Need relief from tsunami relief? Klinik Fakhriah, Traditional Acehnese Massage Center provides foot reflexology, body massages and traditional body scrub. No need to bring anything. We suplay shower, towel, and sarong. Spoil yourself while supporting an Acehnese family business.

IKLAN menggoda itu tertempel di berbagai tempat strategis. Di lembaga internasional tempat relawan asing bekerja, posko lembaga swadaya masyarakat, bahkan juga di media center-pusat informasi pascatsunami.

Tanpa iklan mungkin orang takkan ke Klinik Fakhriah. Maklum, meski berada di kawasan Sudirman, Banda Aceh, tempat banyak lembaga asing berkantor, klinik di Jalan Sudirman VII No 76 itu terselip di gang kecil. Thia, yang nama dan nomor ponselnya tercantum di iklan, harus memandu. “Ada tulisan di tembok di samping gang,” katanya.

Setelah bolak-balik menyusuri jalan, barulah gang yang dicari ketemu. Tulisan kecil di tembok tak tampak karena tertutup tanaman di seberang jalan. Masuk 300-an meter, di sisi kiri tampak rumah sederhana dengan spanduk di atasnya. “Maaf ya, sepatu dilepas di depan,” ujar Thia.

Di ruang belakang, segelas sirup sudah menanti. Setelah berganti sarung dan cuci kaki, barulah ritual utama berlangsung. Dari pijat refleksi, pijat badan, bekam (memasang gelas panas di punggung), lulur, sampai mandi sauna. Uap panas dialirkan dari dandang di atas kompor minyak.

Di ruang berukuran empat kali tiga meter, dua tempat tidur tersedia dengan sekat kain putih. Di belakang, ada kamar lebih besar, diisi tiga tempat tidur. Seprai bergaris yang menutupinya masih dilapisi selembar kain batik yang selalu diganti. Amat sederhana, tapi semuanya bersih

“Kami sudah 10 tahun membuka usaha ini. Setelah bencana, kami sempat tutup dua minggu. Semua panik mencari keluarga. Saya juga mengungsi ke Bireuen,” kata Thia sambil memijat, ditemani Linda. Setiap tamu-mereka menyebutnya pasien-memang dilayani dua orang.

Beruntunglah Klinik Fakhriah tak dihajar tsunami. Kakak Thia yang sudah berkeluarga selamat meski kehilangan rumah. Mereka mengungsi di Klinik Fakhriah, sehingga klinik kini ramai dengan celoteh dan tangisan anak-anak. “Sebenarnya pasien terganggu. Tapi mau bagaimana lagi,” katanya

THIA belajar memijat dari kakaknya yang juga pemilik klinik, Fakhriah (31). “Alhamdulillah, adik-adik perempuan saya tidak cuma pandai memijat, tetapi juga sudah sarjana semua,” katanya.

Thia yang sudah tujuh tahun di Klinik Fakhriah, adalah sarjana ekonomi lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. “Tapi saya masih ingin di sini. Soalnya, bahasa Inggris saya belum bagus,” katanya lebih lanjut.

Fakhriah sendiri belajar pijat dari pemilik tempat kerja pertamanya ditambah pendalaman seni pijat dari ahli refleksiologi China. Ia sempat merantau ke Jakarta, sebelum kembali ke Banda Aceh dan membuka kliniknya sendiri.

Pascatsunami, ia sempat panik tak ada pasien. “Saya sempat berpikir pindah ke Medan atau Jakarta, apalagi sekarang harus menanggung makan 15 orang termasuk keluarga kakak yang mengungsi,” tutur ibu satu anak ini.

Untung ada Daniel, karyawan lembaga PBB asal Kanada. “Ia meyakinkan saya, bahwa kami tak akan kekurangan pasien,” katanya.

Daniel pula yang membantu membenahi manajemen klinik, membelikan dua tempat tidur, handuk, dan sarung, selain membuatkan selebaran berbahasa Inggris. Prosedur perawatan-dalam bahasa Inggris-ditempel di ruang tamu dan di depan kamar mandi.

Kalau sebelum tsunami pasien hanya 3-4 orang tiap harinya, kini bisa 12 orang, 70 persennya tamu asing. Klinik yang buka pukul 08.00-21.00 itu tak pernah sepi. Fakhriah menerapkan sistem bagi hasil. Dari tamu asing yang membayar Rp 150.000 dan tamu lokal Rp 100.000 untuk perawatan komplet, 35 persen jadi hak pegawai. Makan dan penginapan pegawai ditanggung Fakriah.

Seusai menjalani perawatan 1,5 jam, badan pun terasa segar. Apalagi tertulis di prosedur “no hanky panky”, tak ada yang macam-macam di sini. Anda lelah? Silakan pijat di sini. (Agnes Aristiarini)