Jakarta, Kompas – Sekalipun pelayanan kesehatan modern telah berkembang di Indonesia, jumlah masyarakat yang memanfaatkan pengobatan tradisional tetap tinggi. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2001, 57,7 persen penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri, 31,7 persen menggunakan obat tradisional, dan 9,8 memilih cara pengobatan tradisional.

Hal itu dikemukakan oleh Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Azrul Azwar saat berbicara pada Seminar Kajian Kesehatan dengan tema “Berbagai Pengobatan Alternatif” di Jakarta, Rabu (6/4).

Menurut Azrul, kini terjadi pergeseran pola penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif. Masyarakat pun berusaha keras mencari kesembuhan. Meningkatnya minat kembali ke alam (back to nature) membuat masyarakat mencari pengobatan tradisional sebagai alternatif.

Pengobatan tradisional adalah cara pengobatan atau perawatan yang diselenggarakan dengan cara lain di luar ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan yang lazim dikenal, mengacu kepada pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperoleh secara turun-temurun atau berguru melalui pendidikan, baik asli maupun dari luar Indonesia.

Pengobatan tradisional adalah upaya kesehatan yang diselenggarakan dengan cara tradisional untuk meningkatkan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), kuratif (penyembuhan), dan pemulihan.

Pengobatan tradisional bisa dilakukan dengan menggunakan obat-obat tradisional, yaitu bahan atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Ramuan asli berasal dari Indonesia, gurah, ular kobra. Ramuan asing seperti aromaterapis, terapi bunga, sinshe umum, sinshe khusus: kanker, hemorrhoid, narkoba.

Selain itu juga bisa memakai bantuan pengobat tradisional yang keahliannya diperoleh secara turun-temurun, berguru, magang, atau mengikuti pendidikan/pelatihan.

Berbasis keterampilan

Pengobat tradisional umumnya berbasis pada keterampilan. Keterampilan asli Indonesia seperti pijat/urut, pijat tunanetra, patah tulang, khitan, dukun bayi, tukang gigi. Sedangkan keterampilan asing umumnya pijat refleksi, akupresur, shiatsu, pijat Qigong, pijat ala Thai, touch for health, akupunktruis, spa terapis.

Jumlah pengobat tradisional di Indonesia yang tercatat menurut Azrul cukup banyak, yaitu 280.000 pengobat tradisional dan 30 keahlian/spesialisasi.

“Namun, pendekatan pengobatan tradisional lewat ajaran agama dan supranatural di Indonesia sebenarnya kurang menguntungkan karena bisa menimbulkan apriori. Kalau begini terus, perkembangan pengobatan tradisional Indonesia akan tertinggal dari negara lain karena tak ada penelitian mendalam,” ujar Azrul.

Tumbuhan obat

Menurut Hembing yang dikenal sebagai pengobat tradisional, manajemen dalam pengembangan tumbuhan obat di Indonesia kurang berkembang sehingga masih ketinggalan dengan negara-negara lain. Apalagi sarana pendukungnya juga masih sangat kurang.

Peralatan Resonansi Magnetik Inti (NMR) yang sangat berguna bagi peneliti kimia bahan alami, misalnya, hanya dimiliki oleh Universitas Indonesia (Jakarta), Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), Universitas Airlangga (Surabaya), Institut Teknologi Bandung, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Itu pun kekuatan magnetnya sangat kecil, hanya 60-90 MHz. Jauh lebih kecil dari NMR di China, Korea, dan Jepang yang medan magnetnya hingga 400 MHz.

Selain itu, dukungan pemerintah terhadap perkembangan pengobatan tradisional masih dirasa kurang. (LOK)