Dalam setiap diri manusia ada penyakit sekaligus obat penawarnya. Tinggal bagaimana manusia yang bersangkutan menjaga kesehatan. Juga menjaga agar penyakit tidak timbul menggerogoti tubuh mereka.

Itulah yang diungkapkan Achmad Syuhada (63), seorang pemijat refleksi yang sehari-hari membuka praktik di Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur.
Pak Syuhada, demikian pria kelahiran Purwokerto ini kerap dipanggil, membutuhkan pengalaman bertahun-tahun untuk mengambil kesimpulan seperti itu.

“Penyakit timbul akibat dari pola hidup dan makan yang salah. Baru setelah kesakitan, mereka mencoba menyembuhkan diri dengan menempuh segala cara dan usaha,” jelas pria berperawakan kecil ini.
Syuhada punya cara tersendiri dalam melihat apa yang sebenarnya dialami oleh pasiennya.

Pertama, dengan melihat aura. Kemudian, ia akan melihat sirkulasi darah si pasien. Menurut Syuhada, dari warna aura, bisa ditentukan apakah orang itu memang sakit atau tidak.

“Biasanya yang sakit auranya akan tampak suram, bahkan nyaris pekat. Pada mereka yang sehat, auranya terlihat menyala jernih,” ujarnya.
Meski demikian, ada juga pasien yang bermain-main dengan Syuhada. Ketika ditanya mempunyai keluhan apa (prosedur resmi pemeriksaan yang selalu dilakukan terhadap mereka yang datang padanya), mereka tidak mau mengaku. Namun, Syuhada tetap bisa melihat apa yang terjadi pada diri yang bersangkutan.

“Tidak hanya masalah kesehatan medis, tetapi bisa juga masalah dalam diri mereka. Ini yang berbahaya sebenarnya. Masalah didiamkan, hingga akhirnya tanpa sadar menyerang fisik. Timbullah penyakit,” lanjutnya menegaskan.

Di Kuku Ibu Jari
Bila saat didiagnosis dengan aura penyakit belum terlihat dengan jelas, Syuhada masih punya cara lain. Ia akan melihat sirkulasi darah di kuku ibu jari pasien. Menurut Syuhada, dengan cara ini daerah dalam tubuh yang menjadi sumber keluhan pasien, bisa diketahui.

“Ciri mereka yang punya keluhan adalah bila ujung kuku dipencet akan berwarna biru. Itu adalah sumber keluhan yang dirasakan,” ungkapnya.
Mengenai teori ini, Syuhada mengaku tidak sembarangan menemukannya. Menurutnya, pada telapak tangan manusia terdapat banyak simpul saraf dan aliran darah, yang mewakili simpul saraf dan jalan darah di anggota tubuh lainnya. Otomatis, bila anggota tubuh ada yang sakit bisa dirasakan lewat ujung-ujung jari, termasuk pada kuku.

Bila dua cara ini sudah dilakukan, langkah terapi, yakni dengan prana dan pijat refleksi, bisa segera dimulai. Prana adalah proses memasukkan energi bersih dan positif kepada orang yang mengeluh sakit.
Refleksi dilakukan untuk membuka simpul-simpul saraf dan jalan darah pada tubuh manusia yang mengalami gangguan. Karena urusannya berkenaan dengan saraf, Syuhada mengaku sangat berhati-hati dan tidak sembarangan memijat.

Tergantung Niat
Menurut Syuhada, lamanya pemijatan sangat bergantung pada keluhan yang ada. Bila ringan-ringan saja seperti masuk angin, hanya memakan waktu 45 menit hingga satu jam. Pada kasus-kasus berat, seperti stroke atau lainnya, memakan waktu antara sejam hingga satu setengah jam.

Menurut Syuhada, tidak selamanya terapi tersebut harus selalu berurutan. Terkadang hanya dengan prana saja, pasien sudah mengalami perubahan, sehingga tidak perlu menjalani refleksi. Sebaliknya, walaupun sudah menjalani prana dan pijat refleksi, ada yang tidak kunjung sembuh.
“Biasanya itu lebih kepada orangnya. Kalau dia berniat sembuh dan yakin, Insya Allah, sembuh. Kalau bandel dengan pantangan, itu yang agak sulit,” tegasnya.

Syuhada mengingatkan, bagaimanapun tinggi ilmu seorang dokter atau pengobat alternatif, semuanya juga mempunyai batasan. Yang menentukan segalanya adalah Tuhan.

“Kalau Tuhan punya rencana lain, kita mau apa?” ujar Suhada lagi. Karenanya ia mengingatkan pentingnya sikap pasrah kepada pasiennya. “Tapi, bukan berarti tidak berusaha dalam kepasrahan itu.”

Syuhada juga tidak memberikan pantangan apapun kepada mereka yang datang berobat padanya. “Saya bukan dokter, jadi urusan meneruskan makan obat dan larangan makan, saya kembalikan kepada dokternya masing-masing,” tegasnya lagi. @ Suharso Rahman

Alamat Praktik Achmad Syuhada
Pasar Rawa Bening Blok AKS No.164
Depan Stasiun KA Jatinegara
(Depan warung makan padang)
Hp. 0812-9737942