Banyak orang enggan bermain-main dengan listrik. Alasannya simpel, takut kesetrum.

Namun, di tangan seorang penyembuh, setrum listrik yang bisa bikin badan gosong itu dapat diubah menjadi medan magnet terukur untuk menyembuhkan beragam penyakit, bahkan meningkatkan fertilitas dan vitalitas tubuh

Tjandra Hariyanto (53) bukan karyawan atau rekanan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tapi di mata para mantan pasiennya, keahlian Tjandra tak kalah dengan tukang listrik paling jago sekalipun.

Di tempat praktiknya, sebuah klinik di bilangan Harco Elektronik, Mangga Dua Plaza, pria yang pernah berguru ilmu akupuntur di Korea tahun 1989 ini membuka layanan “pijat magnetik” untuk menyembuhkan sejumlah penyakit.

“Pijat magnetik” versi Tjandra itu gabungan akupunktur dengan pijat refleksi. Ia sengaja tidak menerapkan ilmu akupuntur secara murni, karena katanya, kebanyakan pasien merinding jika melihat jarum. Dia juga tidak melakukan pijatan langsung, seperti lazimnya pemijat refleksi yang terkadang membuat pasien kesakitan.

Lewat pijatan magnetiknya, Tjandra ingin pasiennya tidak merasakan sakit berlebihan. Sebaliknya, “Mereka merasa santai dan nyaman. Pengobatan pun berlangsung efektif, karena langsung bisa dirasakan khasiatnya,” sebut Tjandra, yang sempat mengenyam pendidikan di fakultas teknik sebuah universitas swasta, tapi akhirnya lebih memilih bidang pengobatan alternatif sebagai jalan hidup.

Penjaga keseimbangan

  • Teorinya, apa yang dilakukan Tjandra mirip ramuan gado-gado. Aspek-aspek teknik akupuntur dan pijat refleksi dicampur jadi satu.

Dengan menggunakan energi magnetik, ia menstimulasi atau merangsang titik-titik akupunktur di telapak kaki dan tangan. Tjandra mengklaim, metode terapinya ini sebagaiyang pertama dan satu-satunya di Indonesia.

“Teknik ini saya pilih karena efektif, praktis, dan efisien. Bagi yang badannya capek, misalnya, bisa langsung segar lagi,” ujar Tjandra.

Saat mendiagnosis penyakit pasien, ia cukup mengajukan sejumlah pertanyaan. Misalnya, apakah kepala terasa sakit atau berat sebelah, pundak dan leher terasa kaku, tenggorokan terasa kering, perut kembung, pinggang pegal-pegal, atau kualitas tidur kurang.

“Jika salah satu keluhan tadi ada dalam daftar, berarti ada yang tidak beres dalam sistem tubuh. Ketidakberesan itulah yang perlu diterapi,” imbuh Tjandra. Dengan kata lain, terapi magnetik versi Tjandra ini fungsinya lebih pada penyeimbangan sistem saraf tubuh yang “kacau”.

“Pada hakikatnya, tubuh yang sehat punya sistem tubuh seimbang. Keseimbangan sistem tubuh menjadi ’kacau’, jika ada saraf-saraf yang kaku. Biasanya, simpul saraf yang kaku itu menguncup.Nah, kekakuan saraf inilah yang perlu dikendurkan. Setelah diterapi, simpul saraf yang kaku akan mengendur dan mekar kembali. Peredaran darah pun lebih lancar, sehingga otomatis semua organ tubuh bekerja secara baik sesuai fungsinya,” papar Tjandra.

Jika sistem tubuh berfungsi dengan seimbang, orang tidak mudah terserang penyakit. Sebab, tubuh akan memproduksi antibodi dengan baik. Antibodi adalah “obat” untuk melindungi dan menyembuhkan tubuh dari berbagai penyakit, yang secara alami dimiliki tubuh. Dalam sistem tubuh yang seimbang, simpul-simpul sarafnya juga sehat, sehingga dengan sendirinya antibodi terbentuk dengan sempurna.

Lantas, bagaimana cara Tjandra mengembalikan keseimbangan itu?

Dalam ritual pengobatan, yang rata-rata berlangsung sekitar 40 menit, Tjandra menggunakan alat bantu berbentuk kotak. Alat yang disebut stimulator tense itu bertugas mengalirkan arus listrik. Ukurannya 20 x 10 cm, mendapat energi dari baterai sembilan volt. Alat itulah yang “memijat” pasien dengan gelombang magnetik, bukan tangan Tjandra.

Jika diperhatikan, alat bantu itu memiliki tombol-tombol selektor untuk menguatkan atau melemahkan gelombang magnetik yang dialirkan ke telapak tangan dan kaki pasien. Stimulator ini berhubungan dengan kabel yang di ujungnya terdapat alat pemijat, atau lebih tepatnya mata pemijat. Alat itu berperekat berukuran 4 x 5 cm. Mata pemijat selanjutnya direkatkan pada titik-titik saraf di telapak tangan atau kaki, sesuai dengan penyakit atau keluhan pasien.

Namun, perlu diingat, terapi magnetik tidak dianjurkan bagi anak-anak di bawah umur 12 tahun. “Mereka bisa mengalami trauma akibat getaran magnetik. Kalau tidak tahu dan tidak siap, ’kan bisa bikin kaget,” jelas Tjandra, yang tetap menyarankan pasiennya berkonsultasi ke dokter, terutama untuk penyakit kronis yang tergolong berat.

Siap-siap buang gas

  • Sebelum alat pijat dipasang, Tjandra akan mendeteksi telapak tangan dan kaki pasien dengan memijat-mijatnya secara lembut.

Tujuannya untuk melihat berat-ringannya gangguan kesehatan pasien, dari besar-kecilnya benjolan yang ada di telapak tangan. “Semakin kecil atau kurang benjolannya, gangguan kesehatannya juga semakin ringan,” Tjandra sedikit buka rahasia.

Ritual lain yang harus dilakukan sebelum alat pijat mekanik dipasang yaitu membersihkan telapak tangan dan kaki pasien dengan alkohol. “Agar lebih bersih dan steril,” sambungnya. Begitu stimulator disetel, getaran magnetnya akan segera terasa. Awalnya terasa seperti digigit semut. Namun, lama-kelamaan pasien akan merasa nyaman. Tjandra sendiri nyaris “tidak menyentuh” tubuh pasien. Dia hanya menentukan titik-titik yang perlu dipijat sesuai hasil diagnosis awal.

Selain stimulator tense, tersedia juga kursi yang dapat mengalirkan medan magnet. Saat duduk di kursi itu, seluruh sistem saraf yang ada di tulang belakang hingga seluruh tubuh pasien distimulasi. Baik menggunakan kursi maupun stimulator tense, pasien diupayakan senyaman mungkin. Selama 40 menit, mereka dibiarkan duduk santai dan rileks sambil mendengarkan musik instrumental nan lembut.

Sekilas, metode pengobatan yang dilakukan Tjandra terkesan main-main, karena sangat simpel. Namun, siapa sangka, di balik cara sederhana itu, berbagai penyakit dapat disembuhkan. Migren, sulit tidur, asma, asam urat, kolesterol, kencing manis sampai masalah kesuburan masuk daftar penyakit yang pernah ditangani Tjandra. Metode dan alatnya sama, mengandalkan titik pijat refleksi dan setrum, tanpa obat dan sejenisnya yang harus dibawa pulang.

Lamanya penyembuhan tergantung berat-ringannya penyakit yang hendak disembuhkan. Biasanya, dengan dua atau tiga kali datang saja, pasien sudah bisa merasakan manfaat langsung. Badan terasa lebih segar dan fit. Namun, kadang juga bisa lebih lama. Karena proses penyembuhan dilakukan sendiri oleh tubuh, butuh waktu untuk menstimulasi organ, agar berfungsi sempurna. Baru setelah itu, masuk ke tahap penyembuhan penyakit.

Menurut Tjandra, pengobatan yang dipraktikkannya itu aman, meski dia mengakui, tetap ada efek sampingan.

“Sehabis menjalani terapi, biasanya kencing menjadi agak keruh, sering kentut, buang air besar terasa agak lunak, serta mengantuk. Tapi gejala-gejala itu tak usah dikhawatirkan, karena pada dasarnya itu dampak dari terapi yang bertujuan membuat tubuh lebih rileks.”

“Seringnya kentut, kencing menjadi keruh, serta buang air besar agak lunak juga bagian dari proses pembersihan racun dalam tubuh. Efek ini tidak akan berlangsung lama, paling-paling 2 – 3 hari saja. Kalau acara buang gasnya berlarut-larut, bikin risi juga, ’kan? Apalagi kalau sedang berada di tempat umum,” kata Tjandra. “Efek kurang mengenakkan tadi akan diimbangi dengan dampak positif, seperti kulit menjadi lebih kencang dan segar.”

Lalu bagaimana menjaga vitalitas itu, agar badan tak lagi rentan penyakit?

Untuk yang satu ini, Tjandra punya tips. Katanya, jangan minum es sehabis makan nasi, karena es akan mendinginkan suhu. Saat mencerna makanan, tubuh manusia berhawa panas. Ketika minum es, pencernaan kita bakal butuh waktu untuk menyesuaikan suhu, agar es dan makanan bersuhu sama,” tandas pria yang memasang tarif Rp 80.000,- per sekali terapi ini.

Bahayanya, bila perbedaan suhu ternyata terlalu jauh, sistem pencernaan bisa mengalami kram. Keseimbangan sistem tubuh pun “kacau”. Ibarat mesin, selagi panas malah disiram air dingin, ya ngebul. Dianjurkan, sehabis makan nasi, minum teh manis hangat. Selain gula dalam teh manis menambah tenaga, suhunya juga tak berlawanan dengan suhu pencernaan. (intisari)