Menjadi pengusada bukanlah cita-cita Nina Radinah Taryaman (70 tahun). Ia sebenarnya seorang penari istana di zaman pemerintahan Soekarno. “Dari tahun 1950 sampai 1965 saya menjadi penari di istana. Setiap acara 17 Agustusan saya menari dengan Gordon Tobing, Sampan Hismanto, Buyeh, dan Wayan di Istana Negara. Karena itu, setiap bulan Juni hingga Agustus, saya selalu latihan menari di istana,” katanya.

Sebelum tragedi G30S di tahun 1965 meletus, pimpinan IAM (Indonesia Artis Manajemen), Usmar Ismail, meminta Nina untuk mengajarkan kesenian Jawa, Sunda, Sumatera, dan Bali pada anak seorang petinggi Jepang yang tinggal di bilangan Prapanca, Jakarta Selatan. Karena tempat tinggalnya waktu itu di Panglima Polim, Jakarta Selatan, Nina menyanggupinya.

Namun, Nina hanya mengajarkan tari Sumatera klasik pada anak petinggi Jepang tersebut. “Pada hari pertama memberi bimbingan, saya melihat dan membaca buku shiatsu tulisan Jepang di rumah orang itu. Secara tak sengaja, petinggi Jepang yang juga ahli shiatsu itu melihat apa yang sedang saya lakukan. Ia lalu bertanya apakah saya tertarik pada teknik pengobatan tersebut,” paparnya.

Nina mengaku tertarik pada isi buku shiatsu itu, yang memuat tentang cara-cara mengatasi amarah dan stres. “Kebetulan ketika itu saya mempunyai sifat gampang tersinggung. Karena itu, setelah memberi bimbingan tari, saya minta dishiatsu olehnya. Hasilnya, badan saya menjadi lebih nyaman,” ceritanya.

Dari pengalaman tersebut, Nina meminta orang Jepang itu mengajarkan ilmu shiatsu sebagai ganti biaya bimbingan tari. Namun, ia hanya tertawa. Jadilah Nina belajar secara otodidak lewat buku shiatsu yang dipinjamnya.
“Uniknya, istrinya sempat berpesan agar saya membantu pasien-pasien suaminya. Katanya, pasien suaminya sangat membutuhkan tangan saya,” tutur istri mantri kesehatan ini.

Setelah itu Nina kerap mempraktikkan keahliannya meski belum membuka tempat praktik khusus. Setelah suaminya pensiun di tahun 1978, barulah Nina memberanikan diri membuka praktik pengoatan.

Dengan keahliannya itu, Nina kerap berpraktik keliling kota, bahkan hingga ke negeri Belanda. Padang, Semarang, Yogyakarta, Bali, dan Singapura, pernah disinggahinya. @