BERMULA dari penunjukannya sebagai pengurus Seksi Pengembangan Obat-obatan Tradisional pada Yayasan Parapsikologi (YPS) tahun 1984, Darmowasito yang kini berusia 75 tahun masih setia mendalami pengobatan melalui apotek hidup. Tanaman obat yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 itu “berserakan” di halaman rumahnya yang asri dan sejuk di Mojoroto Gang III Nomor 9, Kota Kediri. Baik di depan maupun belakang terdapat aneka tumbuhan termasuk yang jenis langka.

Sebut saja daun Tempuyung atau Sonchus arvensis l. “Saya menjamin tidak banyak orang tahu tentang daun ini, termasuk kegunaannya. Tetapi saya katakan, daun ini kalau dikeringkan sangat manjur untuk obat batu ginjal,” ujarnya kepada Kompas di kediamannya belum lama ini.

Daun Sambungnyawa yang banyak ditanam masyarakat juga tidak banyak yang tahu khasiatnya. Namun, ketika berada di tangan sang “apoteker” kebun yang bernama kecil Saelan itu dapat dijadikan pelengkap untuk ramuan obat bermacam penyakit. Salah satunya menurunkan tekanan darah tinggi.

Contoh lain bila diungkapkan satu per satu akan menyita banyak waktu. Misalnya benalu teh yang khasiatnya sudah kondang sebagai obat antikanker, daun dandang gendis untuk obat kencing manis, juga daun dewa yang berguna untuk pengobatan kanker dan membersihkan darah.

Kiprah Darmowasito dalam pengobatan dengan apotek hidup, diakuinya banyak dipengaruhi posisinya sebagai Seksi Pengembangan Obat-obatan Tradisional YPS itu. Maka ketika yayasan tersebut kini tidak aktif lagi, ayah sembilan anak itu tetap aktif dalam dunia jamu-jamuan.

“Memang setelah saya ditunjuk sebagai pengurus pengembangan obat tradisional, saya langsung mencari pedoman. Baik itu melalui buku-buku, majalah, koran, maupun belajar pada orang yang lebih tahu. Pokoknya, pengetahuan dari mana pun berusaha saya serap,” katanya.

Setelah menerima informasi dari berbagai referensi itu, suami Soemirah itu juga tidak lantas diam saja. Ia segera mencari di mana daun-daun yang dijelaskan itu masih ada dan perburuannya terhadap daun berkhasiat itu tak hanya sebatas Kota Kediri.

Daun dandang gendis misalnya didapatnya di Ngawi, daun Sambungnyawa diperoleh setelah ia bersusah payah mencari hingga di Ponorogo. Meski demikian, ada juga beberapa bahan obat yang diterimanya dari orang-orang yang menyetor ke rumah, salah satunya benalu teh.

Benalu itu dikirimkan penduduk di kaki Gunung Wilis. “Di kaki Wilis pada zaman dulu ada perkebunan teh yang setelah Belanda jatuh, tidak dipelihara lagi. Benalu di tanaman-tanamannya banyak sekali. Dan orang-orang, karena lagi-lagi tidak tahu gunanya menganggap benalu itu tidak bermanfaat. Padahal di sini bisa jadi obat kanker,” jelasnya lagi.

***

KEMAHIRAN Darmowasito mengenali manfaat daun diperkuat kemampuannya dalam pijat zona terapi. Kemampuan memijat titik-titik urat syaraf ini dipelajarinya dari almarhum Wisnu Trimurti, seorang guru pijat tempo dulu.

Sudah banyak pengalaman unik yang dialaminya berkaitan dengan pijat-memijat ini. Pada suatu ketika, di tengah Konferensi Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) di Surabaya, ia bertemu dengan pengurus PWRI asal Trenggalek yang sakit perut. Sampai-sampai, orang ini merintih-rintih terus.

“Saya lalu menawarkan diri untuk memijat dan dipersilakan. Setelah beberapa lama ternyata dia mengaku sakitnya sembuh,” tuturnya. Peristiwa ini bersambung dengan kejadian serupa, termasuk saat berhasil menyembuhkan sakit mertuanya, telah membuatnya makin yakin akan kemampuan yang dimiliki.

Pada akhirnya sampai sekarang, ia melayani pasien dengan dua tipe pengobatan itu. Ramuan jamu apotek hidup atau pijat zona terapi. “Tergantung permintaan pasien. Minta dipijat ya saya pijat. Minta dibuatkan jamu ya saya coba buatkan,” katanya lagi.

Kemampuan itu juga ia praktikkan untuk diri sendiri dan keluarga. Hampir tiap hari, ia memijat kakinya yang kadang sakit untuk sembahyang. Selain itu, ia rajin minum jus wortel, apel, tomat, dan bawang putih.

Alasannya, empat komponen itu semuanya berkhasiat. Terutama bawang putih, yang menurutnya memiliki 22 manfaat. Beberapa khasiat pentingnya antara lain mencegah sakit jantung, membuat napas jadi kuat, mengikis kolesterol, mengatasi hipertensi, mengobati pusing-pusing, serta menormalisasi tekanan darah.

***

SEJAK usia muda pria kelahiran Kediri 27 Februari 1927 ini sudah sering aktif dalam berbagai organisasi. Misalnya, ia pernah menjadi Ketua Rukun Tetangga (RT) selama 20 tahun, dan pengurus PWRI Kota Kediri selama 15 tahun.

“Bahwa saya bisa hidup sehat di usia 75 tahun seperti sekarang, semua adalah berkah Tuhan. Saya sangat mensyukuri semua ini,” katanya.

Seakan seiring dengan pepatah “air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”, empat anaknya mengikuti jejak sang ayah, berkiprah di dunia kesehatan dengan menjadi dokter. Seorang menjadi dokter hewan, tiga lainnya dokter spesialis, masing-masing spesialis mata, kebidanan-penyakit kandungan, dan radiologi.

Tadinya, ia sempat khawatir dengan pembiayaan sekolah kesembilan anaknya. Terlebih lagi empat di antaranya kuliah di fakultas kedokteran, padahal ia dulu cuma guru Sekolah Rakyat (kini Sekolah Dasar).

Namun, berkat perjuangannya yang pantang menyerah, semua itu dapat terlalui. “Saya memang habis-habisan agar anak-anak dapat tetap sekolah. Waktu tugas di Sorong, Irian Jaya, saya berusaha sambilan dengan beternak ayam petelur dan jual nasi. Yang penting halal,” ungkapnya lagi.

Menjalani hari tuanya, Darmowasito mengaku bahagia karena tetap dapat sibuk bekerja. “Kegiatan saya meramu jamu dan memijat untuk mereka yang datang karena sakit, membuat saya tetap punya aktivitas. Tidak stres karena cuma thenguk-thenguk (duduk-duduk Red) saja sepanjang hari,” kata Darmowasito, sembari memandangi halamannya yang penuh tanaman obat. (ADI PRINANTYO)