Di Malang, di kampung kampung khusunya masih banyak, dan ternyata di Jakarta pun juga ada.. yang sedang trend sekarang ini adalah pijat refleksi

Pijat refleksi termasuk suatu terapi pelengkap atau alternatif berupa pemijatan daerah atau titik refleks pada telapak kaki atau tangan. Namun, umumnya pemijatan dilakukan pada telapak kaki. Alasannya, telapak kaki lebih peka dibandingkan dengan tangan karena tangan lebih sering beraktivitas sehingga berkurang kepekaannya. Di samping itu, telapak kaki lebih luas, dan karena itu jarak antartitik pemijatan lebih jauh. Kalau di tangan titik-titik pemijatan terlalu saling berdekatan, sehingga bagi orang awam lebih sulit dipelajari.Menurut teori refleksologi, titik-titik refleks di telapak kaki berhubungan dengan seluruh organ tubuh, mulai dari kantung kencing, usus, lambung, hati, ginjal, limpa, pankreas, sampai jantung. Bagian atau titik yang jumlahnya tak kurang dari 70 ini tersusun membentuk suatu peta tubuh di kaki. Kaki kanan berhubungan dengan tubuh bagian kanan, dan kaki kiri dengan tubuh bagian kiri. Dengan peta itu, pemijatan yang berhubungan dengan suatu organ tubuh bisa dilakukan melalui kaki. Bukan cuma gejalanya yang dihilangkan tapi juga penyebab gejala itu. Karena pemijatan melalui titik refleks di telapak kaki inilah, maka terapi pijat ini disebut pijat refleksi.Pijat refleksi telah dikenal sejak beberapa ratus tahun lalu dan dipraktikkan oleh orang-orang Cina dan Mesir. Pada tahun 1920-an William Fitzgerald, dokter THT di Connecticut, AS, menemukan pijat ini dan memperkenalkan kepada dunia kedokteran. Ilmu itu lalu dipopulerkan oleh dr. Starr White di Los Angeles. Sementara kita di tanah air mulai mengetahuinya berkat Hedi Masafret lewat bukunya Good Health for The Future.Penyebaran yang mendunia tersebut tentu tak lepas dari manfaat yang bisa diberikan pijat refleksi. Dengan pijat ini stres, nyeri, dan ketegangan bisa diusir. Kekuatan dan kelenturan pikiran, tubuh, dan emosi bisa ditingkatkan. Tidur bisa lebih berkualitas. Restrukturisasi tulang, otot, dan organ dapat dibantu. Cedera baru dan lama bisa disembuhkan. Konsentrasi dan ingatan dapat ditingkatkan. Bahkan, rasa percaya diri dan harmoni bisa disegarkan.Manfaat pijat refleksi juga diakui oleh dr. H. Herman Soesilo, MPH, seorang dokter yang juga pernah menjabat kepala Dinas Kesehatan DKI Jaya. “Pijat refleksi saja sudah merupakan pengobatan tersendiri. Artinya, penyakit bisa disembuhkan hanya dengan pijat refleksi,” ujar dokter yang selama sepuluh tahun belakangan mendalami dan mempraktikkan ilmu dan jurus pijat ini.Kalau suatu titik dipijat dengan tangan atau alat bantu, dan terasa sakit, maka organ yang berhubungan dengan titik itu mengalami gangguan fungsi. “Umpamanya, fungsi hati seseorang kurang baik, maka titik hati pada telapak kaki atau tangan akan terasa nyeri bila dipijat. Organ yang terganggu itu belum tentu sakit, tapi fungsinya agak kurang beres. Boleh dibilang organ itu malas atau kurang baik menjalankan tugas, sehingga mengganggu kesehatan (secara keseluruhan),” jelas dr. Herman. Kalau titik itu dipijat terus secara teratur hingga nyeri tidak terasa lagi, itu pertanda si organ sudah pulih kembali.Ada dua metodeMetode pijat yang berkembang di tanah air berasal dari dua sumber. Metode pertama dari Taiwan, yakni memijat daerah refleks memakai jari tangan. Caranya, dengan menekan buku jari telunjuk yang ditekuk pada zona refleksi. Metode kedua diperkenalkan oleh Benjamin Gramm dengan mempergunakan alat bantu berupa stick kecil untuk menekan zone refleksi seperti dianut dr. Herman dan Yakob, yang juga anggota pertama dari International Association of Natural Healing. Memurut dr. Herman, dengan alat bantu pijatan yang dilakukan bisa lebih kuat, tepat sasaran, dan tidak melelahkan. “Berat juga kalau memakai jari. Apalagi bila dalam sehari ada beberapa orang yang ditangani,” jelasnya. Di ruang praktiknya, dr. Herman mempunyai alat pijat yang terbuat dari kayu dua buah, masing-masing untuk orang dewasa dan anak-anak. Yang besar, untuk orang dewasa, berbentuk V sehingga ergonomis untuk dipegang dalam memijat. “Seperti megang ulek-ulek,” ungkapnya. Sedangkan untuk anak-anak lebih kecil lagi.Bagi para terapis yang memijat dengan jari tangan, saat memijat akan terasa ada semacam butiran-butiran pasir bila pada organ yang dipijat ada kelainan. Sayangnya, tidak terungkap “pasir” itu berasal dari mana. Kalau “pasir” itu sudah tidak terasa kala dipijat, berarti sudah baik. Tentu saja, perbedaan rasa ini tidak dirasakan bila terapis menggunakan alat bantu dalam memijat.Arah pemijatan tidak boleh sembarangan, harus mengarah ke atas menuju jantung, mengikuti arah aliran darah. “Saya menyarankan pasien untuk memakai kaus kaki agar enak sewaktu dipijat dan tidak bikin lecet telapak kaki. Pengurutannya jadi licin,” kata Yakob. Bisa pula dengan mengoleskan minyak. Sementara itu dr. Herman tidak mensyaratkan apa-apa.Kedua metode di atas, dengan ujung jari atau alat bantu, telah berkembang di Eropa dan Amerika. Keduanya sama-sama bermanfaat untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit. Dengan pijat ini, organ tubuh selalu dibuat siaga atau daya tahannya selalu dalam keadaan prima. Caranya? “Kita harus rutin menjalani pijat refleksi supaya organ dan daya tahan siap terus. Jadi, dengan dipijat terus, organ dirangsang dan dipacu terus,” jelas dr. Herman.Menurut pengalaman dr. Herman, cara ini juga bisa menyederhanakan cara pengobatan. Pijat refleksi bisa membantu dokter yang mau menjalankan pengobatan kedokteran dengan cermat dan langsung mengetahui organ yang kurang baik kerjanya. “Menurut pengalaman dan keyakinan saya, terapi ini bisa disejajarkan dengan pengobatan kedokteran, paling sedikit bisa dijadikan pelengkap ilmu kedokteran,” kata dokter senior ini dengan suara perlahan tapi meyakinkan.Bahkan di Amerika, kerja sama antara dokter dengan ahli pijat refleksi sudah sangat erat. Misalnya, dokter bisa minta dibantu mengecek apakah benar organ tertentu mengalami gangguan. Atau, kalau ahli pijat tidak sanggup menyembuhkan pasien karena penyakitnya terlalu berat, dia bisa mengirimkan pasiennya ke dokter. Jadi di Amerika tidak terjadi persaingan di antara keduanya, karena masing-masing mengakui kemampuan dan kekurangan profesinya. Di AS terapi refleksologi juga terdaftar di dinas kesehatan, dan seorang terapis perlu izin untuk buka praktik.30 menit sekali pijatPijat refleksi bisa diterapkan untuk semua orang, dari bayi sampai orang tua, dan bisa dilakukan semua orang. Siapa saja bisa melakukan pijat sendiri setelah belajar beberapa kali. Namun, kalau yang menjalankan seorang dokter, hasilnya mungkin bisa lebih baik. Sebab, dokter bisa menangani pasien dengan dua cara yang bisa dipadukan dan melengkapi satu sama lain.Saat ini buku penuntun pijat refleksi sudah banyak ditulis, baik oleh perawat, dokter, maupun ahli pijat refleksi. Bukunya juga macam-macam, dari yang ilmiah sampai yang sederhana sehingga mudah dimengerti oleh orang awam. Penganutnya pun dari berbagai macam profesi, dari orang awam sampai dokter hewan.Mengapa mereka menyukainya? Karena manfaat pijat langsung dirasakan. “Saya sendiri melakukan pijat refleksi secara teratur. Paling tidak saya merasa fit atau segar terus,” demikian diakui Yakob maupun dr. Herman.Selain itu, pijat refleksi juga bisa membantu menghilangkan depresi dan penyakit-penyakit emosi lainnya. Buktinya, kaum wanita di Inggris beberapa tahun belakangan mulai banyak mendalami ilmu pijat ini. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh International Journal of Alternative and Complementary Medicine pada November 1996, para wanita yang menderita stres dan depresi merasa ada perbaikan setelah menjalani terapi pijat refleksi selama 30 menit setiap minggu.Sebenarnya, lama terapi tergantung pada tujuan dan jenis gangguannya. Kalau gangguannya berat, harus dilakukan berulang-ulang sampai rasa sakit pada titik itu hilang. Kekuatan pemijatan tergantung pada toleransi yang dipijat. Terapis memang harus bisa mengira-ngira agar pasiennya tidak terlalu merasa nyeri. Kalau kelihatan kesakitan, tekanan pemijatan dikurangi. Atau, pemijatan dialihkan ke titik-titik yang lain, baru nanti kembali lagi. Penentuan kekuatan pemijatan ini memang perlu dilakukan secara hati-hati. Kalau terlalu kuat, bisa-bisa kena pembuluh darah dan membuat memar. Jika pelaku terapi seorang dokter, tentu ia lebih tahu daerah-daerah yang dilewati pembuluh darah sehingga bisa menghindari tempat itu.Teoritis, terapi ini bisa untuk menyembuhkan segala penyakit, termasuk penyakit infeksi. “Infeksi ‘kan terjadi akibat badan dalam keadaan lemah. Badan tidak sanggup menghadapi kuman. Kalau dipijat refleksi, kesanggupannya dinaikkan. Sebenarnya zaman dulu ‘kan tidak ada obat. Tapi toh orang bisa survive. Artinya, kembali ke orang itu sendiri menggunakan daya tahannya. Nah, daya tahan ini dinaikkan dengan pijat refleksi, karena semua organ jadi dalam keadaan siaga, kerja samanya juga lebih sempurna sehingga efeknya lebih besar untuk melawan serangan kuman,” jelas dr. Herman. Pijat refleksi makin efektif apabila ditunjang dengan asupan makanan yang sehat, cara kebiasaan hidup yang baik, dan cukup berolahraga.Semua orang tentu ingin senantiasa sehat. Berbagai cara untuk mencapainya bisa dipilih. Apabila cara itu tidak berdampak negatif, tak ada salahnya kita mencoba. Tapi, setiap orang tentu saja perlu mengetahui reaksi tubuhnya masing-masing. Kalau suatu terapi dirasakan cocok, bisa diteruskan. Kalau tidak, cukup sampai di sini saja.

SO, do u still choose “pijat” way?

Dikutip dari : antovincent.multiply.com