Di Harian Jakarta Post awal minggu ini ada sebuah artikel pendek yang mengisahkan ’pencarian’ seseorang terhadap pemijat yang sekualitas para pemijat ’tempo doeloe’. Penulis itu menceritakan betapa neneknya dulu melanggani seorang pemijat yang sanggup membuat sang nenek tertidur pulas di kasur pijat.

Dalam ’pencarian’-nya, sang penulis sempat ketemu seorang pemijat yang tiap sebentar berhenti untuk mengucapkan mantra-mantra yang tidak dimengertinya. Lalu, lima belas menit kemudian proses pemijatan berakhir. “Saya hanya jadi berminyak, tetapi tidak merasa tubuh saya menjadi lebih bugar,” keluhnya. Untunglah, pada akhir ’pencarian’-nya itu ia menemukan seorang pemijat yang juga sekaligus ahli kecantikan (beautician). Setelah dipijat, ia dilulur dan diberi body wax. Lalu, sambil menunggu wax-nya kering, ia mendapat perawatan kuku tangan dan kaki (manicure dan pedicure).

Wah, membaca kisah itu saya jadi penasaran. Di mana sih menemukan pemijat komplet yang sahih seperti itu? Pemijat khas seperti itu tentulah tidak akan memasang iklan di surat kabar dengan kata-kata yang mengandung ’kode’ tawaran-tawaran tersembunyi.

Tanpa harus membuat pengakuan yang berbasa-basi, perlu saya nyatakan di sini bahwa saya adalah penggemar pijat. Ketika di asosiasi kami dibentuk klub golf, saya yang tidak main golf malah mencari teman untuk mendirikan klub pijat. Saya bahkan pernah menulis ’Kiat’ di TEMPO tentang sebuah tempat pijat sahih (legitimate massage) di Jakarta. Begitu senangnya pemilik panti itu, sampai-sampai tulisan saya dibesarkan dan dipajang dalam bingkai di ruang terima tamu panti. Konyolnya, gara-gara itu banyak teman menyangka saya punya saham di sana. Mau juga, sih. Apalagi sekarang sudah buka cabang di Singapura.

Menurut keterangan beberapa teman sesama penggemar pijat, di Jakarta sudah ada beberapa tempat pijat lain yang juga menawarkan pijat sahih. Saya memang belum pernah merasa perlu untuk mencobanya. Di samping sudah puas dengan panti pijat yang telah kami langgani sejak 1985 itu, kami juga punya Bu Ida asal Madura yang biasa dipanggil ke rumah. Sayangnya, Bu Ida ini sudah terlalu banyak klien-nya sekarang. Daftar tunggunya sangat panjang. Kalau Bu Ida sedang kebanyakan klien, terpaksalah kami ke panti.

Mencari tempat pijat sahih memang merupakan pengalaman tersendiri. Yang jelas, jangan coba-coba memanggil tukang pijat ketika menginap di hotel. Di sebuah hotel di Semarang, saya dan istri memanggil dua tukang pijat sekaligus untuk melayani kami. Kedua tukang pijat itu rupanya kecewa ketika menemui kami adalah pasangan suami-istri yang memerlukan pijat sungguhan. Mereka mengira saya perlu petualangan three-in-one. Tentu saja mereka memang tidak bisa memijat. Baru lima menit, kami terpaksa mempersilakan mereka keluar dengan membayar tarif pijat penuh.

Pijat di hotel hanya bisa dilakukan kalau Anda mengenal seseorang di kota itu yang punya langganan pemijat andal. Pemijat itu lalu dikirim ke hotel untuk melayani Anda. Di Bali, misalnya, ada seorang kenalan yang biasa memanggil tukang pijat urat. Wah, Bu Ketut ini pijatannya luar biasa. Bisa membuat yang dipijat merem-melek karena nikmatnya. Kabarnya, beberapa pejabat dan orang kaya Jakarta sudi membayar tiket pesawat terbang untuk mendatangkan Bu Ketut ke Jakarta. Sekarang saya bahkan sudah tahu rumahnya di Sanur, sehingga kalau memerlukannya bisa saya jemput langsung.

Di Thailand sejak beberapa tahun ini mulai populer apa yang disebut temple massage – pijat kuil. Konon, teknik pijat khas ini dikembangkan di lingkungan kuil Buddha di sana. Pijat kuil ini sama sekali berbeda dengan ’Pijat Bangkok’ yang ditawarkan massage parlors di berbagai kawasan hiburan Bangkok. Bila di Patpong sana pijatnya hanyalah merupakan kamuflase terhadap transaksi seks, maka pijat kuil adalah pijat sahih yang perlu sesekali dicoba.

Saya berkenalan pijat kuil ini pertama kali di Hatyai, sebuah kota kecil di Thailand Selatan. Ketika melakukan perjalanan dinas ke sana pada awal 1990-an, kolega bisnis saya menawari tukang pijat yang bagus. Rasanya, dia memerlukan waktu sepuluh menit untuk meyakinkan saya bahwa tukang pijat yang ditawarkannya itu benar-benar legitimate. Waktu itu dia belum menggunakan istilah pijat kuil – satu istilah yang barangkali lebih mudah untuk meyakinkan saya. Ia hanya menggunakan kata pijat tradisional. Padahal, di Indonesia ini pijat tradisional justru berkonotasi mesum.

Ketika ia mengantar pemijat itu ke kamar saya, kecurigaan saya sempat muncul lagi. Perempuan pemijat itu masih tergolong STW (setengah tua), dan tidak jelek. Penampilannya bersih. Benar sahihkah pijat yang dilakukannya?

Ternyata, perkenalan saya yang pertama dengan pijat kuil itu sungguh-sungguh mengesankan. Selama hampir dua jam ia memijat saya dengan berbagai cara dan teknik pijat yang belum pernah saya alami sebelumnya. Hebatnya lagi, begitu banyak variasi pijatnya sehingga tidak ada manuver yang diulang selama proses itu. Caranya ’melipat’ tubuh untuk mengendurkan serta melemaskan urat dan otot merupakan teknik yang sangat khas pijat kuil. Berbeda dengan shiatsu Jepang. Berbeda pula dengan pijat Tionghoa.

Beberapa kuil di Bangkok mempunyai bangsal-bangsal khusus untuk menerima tamu yang ingin dipijat. Kalau Anda jeli mencari, di beberapa bagian kota Bangkok juga dapat dijumpai panti pijat sahih yang mengkhususkan pada pijat kuil. Tidak sulit sebenarnya mencari tempat pijat sahih. Jangan tanya supir taksi. Beri tahu concierge hotel kebutuhan Anda dengan jelas. Tegaskan istilah legitimate massage dan temple massage.

Acid test-nya juga cukup mudah. Penampilan tempat pijat sahih biasanya sederhana – bare necessities. Pasti tidak ada lampu-lampu neon gemerlap. Pasti tidak ada ’akuarium’ tempat memajang gadis-gadis yang dapat dipilih. Otoritas pariwisata Thailand tampaknya juga serius mempromosikan pijat kuil ini sebagai fenomena baru bagi para wisatawan.

Belum lama ini saya ’bertugas’ menjemput seseorang di bandara Don Muang, Bangkok. Karena pesawatnya ditunda hingga satu setengah jam lebih, maka saya manfaatkan waktu untuk memperoleh pijat kaki (foot massage) di sebuah ruko yang berseberangan dengan bangunan terminal. Keputusan itu tidak pernah saya sesali. Selama satu jam penuh telapak kaki hingga betis saya dimanjakan oleh pemijat yang terampil. Herannya, kok bisa satu jam? Padahal, di tempat-tempat foot massage serupa di Bali biasanya tidak lebih dari 20 menit.

Bondan Winarno
– Penulis –
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Suara Pembaruan yang telah menyinggahi banyak tempat di dunia dan mencicipi hidangan khas tempat-tempat yang disinggahinya. (E-mail: bwinarno@indosat.net.id)