Dalam bahasa Jepang, shiatsu berarti tekanan jari. Dalam praktiknya, teknik pijat ini menitikberatkan pada aliran chi atau energi kehidupan yang mengalir di seluruh tubuh. Dengan keterampilan itu, Nina Radiah Taryaman mengobati banyak orang.

Shiatsu mirip pijat pada umumnya. Bedanya, dalam shiatsu, pemijatan dilakukan dengan menggunakan sistem perabaan tertentu.

Asal mula shiatsu dapat ditelusuri dari pengobatan Cina kuno yang berkembang sekitar 2000 tahun lalu. Penelusuran itu berisi informasi tentang penyebab sejumlah penyakit dan cara penyembuhannya, di antaranya dengan mengubah pola makan dan gaya hidup, di samping akupuntur dan pijat.

Dalam saluran-saluran khusus atau meridian, akupuntur menggunakan jarum, sedangkan shiatsu memakai rabaan dengan tangan pada titik-titik akupuntur. Demikianlah Nina Radiah Taryaman, pengusada tinggal di Bogor itu menjelaskan kerja terapinya.

Nina berpendapat, ketidakseimbangan energi dapat menimbulkan berbagai masalah. Karena itu, setelah menikmati terapi shiatsu, pasien biasanya merasa dirinya lebih baik. Tidur lebih nyenyak, suasana hati lebih tenang, pikiran terkonsentrasi, tidak tegang, bahkan sejumlah penyakit lama ikut hilang.

Menurutnya, tubuh manusia memiliki kekuatan yang dapat menghidupkan lagi sel-sel tubuh yang mati. Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi pada mesin, yang notabene buatan manusia.

Secara khusus, Nina menjelaskan bahwa terapi shiatsu yang berkembang belakangan ini berbeda dengan shiatsu yang dimilikinya. “Shiatsu yang banyak dipraktikkan orang adalah shiatsu yang hanya untuk kebugaran semata, sedangkan shiatsu yang saya miliki untuk mengatasi penyakit. Karena itu, yang datang ke sini biasanya yang mempunyai masalah dengan kesehatan,” katanya.

Awaalnya Nina hanya memegang-megang saraf pasien. Sambil mengajak bicara, titik saraf itu kemudian ia pijat.
“Sejak umur 7 tahun, manusia telah menggunakan saraf. Hidup hingga puluhan tahun, saraf tak lagi pernah diperhatikan. Padahal, saraf itu jujur, tidak mau berbohong dan tak mau dibohongi. Kalau dirasa sakit, akan bilang sakit. Kalau gembira, bilang gembira,” tuturnya.

Dalam hidup sehari-hari, tambah Nina, sebenarnya banyak tanda yang diberikan oleh saraf-saraf kita. Tanda-tanda itu seharusnya mengisyaratkan agar kita berbuat sesuatu.

“Ketika kita menguap berulang kali, itu tanda agar kita secepatnya beristirahat. Bila tidak, itu merupakan contoh bahwa kita sudah memaksakan saraf untuk bekerja ekstra keras. Padahal, saraf sudah memberi sinyal akan kelelahannya,” paparnya.
Contoh lain, bila kita haus atau lapar berarti harus minum atau makan. “Itu semua sinyal dari saraf.”

Menurutnya, saraf tidak meminta sesuatu yang mahal. “Saraf hanya minta pengertian, perhatian, dan kasih sayang. Setiap saraf tahu belaian yang saya lakukan. Begitu saya pegang, saraf tak lagi terasa tegang. Yang susah tidur misalnya, setelah sarafnya saya pegang, langsung akan merasa mengantuk. Tak jarang pasien tertidur di pangkuan saya,” ujarnya.

Dari Kepala Hingga Kaki
Pasien datang biasanya dengan keluhan migrain, stres, susah tidur, asma, epilepsi, ketergantungan obat, tumor, hingga gangguan organ dalam. Setiap hendak berpraktik, Nina selalu mendeteksi pasien dengan stetoskop dan tensimeter.

Ini selalu dilakukannya untuk mengetahui tekanan darah pasien. Bila ada kelainan, ia akan menyarankan pasien untuk menghubungi dokter terlebih dahulu. Namun, bila dalam perhitungannya pasien bisa langsung ditangani, ia akan mulai menerapi.

Pertama-tama Nina akan memijat-mijat kepala si pasien. Dari pijatan ringan di kepala, sedikit banyak ia mulai mengetahui derita yang dikeluhkan. Ia pun bisa mengetahui keluhan pasien lewat wawancara singkat.

Kemudian pijatan merembet ke leher. Dari leher, ia meneruskannya ke tangan, kemudian dada hingga kaki. Pijatannya akan diulang dan difokuskan pada titik-titik yang dirasa menjadi pusat gangguan. Saat memijat, Nina mengaku selalu mengajak berbicara saraf si pasien, meski kelihatannya ia hanya mewawancarai pasiennya saja.

Setelah mengetahui segala macam keluhan yang ada, ia segera akan merendahkan ketegangan saraf pasiennya. “Dari data, pasien yang mengalami keluhan jantung sering mengalami migrain dan stres. Terapi untuk mereka, saraf-sarafnya akan saya tekan hingga lemas. Dengan demikian, kondisi saraf menjadi seimbang. Saraf mempunyai dua sifat, buruk dan baik. Jadi, secara khusus cara kerja saya hanya menyeimbangkan saraf yang buruk dan baik,” ujarnya.

Banyak yang Tertidur
Nina akan terus menerapi tubuh pasien dengan jari hingga 10 menit lamanya. Reaksi pasien dalam merasakan pijatannya itu bermacam-macam, ada yang menangis, berteriak, atau tertawa-tawa.

“Secara umum, supaya tak kelihatan hanya berkonsentrasi di tempat yang dirasa sakit, saya selalu memijat seluruh badan pasien terus-menerus hingga 10 menit. Tujuannya, supaya pasien tidak akan merasakan sakit apa pun. Padahal, ada titik-titik yang saya khususkan.”

Setelah dipijat, pasien diminta tiduran di ruangannya selama 5 menit. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan rasa lelah di tubuh pasien. Menurutnya, ketika diterapi, pasiennya akan mengalami kelelahan dan lemas di sekujur tubuh. Tak heran, banyak pasien yang setelah diterapi malah tertidur berjam-jam.

Bila dirasa tak ada masalah yang cukup serius, pasien diminta datang seminggu sekali selama 3 pertemuan. Namun, untuk kasus stroke, pasien diminta datang seminggu 2 kali. Bisa juga Nina yang datang ke rumah si pasien.

Untuk urusan tarif, semua berpulang pada keikhlasan pasien. “Bila saya memasang tarif dan pasien merasa keberatan, saya takut sarafnya akan malah bertambah sakit. Semua terserah Anda. Tertarik? @ Hendra Priantono

Menjadi pengusada bukanlah cita-cita Nina Radinah Taryaman (70 tahun). Ia sebenarnya seorang penari istana di zaman pemerintahan Soekarno. “Dari tahun 1950 sampai 1965 saya menjadi penari di istana. Setiap acara 17 Agustusan saya menari dengan Gordon Tobing, Sampan Hismanto, Buyeh, dan Wayan di Istana Negara. Karena itu, setiap bulan Juni hingga Agustus, saya selalu latihan menari di istana,” katanya.

Sebelum tragedi G30S di tahun 1965 meletus, pimpinan IAM (Indonesia Artis Manajemen), Usmar Ismail, meminta Nina untuk mengajarkan kesenian Jawa, Sunda, Sumatera, dan Bali pada anak seorang petinggi Jepang yang tinggal di bilangan Prapanca, Jakarta Selatan. Karena tempat tinggalnya waktu itu di Panglima Polim, Jakarta Selatan, Nina menyanggupinya.

Namun, Nina hanya mengajarkan tari Sumatera klasik pada anak petinggi Jepang tersebut. “Pada hari pertama memberi bimbingan, saya melihat dan membaca buku shiatsu tulisan Jepang di rumah orang itu. Secara tak sengaja, petinggi Jepang yang juga ahli shiatsu itu melihat apa yang sedang saya lakukan. Ia lalu bertanya apakah saya tertarik pada teknik pengobatan tersebut,” paparnya.

Nina mengaku tertarik pada isi buku shiatsu itu, yang memuat tentang cara-cara mengatasi amarah dan stres. “Kebetulan ketika itu saya mempunyai sifat gampang tersinggung. Karena itu, setelah memberi bimbingan tari, saya minta dishiatsu olehnya. Hasilnya, badan saya menjadi lebih nyaman,” ceritanya.

Dari pengalaman tersebut, Nina meminta orang Jepang itu mengajarkan ilmu shiatsu sebagai ganti biaya bimbingan tari. Namun, ia hanya tertawa. Jadilah Nina belajar secara otodidak lewat buku shiatsu yang dipinjamnya.
“Uniknya, istrinya sempat berpesan agar saya membantu pasien-pasien suaminya. Katanya, pasien suaminya sangat membutuhkan tangan saya,” tutur istri mantri kesehatan ini.

Setelah itu Nina kerap mempraktikkan keahliannya meski belum membuka tempat praktik khusus. Setelah suaminya pensiun di tahun 1978, barulah Nina memberanikan diri membuka praktik pengoatan.

Dengan keahliannya itu, Nina kerap berpraktik keliling kota, bahkan hingga ke negeri Belanda. Padang, Semarang, Yogyakarta, Bali, dan Singapura, pernah disinggahinya. @

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.