Sebagai cara kuno yang bebas efek sampingan, pijat tak cuma berkhasiat membuang rasa lelah dan stres, tetapi juga dipercaya menjaga kebugaran sekaligus meningkatkan unjuk kerja badan.


Bagi Ir. Pramana, M.Sc. – sebut saja demikian – pijat sudah jadi kebutuhan. Dua minggu sekali pejabat teras di salah satu BUMN di lingkup pertambangan dan energi ini melemaskan otot-ototnya yang kaku di salah satu panti pijat tunanetra di kawasan Kampung Melayu, Jakarta. Kebiasaan ini sudah ia lakoni sejak hampir 15 tahun lalu. Dalam kurun waktu itu ia merasakan badannya tetap fit. Tidak sedikit orang yang memanfaatkan pijat, apa pun jenis pemijatan itu, sebagai salah satu cara agar tetap bugar seperti halnya Pramana.

Akan tetapi khasiat pijat tak cuma membuat badan segar. Para ilmuwan dari Touch Research Institute di Universitas Miami mengklaim, pijat bisa mengurangi rasa sakit pada penderita migren (salah satu jenis sakit kepala). Kesimpulan itu diambil setelah mereka melakukan percobaan pada 26 pasien yang menjalani pemijatan kepala dua kali seminggu selama lima minggu. Maria Hernandez-Reif, Ph.D., juru bicara tim peneliti, menyatakan, “Sebagian pasien berhenti berobat di tengah jalan. Sedangkan sepertiganya berkurang rasa sakitnya.”

Di pusat riset pemijatan yang didirikan tahun 1992 itu, pijat juga dipercaya bisa mengurangi stres kerja, dan sebaliknya meningkatkan unjuk kerja. Untuk sampai pada kesimpulan itu, para ahli kembali mengamati 26 orang. Mereka mendapatkan pemijatan dua kali seminggu selama 15 menit dalam kurun waktu lebih dari lima minggu.

Seusai sesi pemijatan pertama, terjadi perubahan pada gelombang otak yang membuat kewaspadaan bertambah tinggi dan meningkatnya kemampuan dalam memecahkan soal matematika. Sedangkan pada akhir periode pemijatan terjadi penurunan stres kerja diikuti dengan mood (suasana hati) yang lebih santai.

Gara-gara asam laktat
Pemijatan bisa menurunkan rasa sakit pada penderita migren dan juga melonggarkan stres, agaknya belum diketahui benar. Yang pasti, berdasarkan pengalaman empiris Hariono, pemilik griya pijat Bersih-Sehat di Jakarta, stres memang bisa dikurangi dengan pemijatan. “Soalnya, kalau kita stres, semuanya tegang. Kondisi ini akan berpengaruh pada fisik. Dengan pemijatan sekujur tubuh, titik-titik tubuh yang tegang dirangsang agar pulih seperti sedia kala,” katanya.

Perasaan tegang atau capek di badan adalah indikasi menumpuk asam laktat, atau asam susu, di otot. Asam laktat ini timbul pada proses pembakaran di dalam otot yang aktif. Dalam kegiatan ini selain dihasilkan energi juga didapat sisa pembakaran, yaitu berupa asam laktat itu. Makin lama aktivitas dijalankan, energi yang dihasilkan semakin kecil sementara sisa pembakaran berupa asam laktat itu justru menumpuk. Penumpukan asam laktat inilah yang menyebabkan rasa lelah atau capek. Secara fisik, otot yang lelah terasa lebih kaku dan keras. Jika dipegang tidak terasa elastis dan tidak rileks.

Otot yang tidak rileks akan mengganggu alat-alat tubuh, misalnya pembuluh darah vena atau arteri. Juga pembuluh limpa dan persarafan. Bisa jadi pembuluh darah tertekan atau saraf-saraf terjepit. Akibatnya, peredaran darah menjadi kurang lancar dan saraf menjadi kurang sensitif. “Sebenarnya, rasa capek itu bisa hilang dengan istirahat. Tetapi dengan pemijatan, proses pengeluaran sisa-sisa pembakaran ke dalam aliran darah dipercepat. Dengan begitu pemulihannya pun akan lebih cepat,” papar Soetrisno, pengajar teori dan praktik pijat pada Fakultas Pendidikan Olahraga Kesehatan IKIP Jakarta.

Dalam pandangan Elliot Greene, ketua American Massage Therapy Association, pemijatan mempengaruhi tubuh secara keseluruhan. Di antaranya, meningkatkan sirkulasi darah dan aliran limpa. Sirkulasi limpa tidak seperti darah, sehingga perpindahannya sangat tergantung pada kontraksi otot. Pemijatan secara nyata bisa mendongkrak perpindahan cairan limpa atau getah bening.

Pemijatan juga akan mempengaruhi kondisi kulit lantaran peningkatan fungsi minyak yang menjaga kulit tetap bersih dan sejuk. Pemijatan juga bisa membuat kulit kaku menjadi lembut.

Sembuh seketika
Secara umum ada enam tujuan pemijatan. Pertama, untuk stimulasi, ditujukan terutama bagi orang yang merasa letih dan mengalami kebosanan sehingga tubuh perlu “diisi” kembali. Kedua, dengan tujuan relaksasi, cocok untuk mereka yang terkena beban kerja berat. Ketiga, untuk menjaga kesehatan. Keempat, untuk pencegahan penyakit. Kelima, untuk maksud memompa kondisi fisik, dan keenam untuk rehabilitasi, terutama bagi mereka yang cedera.

Di Indonesia pijat stimulasi dengan tujuan menghilangkan rasa capek sudah digandrungi sejak lama. Dalam sistem Swedia pijat jenis ini disebut sport massage yang bisa diberikan kapan saja. Misalkan saja, tanpa harus menunggu besok atau lusa, sehabis berolahraga berat bisa langsung dipijat.

Menurut Soetrisno, rasa sakit pada otot lantaran capek bisa langsung hilang sesudah pemijatan. “Bukannya sekarang dipijat tetapi enaknya baru besok atau lusa. Kalau tadinya nggak bisa mengangkat tangan, sehabis pijat harus bisa langsung diangkat. Kondisi sembuh seketika inilah yang menjadi ukuran keberhasilan pemijatan,” paparnya.

Ihwal frekuensi pemberian pemijatan agaknya tak penting benar, sebab bisa diberikan kapan saja dan di mana saja tanpa perlu khawatir akan membikin otot jadi lumer atau loyo. Tetapi selama prinsip pemijatannya benar, lo!” kata Soetrisno yang mulai praktik memijat sejak tahun 1961.

Bukti empiris bahwa otot tidak akan loyo bila dipijat dialami oleh Paimo San. Ini panggilan akrab warga asal Jepang yang punya hobi berat menjalani pijat di Bersih-Sehat. Setiap hari selama bertahun-tahun Paimo San minta dipijat di satu tempat saja, yaitu bagian punggung. Agaknya, ini konsekuensi dari kegandrungannya bermain hoki selain sebagai guru tetap olahraga di Japan International School, Jakarta. “Ia merasa, sehabis pijat bisa langsung tidur dan kembali segar,” papar Hariono yang punya empat buah griya pijat di Jakarta.

Cuma harus diingat, pemijatan jangan sampai meninggalkan bekas biru-biru di kulit alias njarem, kata orang Jawa. Atau malah orang yang dipijat bertambah sakit. Kalau ini yang terjadi, menurut Soetrisno, teknik pemijatannya yang salah. Soalnya, pemijat yang baik bisa menakar besarnya tekanan pemijatan dengan menggunakan perasaannya dan respons dari pasien yang dipijat.

“Kalau kita tekan terasa sakit, ya dikurangi. Jadi, tekanan harus disesuaikan dengan kondisi otot yang dipijat. Selama orang yang kita pijat masih mampu menerima tekanan-tekanan yang kita berikan, maka kira-kira pasnya ya di situ,” papar Soetrisno yang berpengalaman memijat atlet bulutangkis putra Indonesia pada era Tan Yoe Hok, Rudy Hartono, sampai Liem Swie King ini.

Sementara itu, lama-tidaknya pemijatan sangat tergantung pada postur tubuh seseorang serta keras-lunaknya otot. Jika otot belum mengalami perubahan, waktu pemijatan seharusnya ditambah. Pemijat yang berpengalaman tahu kapan harus mengakhiri pemijatan.

Enak sampai ketiduran
Menurut Soetrisno, ada sembilan cara dasar pemijatan, yakni menggosok (effleurage), memijat-mijat (petrissage), mengguncang-guncang (shaking), memukul-mukul (tapotement), menggerus (friction), menggosok melintang otot (walken), menggeser lipatan kulit (skin rolling), menggetarkan (vibration), dan mengurut (stroking).

Dalam pelaksanaannya pemijat akan melakukan variasi cara pemijatan, tergantung pada kebutuhan. Setiap cara memiliki manfaat yang berbeda. Misalnya, teknik pukulan. Rangsangan yang berupa pukulan itu akan diterima oleh saraf-saraf yang ada di kulit dan diteruskan ke otot sehingga otot itu menjadi lebih aktif.

Di griya pijat Bersih-Sehat pemijatan menggunakan cara yang sudah baku. Mula-mula dengan pemijatan dari kaki hingga leher. Bila pelanggan merasa pusing, pemijatan bisa sampai kepala. Menyusul pengurutan mulai dari kaki hingga leher. Tahap akhir berupa pengompresan dengan air hangat. “Setelah itu saya merasa seperti baterai yang habis di-charge (diisi setrum lagi – Red.),” kata seorang pelanggan mengungkapkan pengalamannya.

Soal adanya kekhawatiran jangan-jangan nanti jadi ketagihan bila sering-sering dipijat, Hariono yang juga hobi pijat ini melihat “ketagihan” itu cuma karena faktor psikis saja. Buktinya, ia pernah mengalami hal itu ketika sedang berada di luar negeri. Keinginannya untuk pijat kandas lantaran tak ada tukang pijat seperti di Tanah Air. “Ternyata nggak apa-apa, tuh,” katanya. Sementara Soetrisno lebih melihat, perasaan mengenakkan saat dipijat yang membuat orang ketagihan.

Apakah pemijatan rutin bisa meningkatkan kebugaran? “Harusnya begitu,” tandas Soetrisno. Soalnya, peredaran darah akan menjadi lancar. Otot pun menjadi lebih enak. Dengan begitu badan jadi lebih gesit dan lincah.

Dalam Massage Therapy for Health and Fitness, Elliot yang berpengalaman 25 tahun sebagai terapis dan instruktur pijat menandaskan, pemijatan akan meningkatkan kapasitas oksigen dalam darah sampai 10 – 15%. Karena sel tubuh tergantung pada melimpahnya pasokan darah, akibatnya secara keseluruhan badan menjadi lebih sehat.

Nah, tunggu apa lagi! (G. Sujayanto)

Dikutip dari : Intisari, Indomedia.com