Pijat ala Kalimantan? Mungkin Anda baru dengar. Urat tersumbat yang menghambat peredaran darah adalah sasarannya. Makan ketan adalah pantangan utamanya.

Walaupun punya tampang lumayan untuk jadi pemain sinetron, H. Syahrudin lebih tertarik pada dunia pengobatan, khususnya pijat.

Selama ini orang mengenal pijat sebagai sarana termudah untuk mengembalikan kebugaran. Diyakini, bila dipijat, aliran darah bisa menjadi lancar kembali. Itu sebabnya, bila seseorang merasa pegal, setelah dipijat, dia akan bugar lagi. Bisa jadi aliran darahnya sudah lancar kembali.

Hal itu pula yang diyakini oleh H. Syahrudin (36 tahun), yang mengklaim dirinya sebagai ahli urat dari Kalimantan. Menurutnya, bila seseorang sering mengeluh sakit, bisa dipastikan saluran darahnya mengalami hambatan.

“Orang sering tidak memahami kalau ada hambatan di beberapa titik tubuhnya. Itu yang potensial memperburuk keadaannya hingga menjadi sakit,” ujar pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini.

Dari Kaki
Bagi Syahrudin, penggunaan istilah pijat, urut, atau nama lain yang sejenis, bukanlah masalah. “Yang terpenting adalah penanganan sehingga orang itu kembali mendekati normal, walaupun belum sehat seratus persen,” tuturnya.

Seperti para pemijat kesehatan lainnya, Bang Syahrudin, begitu ia akrab disapa, menjadikan kaki sebagai sasaran pertama. Alasannya, kaki merupakan tempat berkumpulnya titik yang menghubungkan organ-organ penting dalam tubuh manusia, seperti jantung, pankreas, hati, dan lainnya.

Namun, tidak hanya titik saja, baginya, ada juga urat-urat pembuluh darah yang menyebabkan pembuluh darah tersumbat, “Selain akibat makanan tertentu, biasanya itu adalah angin. Ini yang saya benahi.”

Tidak jarang, bila urat yang sudah bertahun-tahun mengalami kekakuan dipijatnya, pasien akan meronta, bahkan menjerit kesakitan. Bagi Syahrudin, hal itu hal wajar saja, mengingat lamanya sakit yang diderita dan dibiarkan saja oleh pasiennya.

“Justru mereka harus lebih tahan kalau dipijat saya. Sebab, untuk melemaskan dan melancarkan kembali peredaran darah, tidak cukup hanya dipijat sekali, tapi bisa berkali-kali sampai badan terasa enak dan keluhan berkurang,” kata pria yang masih kagok bila berbicara dengan bahasa Indonesia itu.

Bagi Syahrudin, kesakitan itu justru merupakan tanda bahwa seseorang benar-benar mengalami sakit. Diumpamakan olehnya, sumber penyakit yang hanya sebesar biji beras pun akan tetap terasa menyakitkan bila sedang ia pijat.

Syahrudin pada saat memijat sering mengeluarkan angin lewat mulut (glegekan). Menurutnya, itu adalah pertanda bahwa sakit si pasien sedang dipindahkan atau bahkan dikeluarkan. Dan hanya dengan menggunakan tangan tanpa media apa pun, Syahrudin melakukan pemijatan.

Dilarang Makan Ketan
Dalam membantu kesembuhan, Syahrudin akan menetapkan pantangan yang harus dijalankan pasiennya. Pantangan utama, menurutnya, setiap orang yang sedang menjalani pengobatan dilarang makan ketan.

“Biarpun sudah sepuluh kali dipijat oleh saya, kalau dia mencoba makan ketan satu biji saja, saya yakin pembuluh darahnya bakal tersumbat lagi. Lain halnya bila dia sudah merasa sehat. Silakan saja,” ucapnya.

Syahrudin tidak menampik kenyataan kalau selama ini ada saja pasiennya yang melanggar pantangan itu. Menurutnya, semua itu memang terpulang kepada diri pasien, apakah ingin sembuh atau tidak.

Bagi penderita penyakit asma, selain ketan, juga dilarang mengasup makanan yang banyak menggunakan cabai dan lada, ikan tongkol, ikan peda, dan rebung pohon bambu. Jenis makanan yang disebutnya itu berpotensi menyebabkan terjadinya rasa panas pada paru-paru penderita asma. Dan ini akan menyebabkan gangguan pernapasan.

Syahrudin bukan tidak memantau perkembangan yang terjadi pada diri pasiennya. Bila pasien rajin menaati pantangan yang diberikan, biasanya saat dipijat, urat-uratnya sudah lancar.

Bila para pengobat lain dalam melakukan upaya penyembuhan terkadang memberikan ramuan untuk dibawa pulang, tidak demikian halnya dengan Syahrudin. Diakuinya, dulu dia pernah berbuat hal yang sama, tetapi karena suatu hal, dia tidak melakukannya lagi.

“Bagi saya, ramuan tumbuhan yang ada di pedalaman hutan Kalimantan punya khasiat tertentu dalam pengobatan. Hanya saja, adat kami memerlukan ritual khusus walaupun hanya untuk mencabut satu jenis tanaman,” paparnya. “Ini yang membuat saya harus mempertimbangkan baik-baik saat harus mengolah tanaman obat. Dan untuk mengolahnya hingga siap dipakai, diperlukan waktu.”

Syahrudin pernah minta tolong kepada familinya di Kalimantan mengiriminya tanaman obat yang akan digunakan untuk mengobati pasien. Namun, ketika pesanan diterima, ternyata herba ramuan itu bukan yang diinginkannya.

“Jadi saudara saya tidak tahu kalau sudah ditipu. Bagi saya, kalau barang yang saya inginkan tidak asli, pasti ada halangan untuk mengolahnya,” ungkapnya. @ Suharso Rahman

No. HP. H. Syahrudin
0815 885 6842