Desember 2007


BERMULA dari penunjukannya sebagai pengurus Seksi Pengembangan Obat-obatan Tradisional pada Yayasan Parapsikologi (YPS) tahun 1984, Darmowasito yang kini berusia 75 tahun masih setia mendalami pengobatan melalui apotek hidup. Tanaman obat yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 itu “berserakan” di halaman rumahnya yang asri dan sejuk di Mojoroto Gang III Nomor 9, Kota Kediri. Baik di depan maupun belakang terdapat aneka tumbuhan termasuk yang jenis langka.

Sebut saja daun Tempuyung atau Sonchus arvensis l. “Saya menjamin tidak banyak orang tahu tentang daun ini, termasuk kegunaannya. Tetapi saya katakan, daun ini kalau dikeringkan sangat manjur untuk obat batu ginjal,” ujarnya kepada Kompas di kediamannya belum lama ini.

Daun Sambungnyawa yang banyak ditanam masyarakat juga tidak banyak yang tahu khasiatnya. Namun, ketika berada di tangan sang “apoteker” kebun yang bernama kecil Saelan itu dapat dijadikan pelengkap untuk ramuan obat bermacam penyakit. Salah satunya menurunkan tekanan darah tinggi.

Contoh lain bila diungkapkan satu per satu akan menyita banyak waktu. Misalnya benalu teh yang khasiatnya sudah kondang sebagai obat antikanker, daun dandang gendis untuk obat kencing manis, juga daun dewa yang berguna untuk pengobatan kanker dan membersihkan darah.

Kiprah Darmowasito dalam pengobatan dengan apotek hidup, diakuinya banyak dipengaruhi posisinya sebagai Seksi Pengembangan Obat-obatan Tradisional YPS itu. Maka ketika yayasan tersebut kini tidak aktif lagi, ayah sembilan anak itu tetap aktif dalam dunia jamu-jamuan.

“Memang setelah saya ditunjuk sebagai pengurus pengembangan obat tradisional, saya langsung mencari pedoman. Baik itu melalui buku-buku, majalah, koran, maupun belajar pada orang yang lebih tahu. Pokoknya, pengetahuan dari mana pun berusaha saya serap,” katanya.

Setelah menerima informasi dari berbagai referensi itu, suami Soemirah itu juga tidak lantas diam saja. Ia segera mencari di mana daun-daun yang dijelaskan itu masih ada dan perburuannya terhadap daun berkhasiat itu tak hanya sebatas Kota Kediri.

Daun dandang gendis misalnya didapatnya di Ngawi, daun Sambungnyawa diperoleh setelah ia bersusah payah mencari hingga di Ponorogo. Meski demikian, ada juga beberapa bahan obat yang diterimanya dari orang-orang yang menyetor ke rumah, salah satunya benalu teh.

Benalu itu dikirimkan penduduk di kaki Gunung Wilis. “Di kaki Wilis pada zaman dulu ada perkebunan teh yang setelah Belanda jatuh, tidak dipelihara lagi. Benalu di tanaman-tanamannya banyak sekali. Dan orang-orang, karena lagi-lagi tidak tahu gunanya menganggap benalu itu tidak bermanfaat. Padahal di sini bisa jadi obat kanker,” jelasnya lagi.

***

KEMAHIRAN Darmowasito mengenali manfaat daun diperkuat kemampuannya dalam pijat zona terapi. Kemampuan memijat titik-titik urat syaraf ini dipelajarinya dari almarhum Wisnu Trimurti, seorang guru pijat tempo dulu.

Sudah banyak pengalaman unik yang dialaminya berkaitan dengan pijat-memijat ini. Pada suatu ketika, di tengah Konferensi Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) di Surabaya, ia bertemu dengan pengurus PWRI asal Trenggalek yang sakit perut. Sampai-sampai, orang ini merintih-rintih terus.

“Saya lalu menawarkan diri untuk memijat dan dipersilakan. Setelah beberapa lama ternyata dia mengaku sakitnya sembuh,” tuturnya. Peristiwa ini bersambung dengan kejadian serupa, termasuk saat berhasil menyembuhkan sakit mertuanya, telah membuatnya makin yakin akan kemampuan yang dimiliki.

Pada akhirnya sampai sekarang, ia melayani pasien dengan dua tipe pengobatan itu. Ramuan jamu apotek hidup atau pijat zona terapi. “Tergantung permintaan pasien. Minta dipijat ya saya pijat. Minta dibuatkan jamu ya saya coba buatkan,” katanya lagi.

Kemampuan itu juga ia praktikkan untuk diri sendiri dan keluarga. Hampir tiap hari, ia memijat kakinya yang kadang sakit untuk sembahyang. Selain itu, ia rajin minum jus wortel, apel, tomat, dan bawang putih.

Alasannya, empat komponen itu semuanya berkhasiat. Terutama bawang putih, yang menurutnya memiliki 22 manfaat. Beberapa khasiat pentingnya antara lain mencegah sakit jantung, membuat napas jadi kuat, mengikis kolesterol, mengatasi hipertensi, mengobati pusing-pusing, serta menormalisasi tekanan darah.

***

SEJAK usia muda pria kelahiran Kediri 27 Februari 1927 ini sudah sering aktif dalam berbagai organisasi. Misalnya, ia pernah menjadi Ketua Rukun Tetangga (RT) selama 20 tahun, dan pengurus PWRI Kota Kediri selama 15 tahun.

“Bahwa saya bisa hidup sehat di usia 75 tahun seperti sekarang, semua adalah berkah Tuhan. Saya sangat mensyukuri semua ini,” katanya.

Seakan seiring dengan pepatah “air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”, empat anaknya mengikuti jejak sang ayah, berkiprah di dunia kesehatan dengan menjadi dokter. Seorang menjadi dokter hewan, tiga lainnya dokter spesialis, masing-masing spesialis mata, kebidanan-penyakit kandungan, dan radiologi.

Tadinya, ia sempat khawatir dengan pembiayaan sekolah kesembilan anaknya. Terlebih lagi empat di antaranya kuliah di fakultas kedokteran, padahal ia dulu cuma guru Sekolah Rakyat (kini Sekolah Dasar).

Namun, berkat perjuangannya yang pantang menyerah, semua itu dapat terlalui. “Saya memang habis-habisan agar anak-anak dapat tetap sekolah. Waktu tugas di Sorong, Irian Jaya, saya berusaha sambilan dengan beternak ayam petelur dan jual nasi. Yang penting halal,” ungkapnya lagi.

Menjalani hari tuanya, Darmowasito mengaku bahagia karena tetap dapat sibuk bekerja. “Kegiatan saya meramu jamu dan memijat untuk mereka yang datang karena sakit, membuat saya tetap punya aktivitas. Tidak stres karena cuma thenguk-thenguk (duduk-duduk Red) saja sepanjang hari,” kata Darmowasito, sembari memandangi halamannya yang penuh tanaman obat. (ADI PRINANTYO)

Jakarta, Kompas – Sekalipun pelayanan kesehatan modern telah berkembang di Indonesia, jumlah masyarakat yang memanfaatkan pengobatan tradisional tetap tinggi. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2001, 57,7 persen penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri, 31,7 persen menggunakan obat tradisional, dan 9,8 memilih cara pengobatan tradisional.

Hal itu dikemukakan oleh Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Azrul Azwar saat berbicara pada Seminar Kajian Kesehatan dengan tema “Berbagai Pengobatan Alternatif” di Jakarta, Rabu (6/4).

Menurut Azrul, kini terjadi pergeseran pola penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif. Masyarakat pun berusaha keras mencari kesembuhan. Meningkatnya minat kembali ke alam (back to nature) membuat masyarakat mencari pengobatan tradisional sebagai alternatif.

Pengobatan tradisional adalah cara pengobatan atau perawatan yang diselenggarakan dengan cara lain di luar ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan yang lazim dikenal, mengacu kepada pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperoleh secara turun-temurun atau berguru melalui pendidikan, baik asli maupun dari luar Indonesia.

Pengobatan tradisional adalah upaya kesehatan yang diselenggarakan dengan cara tradisional untuk meningkatkan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), kuratif (penyembuhan), dan pemulihan.

Pengobatan tradisional bisa dilakukan dengan menggunakan obat-obat tradisional, yaitu bahan atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Ramuan asli berasal dari Indonesia, gurah, ular kobra. Ramuan asing seperti aromaterapis, terapi bunga, sinshe umum, sinshe khusus: kanker, hemorrhoid, narkoba.

Selain itu juga bisa memakai bantuan pengobat tradisional yang keahliannya diperoleh secara turun-temurun, berguru, magang, atau mengikuti pendidikan/pelatihan.

Berbasis keterampilan

Pengobat tradisional umumnya berbasis pada keterampilan. Keterampilan asli Indonesia seperti pijat/urut, pijat tunanetra, patah tulang, khitan, dukun bayi, tukang gigi. Sedangkan keterampilan asing umumnya pijat refleksi, akupresur, shiatsu, pijat Qigong, pijat ala Thai, touch for health, akupunktruis, spa terapis.

Jumlah pengobat tradisional di Indonesia yang tercatat menurut Azrul cukup banyak, yaitu 280.000 pengobat tradisional dan 30 keahlian/spesialisasi.

“Namun, pendekatan pengobatan tradisional lewat ajaran agama dan supranatural di Indonesia sebenarnya kurang menguntungkan karena bisa menimbulkan apriori. Kalau begini terus, perkembangan pengobatan tradisional Indonesia akan tertinggal dari negara lain karena tak ada penelitian mendalam,” ujar Azrul.

Tumbuhan obat

Menurut Hembing yang dikenal sebagai pengobat tradisional, manajemen dalam pengembangan tumbuhan obat di Indonesia kurang berkembang sehingga masih ketinggalan dengan negara-negara lain. Apalagi sarana pendukungnya juga masih sangat kurang.

Peralatan Resonansi Magnetik Inti (NMR) yang sangat berguna bagi peneliti kimia bahan alami, misalnya, hanya dimiliki oleh Universitas Indonesia (Jakarta), Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), Universitas Airlangga (Surabaya), Institut Teknologi Bandung, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Itu pun kekuatan magnetnya sangat kecil, hanya 60-90 MHz. Jauh lebih kecil dari NMR di China, Korea, dan Jepang yang medan magnetnya hingga 400 MHz.

Selain itu, dukungan pemerintah terhadap perkembangan pengobatan tradisional masih dirasa kurang. (LOK)

Need relief from tsunami relief? Klinik Fakhriah, Traditional Acehnese Massage Center provides foot reflexology, body massages and traditional body scrub. No need to bring anything. We suplay shower, towel, and sarong. Spoil yourself while supporting an Acehnese family business.

IKLAN menggoda itu tertempel di berbagai tempat strategis. Di lembaga internasional tempat relawan asing bekerja, posko lembaga swadaya masyarakat, bahkan juga di media center-pusat informasi pascatsunami.

Tanpa iklan mungkin orang takkan ke Klinik Fakhriah. Maklum, meski berada di kawasan Sudirman, Banda Aceh, tempat banyak lembaga asing berkantor, klinik di Jalan Sudirman VII No 76 itu terselip di gang kecil. Thia, yang nama dan nomor ponselnya tercantum di iklan, harus memandu. “Ada tulisan di tembok di samping gang,” katanya.

Setelah bolak-balik menyusuri jalan, barulah gang yang dicari ketemu. Tulisan kecil di tembok tak tampak karena tertutup tanaman di seberang jalan. Masuk 300-an meter, di sisi kiri tampak rumah sederhana dengan spanduk di atasnya. “Maaf ya, sepatu dilepas di depan,” ujar Thia.

Di ruang belakang, segelas sirup sudah menanti. Setelah berganti sarung dan cuci kaki, barulah ritual utama berlangsung. Dari pijat refleksi, pijat badan, bekam (memasang gelas panas di punggung), lulur, sampai mandi sauna. Uap panas dialirkan dari dandang di atas kompor minyak.

Di ruang berukuran empat kali tiga meter, dua tempat tidur tersedia dengan sekat kain putih. Di belakang, ada kamar lebih besar, diisi tiga tempat tidur. Seprai bergaris yang menutupinya masih dilapisi selembar kain batik yang selalu diganti. Amat sederhana, tapi semuanya bersih

“Kami sudah 10 tahun membuka usaha ini. Setelah bencana, kami sempat tutup dua minggu. Semua panik mencari keluarga. Saya juga mengungsi ke Bireuen,” kata Thia sambil memijat, ditemani Linda. Setiap tamu-mereka menyebutnya pasien-memang dilayani dua orang.

Beruntunglah Klinik Fakhriah tak dihajar tsunami. Kakak Thia yang sudah berkeluarga selamat meski kehilangan rumah. Mereka mengungsi di Klinik Fakhriah, sehingga klinik kini ramai dengan celoteh dan tangisan anak-anak. “Sebenarnya pasien terganggu. Tapi mau bagaimana lagi,” katanya

THIA belajar memijat dari kakaknya yang juga pemilik klinik, Fakhriah (31). “Alhamdulillah, adik-adik perempuan saya tidak cuma pandai memijat, tetapi juga sudah sarjana semua,” katanya.

Thia yang sudah tujuh tahun di Klinik Fakhriah, adalah sarjana ekonomi lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. “Tapi saya masih ingin di sini. Soalnya, bahasa Inggris saya belum bagus,” katanya lebih lanjut.

Fakhriah sendiri belajar pijat dari pemilik tempat kerja pertamanya ditambah pendalaman seni pijat dari ahli refleksiologi China. Ia sempat merantau ke Jakarta, sebelum kembali ke Banda Aceh dan membuka kliniknya sendiri.

Pascatsunami, ia sempat panik tak ada pasien. “Saya sempat berpikir pindah ke Medan atau Jakarta, apalagi sekarang harus menanggung makan 15 orang termasuk keluarga kakak yang mengungsi,” tutur ibu satu anak ini.

Untung ada Daniel, karyawan lembaga PBB asal Kanada. “Ia meyakinkan saya, bahwa kami tak akan kekurangan pasien,” katanya.

Daniel pula yang membantu membenahi manajemen klinik, membelikan dua tempat tidur, handuk, dan sarung, selain membuatkan selebaran berbahasa Inggris. Prosedur perawatan-dalam bahasa Inggris-ditempel di ruang tamu dan di depan kamar mandi.

Kalau sebelum tsunami pasien hanya 3-4 orang tiap harinya, kini bisa 12 orang, 70 persennya tamu asing. Klinik yang buka pukul 08.00-21.00 itu tak pernah sepi. Fakhriah menerapkan sistem bagi hasil. Dari tamu asing yang membayar Rp 150.000 dan tamu lokal Rp 100.000 untuk perawatan komplet, 35 persen jadi hak pegawai. Makan dan penginapan pegawai ditanggung Fakriah.

Seusai menjalani perawatan 1,5 jam, badan pun terasa segar. Apalagi tertulis di prosedur “no hanky panky”, tak ada yang macam-macam di sini. Anda lelah? Silakan pijat di sini. (Agnes Aristiarini)

Banyak orang enggan bermain-main dengan listrik. Alasannya simpel, takut kesetrum.

Namun, di tangan seorang penyembuh, setrum listrik yang bisa bikin badan gosong itu dapat diubah menjadi medan magnet terukur untuk menyembuhkan beragam penyakit, bahkan meningkatkan fertilitas dan vitalitas tubuh

Tjandra Hariyanto (53) bukan karyawan atau rekanan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tapi di mata para mantan pasiennya, keahlian Tjandra tak kalah dengan tukang listrik paling jago sekalipun.

Di tempat praktiknya, sebuah klinik di bilangan Harco Elektronik, Mangga Dua Plaza, pria yang pernah berguru ilmu akupuntur di Korea tahun 1989 ini membuka layanan “pijat magnetik” untuk menyembuhkan sejumlah penyakit.

“Pijat magnetik” versi Tjandra itu gabungan akupunktur dengan pijat refleksi. Ia sengaja tidak menerapkan ilmu akupuntur secara murni, karena katanya, kebanyakan pasien merinding jika melihat jarum. Dia juga tidak melakukan pijatan langsung, seperti lazimnya pemijat refleksi yang terkadang membuat pasien kesakitan.

Lewat pijatan magnetiknya, Tjandra ingin pasiennya tidak merasakan sakit berlebihan. Sebaliknya, “Mereka merasa santai dan nyaman. Pengobatan pun berlangsung efektif, karena langsung bisa dirasakan khasiatnya,” sebut Tjandra, yang sempat mengenyam pendidikan di fakultas teknik sebuah universitas swasta, tapi akhirnya lebih memilih bidang pengobatan alternatif sebagai jalan hidup.

Penjaga keseimbangan

  • Teorinya, apa yang dilakukan Tjandra mirip ramuan gado-gado. Aspek-aspek teknik akupuntur dan pijat refleksi dicampur jadi satu.

Dengan menggunakan energi magnetik, ia menstimulasi atau merangsang titik-titik akupunktur di telapak kaki dan tangan. Tjandra mengklaim, metode terapinya ini sebagaiyang pertama dan satu-satunya di Indonesia.

“Teknik ini saya pilih karena efektif, praktis, dan efisien. Bagi yang badannya capek, misalnya, bisa langsung segar lagi,” ujar Tjandra.

Saat mendiagnosis penyakit pasien, ia cukup mengajukan sejumlah pertanyaan. Misalnya, apakah kepala terasa sakit atau berat sebelah, pundak dan leher terasa kaku, tenggorokan terasa kering, perut kembung, pinggang pegal-pegal, atau kualitas tidur kurang.

“Jika salah satu keluhan tadi ada dalam daftar, berarti ada yang tidak beres dalam sistem tubuh. Ketidakberesan itulah yang perlu diterapi,” imbuh Tjandra. Dengan kata lain, terapi magnetik versi Tjandra ini fungsinya lebih pada penyeimbangan sistem saraf tubuh yang “kacau”.

“Pada hakikatnya, tubuh yang sehat punya sistem tubuh seimbang. Keseimbangan sistem tubuh menjadi ’kacau’, jika ada saraf-saraf yang kaku. Biasanya, simpul saraf yang kaku itu menguncup.Nah, kekakuan saraf inilah yang perlu dikendurkan. Setelah diterapi, simpul saraf yang kaku akan mengendur dan mekar kembali. Peredaran darah pun lebih lancar, sehingga otomatis semua organ tubuh bekerja secara baik sesuai fungsinya,” papar Tjandra.

Jika sistem tubuh berfungsi dengan seimbang, orang tidak mudah terserang penyakit. Sebab, tubuh akan memproduksi antibodi dengan baik. Antibodi adalah “obat” untuk melindungi dan menyembuhkan tubuh dari berbagai penyakit, yang secara alami dimiliki tubuh. Dalam sistem tubuh yang seimbang, simpul-simpul sarafnya juga sehat, sehingga dengan sendirinya antibodi terbentuk dengan sempurna.

Lantas, bagaimana cara Tjandra mengembalikan keseimbangan itu?

Dalam ritual pengobatan, yang rata-rata berlangsung sekitar 40 menit, Tjandra menggunakan alat bantu berbentuk kotak. Alat yang disebut stimulator tense itu bertugas mengalirkan arus listrik. Ukurannya 20 x 10 cm, mendapat energi dari baterai sembilan volt. Alat itulah yang “memijat” pasien dengan gelombang magnetik, bukan tangan Tjandra.

Jika diperhatikan, alat bantu itu memiliki tombol-tombol selektor untuk menguatkan atau melemahkan gelombang magnetik yang dialirkan ke telapak tangan dan kaki pasien. Stimulator ini berhubungan dengan kabel yang di ujungnya terdapat alat pemijat, atau lebih tepatnya mata pemijat. Alat itu berperekat berukuran 4 x 5 cm. Mata pemijat selanjutnya direkatkan pada titik-titik saraf di telapak tangan atau kaki, sesuai dengan penyakit atau keluhan pasien.

Namun, perlu diingat, terapi magnetik tidak dianjurkan bagi anak-anak di bawah umur 12 tahun. “Mereka bisa mengalami trauma akibat getaran magnetik. Kalau tidak tahu dan tidak siap, ’kan bisa bikin kaget,” jelas Tjandra, yang tetap menyarankan pasiennya berkonsultasi ke dokter, terutama untuk penyakit kronis yang tergolong berat.

Siap-siap buang gas

  • Sebelum alat pijat dipasang, Tjandra akan mendeteksi telapak tangan dan kaki pasien dengan memijat-mijatnya secara lembut.

Tujuannya untuk melihat berat-ringannya gangguan kesehatan pasien, dari besar-kecilnya benjolan yang ada di telapak tangan. “Semakin kecil atau kurang benjolannya, gangguan kesehatannya juga semakin ringan,” Tjandra sedikit buka rahasia.

Ritual lain yang harus dilakukan sebelum alat pijat mekanik dipasang yaitu membersihkan telapak tangan dan kaki pasien dengan alkohol. “Agar lebih bersih dan steril,” sambungnya. Begitu stimulator disetel, getaran magnetnya akan segera terasa. Awalnya terasa seperti digigit semut. Namun, lama-kelamaan pasien akan merasa nyaman. Tjandra sendiri nyaris “tidak menyentuh” tubuh pasien. Dia hanya menentukan titik-titik yang perlu dipijat sesuai hasil diagnosis awal.

Selain stimulator tense, tersedia juga kursi yang dapat mengalirkan medan magnet. Saat duduk di kursi itu, seluruh sistem saraf yang ada di tulang belakang hingga seluruh tubuh pasien distimulasi. Baik menggunakan kursi maupun stimulator tense, pasien diupayakan senyaman mungkin. Selama 40 menit, mereka dibiarkan duduk santai dan rileks sambil mendengarkan musik instrumental nan lembut.

Sekilas, metode pengobatan yang dilakukan Tjandra terkesan main-main, karena sangat simpel. Namun, siapa sangka, di balik cara sederhana itu, berbagai penyakit dapat disembuhkan. Migren, sulit tidur, asma, asam urat, kolesterol, kencing manis sampai masalah kesuburan masuk daftar penyakit yang pernah ditangani Tjandra. Metode dan alatnya sama, mengandalkan titik pijat refleksi dan setrum, tanpa obat dan sejenisnya yang harus dibawa pulang.

Lamanya penyembuhan tergantung berat-ringannya penyakit yang hendak disembuhkan. Biasanya, dengan dua atau tiga kali datang saja, pasien sudah bisa merasakan manfaat langsung. Badan terasa lebih segar dan fit. Namun, kadang juga bisa lebih lama. Karena proses penyembuhan dilakukan sendiri oleh tubuh, butuh waktu untuk menstimulasi organ, agar berfungsi sempurna. Baru setelah itu, masuk ke tahap penyembuhan penyakit.

Menurut Tjandra, pengobatan yang dipraktikkannya itu aman, meski dia mengakui, tetap ada efek sampingan.

“Sehabis menjalani terapi, biasanya kencing menjadi agak keruh, sering kentut, buang air besar terasa agak lunak, serta mengantuk. Tapi gejala-gejala itu tak usah dikhawatirkan, karena pada dasarnya itu dampak dari terapi yang bertujuan membuat tubuh lebih rileks.”

“Seringnya kentut, kencing menjadi keruh, serta buang air besar agak lunak juga bagian dari proses pembersihan racun dalam tubuh. Efek ini tidak akan berlangsung lama, paling-paling 2 – 3 hari saja. Kalau acara buang gasnya berlarut-larut, bikin risi juga, ’kan? Apalagi kalau sedang berada di tempat umum,” kata Tjandra. “Efek kurang mengenakkan tadi akan diimbangi dengan dampak positif, seperti kulit menjadi lebih kencang dan segar.”

Lalu bagaimana menjaga vitalitas itu, agar badan tak lagi rentan penyakit?

Untuk yang satu ini, Tjandra punya tips. Katanya, jangan minum es sehabis makan nasi, karena es akan mendinginkan suhu. Saat mencerna makanan, tubuh manusia berhawa panas. Ketika minum es, pencernaan kita bakal butuh waktu untuk menyesuaikan suhu, agar es dan makanan bersuhu sama,” tandas pria yang memasang tarif Rp 80.000,- per sekali terapi ini.

Bahayanya, bila perbedaan suhu ternyata terlalu jauh, sistem pencernaan bisa mengalami kram. Keseimbangan sistem tubuh pun “kacau”. Ibarat mesin, selagi panas malah disiram air dingin, ya ngebul. Dianjurkan, sehabis makan nasi, minum teh manis hangat. Selain gula dalam teh manis menambah tenaga, suhunya juga tak berlawanan dengan suhu pencernaan. (intisari)

Sebuah agen pemasaran di kawasan Pantai Barat Amerika Serikat, mendorong karyawannya berhenti bekerja dan istirahat untuk pijat. Sebuah perusahaan keuangan di New York, karyawannya diberi waktu istirahat untuk mengikuti kelas yoga.

Menurut Reuter Health, 9 Juni lalu, belakangan memang semakin banyak perusahaan yang menawarkan kenyamanan pijat dan rileksasi yoga di sekitar kantor kepada karyawannya. Ini tidak sekadar membuat karyawan senang, tetapi supaya mereka makin gigih bekerja dan meningkat daya saingnya.

Program semacam itu — semula dilakukan oleh perusahaan-perusahaan nontradisional, tetapi sekarang dikenal sebagai benteng pertahanan bisnis — membantu karyawan betah bekerja mengingat mereka mudah sekali berpindah tempat kerja dan bahkan pindah ke perusahaan pesaing. “Kami harus melakukan apa pun yang bisa kami lakukan untuk membuat karyawan senang. Persaingan di industri kami saat ini sengit sekali,” tutur Tracy Cote, Direktur PSDM Organic Inc., sebuah agen pemasaran digital di San Francisco yang berafiliasi pada Omnicom Group Inc.

“Ada kemajuan di pasar selama 12 bulan ini. Bisnis kami baik, tetapi pesaing kami juga maju. Ini semua berkaitan dengan recruiting dan retaining karyawan,” tambah Cote.

Semula Organic menawarkan pijat di kantor sekali sebulan dan sesuai permintaan, ditambah menjadi dua kali sebulan. Kini karena sesi pijat itu sangat diminati, perusahaan sedang menimbang untuk menambah lagi menjadi seminggu sekali.

Menurut Meredith Stern dari Infinite Massage di San Francisco, perusahaan memang harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengeruk lebih banyak keuntungan. Kata Stern, program pijat di kantor – yaitu bila sebuah perusahaan embayar pemijat berijazah di salah satu ruangan yang mereka miliki – tampaknya menjadi salah satu faktor yang diinginkan diantara daftar tempat kerja terbaik di AS.

“Dalam perekonomian yang kembali melonjak, kami perhatikan bahwa perusahaan menambahkan pijat sebagai tunjangan tambahan,” ungkap Stern. “Perusahaan-perusahaan berupaya menemukan cara untuk menambah kesejahteraan karyawannya agar mereka betah karena memang semakin susah untuk mengganti seorang kaiyawan.”

Sebuah survei yang dilakukan Massage Therapy Journal mendapati, selama lima tahun belakangan ini semakin banyak perusahaan yang menawarkan program pijat. Hingga Juli tahun lalu, setiap tahun sekltar 47 juta orang Amerika menikmati pijat di kantor atau di luar kantor, menlngkat 2 juta dibanding tahun sebelumnya.

“Argumentasi saya adalah, dalam hal produktivitas, Anda akan memperoleh lebih bila Anda mengizinkan karyawan Anda sedikit menikmati keleluasaan. Dan menggunakannya untuk pijat lebih baik dibanding untuk merokok atau bahkan minum kopi,” sebut Stern. Riset memperlihatkan bahwa pijat bisa menurunkan stres, tekanan darah, dan pegal-pegal. Salah satu penelitian yang dilaporkan di International Journal of Neuroscience bahkan mengungkap, orang yang memperoleh terapi pijat terbukti lebih sigap dan mampu lebih cepat dan akurat dalam menghitung soal-soal matematika.

Permintaan sedang meningkat, tambah Michael Wald dari Namaste New York, yang menawarkan program antistres bagi kantor-kantor. “Yang saya lihat adalah meningkatnya anggaran,” kata Wald, tentang anggaran klien-klien bisnisnya.

“Setiap tahun ada peningkatan, tetapi saya tidak mendapati CEO yang berkata, “Kita memperoleh tambahan keuntungan sekian dolar lagi karena program ini.” Sulit untuk dikuantifikasikan, tetapi yang terlihat, semangat dan atmosfer jadi membaik, rasa tidak peduli dan keausan sikap menjadi berkurang,” ujarnya.

Di Organic, Cote membandingkan nilai pijat dengan kiasan dua orang yang sama-sama harus menebang pohon. “Salah satu dari mereka berhenti untuk mengasah gergaji, dan pohon yang harus dia potong tumbang lebih cepat dibanding penebang yang tidak berhenti menajamkan gergajinya dulu. Persis seperti itulah yang terjadi di tempat kerja,” katanya.

Pijat dulu, ah… @ jjw

Banyak orang melirik pengobatan ala Cina sebagai pengobatan alternatif. Sebagai pengobatan yang sudah dilakukan berabad-abad, pengobatan-pengobatan ini dipercaya bisa menyembuhkn beragam jenis keluhan kesehatan.

CHIKUNG
Chikung atau energi dari pernapasan, dulunya hanya dipelajari terbatas di vihara oleh para pendeta. Tetapi seiring dengan majunya peradaban, ilmu ini menyebar ke masyarakat umum dan dipelajari di berbagai daerah di dunia.  Menurut ilmu chikung, udara yang kita hirup dipercaya mempunyai energi hidup atau chi. Teknik chikung melatih seseorang untuk memaksimalkan manfaat energi untuk kesehatan melalui latihan pernapasan dan gerakan.

Cukup banyak penyakit yang bisa ditangani lewat teknik ini. Mulai migrain, masalah saluran pencernaan, kesuburan, sampai kanker. Bahkan, seorang ahli chikung bisa mengobati orang sakit dari jarak jauh. Energi penyembuhan disalurkan melalui foto dan alamat tinggal si pasien. Sebelum pengobatan pasien harus dalam kondisi tidur dan relaks.

AKUPUNKTUR
Menurut sejarah, akupunktur ditemukan 2000 tahun sebelum Masehi. Pada awalnya teknik ini memakai alat bantu batu runcing atau ranting. Menurut ilmu akupunktur, ada sekitar 365 titik akupunktur dalam tubuh manusia, dan setiap organ tubuh selalu mempunyai hubungan dengan sebagian titik akupunktur itu. Kalau ada bagian tubuh yang sakit, pasti ada sebuah simpul yang bermasalah.

Akupunktur atau tusuk jarum di sini berfungsi menstimulasi titik-titik itu dan melancarkan kembali jalur meridian pada tubuh,” jelas dr. Rachmat, TCM, yang meraih dokter akupunktur dari Cina ini.

Jarum yang dipakai untuk akupunktur memang khusus, dengan ukuran cun. Satu cun sama dengan satu ruas jari, atau sekitar 2 – 2,5 cm. Panjang jarum yang digunakan, lanjut Rachmat, mulai dari 0,5 – 9 cun. Banyaknya jarum yang digunakan saat pengobatan tergantung pada diagnosa dan daerah yang diakupunktur.

Pada dasarnya, menurut Rachmat, hampir semua penyakit bisa disembuhkan melalui teknik ini. Ada penyakit-penyakit yang masuk ke dalam kategori mudah disembuhkan, misalnya nyeri leher, sakit kepala, nyeri perut, sakit waktu haid, dan pegal-pegal. Sedangkan untuk penyakit degeneratif seperti kanker atau penyakit lain hanya bisa membantu meredakan gejala dan memperkuat kekebalan tubuh si pasien. “Salah satu keistimewaan dari akupunktur ini bisa dibilang tanpa efek samping,” tandas Rachmat.

Sekarang, selain untuk kesehatan, teknik akupunktur juga dimanfaatkan untuk melangsingkan tubuh dan kecantikan wajah. Untuk melangsingkan tubuh, yang ditusuk oleh jarum adalah di bagian perut. “Tujuannya untuk meningkatkan kontraksi otot perut, sehingga lemak lama kelamaan akan hilang. Sedangkan akupunktur di wajah dilakukan untuk melancarkan aliran darah di wajah, sehingga wajah terlihat selalu cerah.”

Agar aman, Rachmat berpesan, agar orang yang ingin diakupunktur tidak dalam kondisi lapar atau terlalu letih. Apalagi untuk yang pertama kali melakukan akupunktur. “Pasien bisa shock, dengan gejala keringat berlebih, berdebar-debar, mulut kering dan kepala pusing,” jelas suami dr. Megawati ini. Selain itu, orang yang demam tinggi juga tidak dianjurkan menjalani tusuk jarum. Untuk waktu, Rachmat menyarankan melakukan akupunktur pada pagi atau sore hari.

TUINAL
Jika ingin bugar, bisa coba tuinal atau pijat tradisional Cina. Ada 8 gerakan dasar tuinal, yaitu menggiling, mengelus, memijat, menotok, mencubit, mengurut, menggosok, dan menepuk. Di Cina, ujar Rachmat, tidak ada tukang pijat tuinal, tetapi yang ada dokter tuinal. “Karena untuk memperoleh ilmu pijat tuinal harus menyelesaikan pelajaran setara dengan sarjana,” jelas Rachmat. Sedangkan kalau di Indonesia hanya perlu training selama 3 bulan.

Biasanya mereka yang datang untuk pijat tuinal mengalami keluhan nyeri pinggang, punggung, nyeri pundak, dan kecapekan. Seperti pijat pada umumnya, mereka telungkup dan mulai dipijat dengan gabungan 8 gerakan dasar tersebut. Yang membedakan, lanjutnya, pijat tuinal dimulai dari kepala lalu turun ke kaki. “Mereka yang pijat juga tidak usah buka baju. Pokoknya pemijat tidak menyentuh langsung tubuh mereka,” jelas Rachmat sembari menerangkan bahwa setiap pemijat selalu menggunakan tenaga dalam saat memijat.

TOTOK
Pada dasarnya, metode totok sama dengan metode akupresur, yaitu penekanan pada bagian tubuh tertentu berdasarkan titik meridian dalam akupunktur. Penekanan ini bisa menstimulasi titik-titik tersebut sehingga bisa menyelaraskan kembali fungsi dari bagian tubuh yang dituju.

Totok bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah, relaksasi serta bisa mengurangi depresi. “Transfer bio energi dari si penotok juga mengusir energi negatif serta memperbaiki metabolisme hormonal,” jelas Reina Lintang Asih, pengelola Lellidewi, rumah kecantikan dan kebugaran yang menyediakan layanan aneka totok.

Berdasarkan fungsinya, ada beberapa jenis totok, yaitu totok wajah, payudara, pelangsingan tubuh, dan vagina. Untuk totok wajah, selain wajah yang ditotok, bagian dagu, rahang, leher, kepala dan punggung juga ikut ditotok. “Karena wajah mempunyai kaitan dengan bagian tubuh lain,” jelas presenter acara di stasiun televisi swasta ini.

Sebelum ditotok, wajah dan sekitarnya dipijat dulu untuk relaksasi serta diberi semacam krim skin food untuk kesehatan kulit. Setelah itu, baru dilakukan penotokan. Dari proses relaksasi sampai penotokan membutuhkan waktu sekitar 45 menit.

Metode ini juga bisa dimanfaatkan untuk melangsingkan tubuh. Bagian yang ditotok adalah bagian paha tengah sampai perut, dan juga belakang telinga. Khusus untuk totok ini, selain dilakukan penekanan, juga pencubitan. “Dengan pencubitan, lemak akan luruh dan keluar bersama air seni,” papar Lintang. Sedangkan totok di bagian belakang telinga berfungsi untuk menekan nafsu makan.

Bagaimana dengan totok payudara? Menurutnya, totok payudara bermanfaat untuk mengencangkan otot-otot payudara, bukan membesarkannya. Dengan penotokan, otot-otot payudara dan sekitarnya menjadi lebih kuat karena peredaran darah menjadi lebih lancar. “Proses ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit termasuk relaksasi, totok, dan masker,” jelas Lintang.

Salah satu jenis totok yang jadi favorit belakangan hari ini adalah totok vagina. Walaupun namanya totok vagina, tetapi tempat penotokannya tidak di daerah itu, melainkan di paha, pantat, perut, dan selangkangan.

Menurut, Lintang, totok ini khusus untuk wanita yang sudah menikah dan melahirkan. “Salah satu tujuan totok ini adalah mengembalikan posisi rahim yang turun,” ujar Lintang sembari menegaskan, bahwa totok vagina juga bisa meningkatkan kontraksi daerah intim, sehingga membuat hubungan seks menjadi lebih baik dan berkualitas.

Sumber: Nova

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan dunia pengobatan alternatif, metode penyembuhan reiki bukanlah hal yang baru.

Ilmu yang konon ditemukan di Tibet beberapa ratus tahun yang lampau itu, cara kerjanya adalah mengandalkan energi alam semesta yang ditransfer ke orang yang sakit sebagai pengobatan.

Metode itu pun kini bisa Anda temui di Indonesia. Bahkan jumlahnya sudah banyak.
Salah satunya adalah seperti yang dilakukan Soetresno (52), seorang penghusada reiki yang membuka praktik bersama teman-temannya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Selain menerapkan reiki, Pak Tre, demikian pria kelahiran Surakarta ini dipanggil, juga melakukan terapi pengobatan dengan prana, rileksasi, terapi saraf, dan terapi listrik.

Namun, menurut pengakuannya, Pak Tre cenderung hanya menggunakan reiki dan pijat saraf sebagai metode utama dalam menerapi pasiennya. “Selain dua metode ini saya nilai mudah pelaksanaannya, dengan cara ini pula saya yakin efek pengobatannya lebih terasa bagi pasien,” kata Pak Tre.

Saling Melengkapi

  • Setelah mendengar keluhan pasiennya, Pak Tre akan memulai dengan pijat saraf terlebih dahulu.

Menurutnya, dengan pijat, berarti ia akan membuka terlebih dahulu titik-titik akupuntur dalam tubuh pasiennya.

“Biasanya dari pengalaman yang sudah-sudah, keluhan pasien akan berhubungan dengan titik-titik akupuntur dalam tubuh mereka. Bisa jadi, adanya sumbatan dalam titik itulah yang membuat mereka menjadi sakit,” ungkap wiraswastawan ini.

Menurut Pak Tre, bila saat dipijat pasien merasakan sakit, itu pertanda memang ada penyakit yang harus diobati. “Misalnya untuk pinggang yang sering pegal atau sakit, saya coba memijat pada daerah belakang mata kaki. Sebab, di situ berpusat pengatur saraf yang berhubungan dengan pinggang. Atau kalau bagi pria yang punya masalah dengan (maaf) keperkasaannya, maka titik-titik di sekitar daerah paha bagian dalam yang akan dipijat,” lanjutnya.

Bila dirasakan cukup, artinya semua titik yang berhubungan dengan sumber rasa sakit sudah dibuka, barulah dilakukan terapi berikutnya, reiki. Terapi reiki bisa dikatakan sebagai terapi pelengkap. Setelah titik-titik akupuntur dibuka dan dilancarkan, reiki akan berfungsi menyapu daerah yang tidak terjangkau oleh pijat saraf.

Tidak jarang, Pak Tre juga langsung menerapkan terapi reiki kepada pasien sebagai langkah untuk memudahkan penyembuhan. Namun, baginya, semua penyakit akan ditanganinya dengan serius.

Air Putih

  • Sebelum terapi reiki dimulai, pertama-tama pasien akan diajak oleh Pak Tre untuk berdoa kepada Tuhan.

Tujuannya agar diberikan keringanan dan lebih baik pula berupa kesembuhan. Baru kemudian Pak Tre memulai reiki.

Kedua belah telapak tangan Pak Tre ditempelkan pada bagian tubuh pasien yang mengalami sakit. Pada saat itu pula Pak Tre akan melakukan penyelarasan terlebih dahulu pada pasien.

Perlu diketahui, pada badan manusia terdapat badan halus yang berisikan cakra. Cakra adalah simpul-simpul energi yang ada pada tubuh halus manusia, tempat keluar dan masuknya energi. Bentuknya seperti roda, karena itu disebut cakra.

Dalam tubuh manusia ada tujuh cakra utama, yaitu mulai dari cakra mahkota yang ada di ubun-ubun manusia hingga cakra dasar, yang letaknya di bawah alat vital manusia. Diyakini, dengan penyelarasan cakra itu, antara energi penghusada reiki seperti Pak Tre akan sama dengan frekuensi badan halus pasien.

Dari proses penyelarasan itulah akan terjadi keseimbangan. Keseimbangan inilah yang membuat keluhan sakit pasien akan berkurang.

Ditambahkan oleh Pak Tre, tidak jarang dia menemukan pasiennya yang dianggap sudah peka, sehingga pada saat penyelarasan mereka dapat merasakan energi yang ditransfernya. “Biasanya dia sudah pernah menjalani penyelarasan dengan penghusada lain,” ungkapnya.

Namun, bagi Pak Tre sendiri hal itu tidaklah menjadi masalah. Siapa pun yang pernah berlatih reiki, dari aliran mana pun, bila dia membutuhkan pertolongan, tanpa segan-segan akan dibantunya.

Terakhir, pasien akan diberi air putih yang sebelumnya sudah ditransfer energi reiki. Diyakini, air yang sudah diberi energi itu bisa melarutkan racun-racun dalam tubuh pasien yang belum habis saat direiki. Keluarnya biasanya lewat air seni atau keringat.@ Suharso Rahman

Soetresno
Jl. Tebet Utara IV No.29 Tebet
Jakarta Selatan
Telp. (021)829 1879, 835 0792

Atau:
Jl. Lengkeng III No.9 Harapan Baru
Bekasi Barat 17133
Telp. (021)886 2765
Hp. 08161941167

Laman Berikutnya »