurang bermanfaat dalam mengendalikan hipertensi. Pengalaman ini hendaknya menjadikan Anda berhati-hati dan kritis dalam menggunakan obat.

Obat yang beredar di Indonesia diawasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). Label terdaftar di Departemen Kesehatan pada obat tradisional tidak menjamin obat tersebut telah diuji klinis. Dalam menggunakan obat tradisional memang diperlukan pengawasan pemerintah, tetapi lebih penting lagi masyarakat sendiri harus kritis dan jika perlu dapat meminta informasi kepada instansi berwenang atau dokter keluarga.

Potensi obat di negeri kita, baik tradisional maupun modern, perlu dikembangkan, tetapi penggunaan dan pemasarannya hendaknya mempertimbangkan kepentingan masyarakat.

Saya merasa senang hipertensi Anda sudah terkendali, tetapi Anda juga diharapkan menjadi relawan kesehatan untuk keluarga. Bagaimana dengan tekanan darah istri, anak-anak, dan jika perlu sahabat-sahabat Anda. Anjurkanlah mereka memeriksakan tekanan darah. Terima kasih.

JAKARTA, RABU- Hipertensi atau tekanan darah tinggi dapat menyebabkan gangguan ginjal, merusak kerja mata, menimbulkan kelainan atau gangguan kerja otak, sehingga dapat menghambat pemanfaatan kemampuan intelijensia secara optimal. Padahal, hipertensi sebenarnya bisa dicegah jika faktor risikonya dapat dikendalikan dengan memodifikasi gaya hidup.

“Salah satu cara mencegah hipertensi adalah mengurangi asupan garam,” kata ahli jantung dr A Sari S Mumpuni SpJP dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, dalam seminar sehari bertema “Pengendalian Hipertensi Berhubungan dengan Stres dan Intelijensia untuk Hidup Meningkatkan Produktivitas”, Rabu (2/7), di Gedung Serbaguna Departemen Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan.

Selain mengurangi asupan garam, pencegahan hipertensi juga bisa dilakukan dengan memperbanyak konsumsi makanan berserat seperti buah-buahan dan sayuran, menghindari konsumsi alkohol secara berlebihan. “Kegemukan atau obesitas juga meningkatkan risiko terkena serangan hipertensi. Karena itu, jaga berat badan seimbang, sebaiknya disertai berolah raga secara rutin dan menjaga asupan makanan bergizi seimbang,” ujarnya menambahkan.

Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, data pola penyebab kematian umum di Indonesia, penyakit jantung dan pembuluh darah dianggap sebagai penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia. Gangguan jantung dan pembuluh darah sering berawal dari hipertensi. “Tekanan darah tinggi bisa dicegah jika faktor risikonya dikendalikan dengan mendorong kemandirian rakyat untuk hidup sehat,” kata Sekretaris Jenderal Depkes Sjafii Ahmad.

“Deteksi dini bagi mereka yang belum teridentifikasi dan kepatuhan minum obat bagi yang sudah terkena hipertensi adalah kunci pengendalian hipertensi,” kata Sjafii menambahkan. Agar anggota masyarakat dapat menjaga diri dari hipertensi, faktor risiko perlu dikendalikan. Salah satunya, dengan mengendalikan stres yang berdampak besar pada penurunan tekanan darah.

Dari pemeriksaan kesehatan terhadap 500 pegawai Depkes, terdeteksi bahwa 99 orang menderita hipertensi. Prevalensinya di Indonesia diperkirakan mencapai 17-21 persen dari populasi, dan kebanyakan tidak terdeteksi karena manusia dapat mengalami gangguan hipertensi tanpa merasakan gangguan atau gejalanya. Menurut Badan Kesehatan Dunia, dari 50 persen penderita hipertensi yang terdeteksi, hanya 25 persen yang mendapat pengobatan, dan Cuma 12,5 persen dapat diobati dengan baik.

Sari menjelaskan, sekitar 90 persen atau lebih penderita hipertensi tidak diketahui penyebabnya. Jadi, hipertensi merupakan penyakit primer. Sedangkan sisanya 10 persen atau kurang adalah penderita hipertensi yang disebabkan penyakit lain seperti penyakit ginjal dan beberapa gangguan kelenjar endokrin tubuh. Keadaan ini disebut hipertensi sekunder. “Menurut Joint National Committee on Hypertension (JNC0, normalnya, tekanan darah sistolik kurang dari 120 mm Hg dan diastolik kurang dari 80 mm Hg,” ujarnya menegaskan.
EVY

Sumber : www.kompas.com