Januari 2008


RamuRacik – Hampir semua makhluk hidup di bumi ini pasti pernah merasakan stres. Biasanya, stres yang menimpa manusia banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Atau, datang dari tubuh dan pikiran kita sendiri. Karena gangguan ini begitu dekat dengan diri kita, tak ada salahnya kita mengetahui lebih cara mengusir stres secara alami.

Gangguan stres yang terjadi pada diri kita merupakan masalah normal. Karena, tubuh kita ini dirancang untuk mengalami dan bereaksi terhadap gangguan stres. Namun di balik itu, stres bisa memberi dampak yang positif bagi kita. Hal ini disebabkan, stres akan membuat kita selalu berjaga-jaga untuk menghindari bahaya.

Di sisi lain, stres bisa menjadi sangat negatif jika tak langsung diatasi. Karena, reaksi buruk yang muncul dari stres adalah adanya gangguan keseimbangan dalam tubuh. Akibatnya, sakit kepala, sakit perut, tekanan darah naik, dada sakit hingga susah tidur, akan melanda kita.

Lantas, bagaimana cara mengusirnya? Bagi Anda yang suka mengonsumsi minuman beralkohol, obat-obatan, dan mengisap rokok, sebaiknya tinggalkan kebiasaan itu. Justru, jika itu dilakukan, akan menambah dampak negatif.

Berikut ini, beberapa cara untuk mengatur stres secara alami.

  1. Bertindak dan berpikir positif. Jangan pernah sekali-kali Anda berpikir negatif terhadap orang lain. Sekali saja Anda melakukannya, jangan harap otak Anda akan berhenti berpikir. Cobalah berpikir positif terhadap sesuatu yang menimpa Anda. Ambillah hikmah yang menimpa diri Anda menjadi sesuatu yang positif. Kemudian, bersikaplah positif ketika Anda melakukan solusi dari sebuah persoalan.
  2. Keterbatasan. Manusia dilahirkan memiliki kekurangan dan kelebihan. Sebaiknya, Anda harus menyadari hal ini. Sehingga, Anda tidak merasa sengsara ketika tidak dapat mengatasi sebuah persoalan.
  3. Bersikap assertive bukan agresif. Tidaklah mudah meredam amarah. Namun, semakin kita emosi, semakin banyak energi yang keluar. Sebaiknya, bersikaplah tegas terhadap perasaan, pendapat serta kepercayaan dalam diri dibandingkan mementingkan rasa marah, defensif, atau pun pasif.
  4. Belajar dan latihan rileksasi. Tak ada salahnya Anda membaca buku atau melihat film rileksasi. Tentunya ini sangat berguna untuk otak Anda agar tidak bekerja terlalu keras.
  5. Olahragalah. Ketika Anda secara teratur melakukan aktivitas olahraga, tubuh akan lebih kuat menghadapi stres. Sebab, tubuh kita selalu dalam kondisi sehat dan bugar.
  6. Makanan sehat dan seimbang. Konsumsilah makanan yang sehat dan berimbang. Ingat, menu makanan 4 sehat 5 sempurna, harus dilakukan setiap hari.
  7. Istirahat dan tidur. Tubuh kita bukanlah mesin yang tidak mengenal lelah. Jadi, sebaiknya, ciptakanlah sebuah kesempatan agar tubuh kita ini bisa beristirahat dan cukup tidur. Jika tubuh ini sudah istirahat, otomatis pemulihan di dalam tubuh pun akan terjadi.
  8. Sosialisasi. Percayalah, teman yang banyak akan membuat hati lebih ceria dan terhindar dari berbagai pikiran berat. Ingat, punya seribu teman masih sedikit. Tapi, satu orang musuh itu terlalu banyak.

Selamat mencoba! [DAN]

RamuRacik – Pijat refleksi bisa diterapkan untuk semua orang, dari bayi sampai orang tua, dan bisa dilakukan semua orang. Siapa saja bisa melakukan pijat sendiri setelah belajar beberapa kali. Namun, kalau yang menjalankan seorang dokter, hasilnya mungkin bisa lebih baik. Sebab, dokter bisa menangani pasien dengan dua cara yang bisa dipadukan dan melengkapi satu sama lain.

Saat ini buku penuntun pijat refleksi sudah banyak ditulis, baik oleh perawat, dokter, maupun ahli pijat refleksi. Bukunya juga macam-macam, dari yang ilmiah sampai yang sederhana, sehingga mudah dimengerti oleh orang awam. Penganutnya pun dari berbagai macam profesi, mulai orang awam sampai dokter hewan.

Mengapa mereka menyukainya? Karena, manfaat pijat langsung dirasakan. Selain itu, pijat refleksi juga bisa membantu menghilangkan depresi dan penyakit-penyakit emosi lainnya. Buktinya, kaum wanita di Inggris beberapa tahun belakangan mulai banyak mendalami ilmu pijat ini. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh International Journal of Alternative and Complementary Medicine pada November 1996, para wanita yang menderita stres dan depresi merasa ada perbaikan setelah menjalani terapi pijat refleksi selama 30 menit setiap minggu.

Sebenarnya, lama terapi tergantung pada tujuan dan jenis gangguannya. Kalau gangguannya berat, harus dilakukan berulang-ulang sampai rasa sakit pada titik itu hilang. Kekuatan pemijatan tergantung pada toleransi yang dipijat. Terapis memang harus bisa mengira-ngira agar pasiennya tidak terlalu merasa nyeri. Kalau kelihatan kesakitan, tekanan pemijatan dikurangi. Atau, pemijatan dialihkan ke titik-titik yang lain, baru nanti kembali lagi.

Penentuan kekuatan pemijatan ini memang perlu dilakukan secara hati-hati. Kalau terlalu kuat, bisa-bisa kena pembuluh darah dan membuat memar. Jika pelaku terapi seorang dokter, tentu ia lebih tahu daerah-daerah yang dilewati pembuluh darah sehingga bisa menghindari tempat itu.

Secara teoretis, terapi ini bisa untuk menyembuhkan segala penyakit, termasuk penyakit infeksi. Infeksi bisa terjadi akibat badan dalam keadaan lemah. Badan tidak sanggup menghadapi kuman. Kalau dipijat refleksi, kesanggupannya dinaikkan. Sebenarnya, zaman dahulu tidak ada obat. Tapi, mereka orang bisa survive. Artinya, kembali ke orang itu sendiri untuk menggunakan daya tahannya.

Nah, daya tahan ini dinaikkan dengan pijat refleksi, karena semua organ jadi dalam keadaan siaga, kerja samanya juga lebih sempurna sehingga efeknya lebih besar untuk melawan serangan kuman.

Pijat refleksi makin efektif apabila ditunjang dengan asupan makanan yang sehat, cara kebiasaan hidup yang baik, dan cukup berolahraga. Semua orang tentu ingin senantiasa sehat. Berbagai cara untuk mencapainya bisa dipilih. Apabila cara itu tidak berdampak negatif, tak ada salahnya kita mencoba. [FYT]

Sumber : ramuracik.com

Bayu Satriyo Utomo (28) mengaku terbiasa memijat sejak kecil. Menurutnya, tujuan pijat adalah menormalkan fungsi organ tubuh. Dari situlah gangguan penyakit bisa disembuhkan.
Banyak literatur atau bacaan kesehatan yang membenarkan bahwa pijat bisa membuat tubuh kebal dan segala macam penyakit. Begitu pendapat Bayu Satnyo Utomo yang biasa dipanggil Bayu. Efek utama yang dirasakan setelah pijat adalah perasaan bugar kembali. Nah, secara psikis, perasaan bugar bisa bermanfaat untuk menghalau sakit. Menurut pemijat yang beralamat di kawasan Kuningan, Jakarta ini, salah satu kegunaan pijat adalah untuk membuat tubuh rileks dan bugar. Dengan begitu, diyakini tidak ada ketegangan dalam tubuh yang bisa memicu timbulnya beragam penyakit.

Urat Mrungkel

Bayu meyakini salah satu sumber penyakit dalam tubuh adalah karena jalur peredaran darah (urat) dan beberapa simpul saraf mengeras atau membeku (mrungkel).
Apabila dibiarkan, urat yang mrungkel akan mengganggu sistem beberapa organ dalam tubuh. Karena itu, dalam memijat, Bayu memulainya dengan memecahkan gumpalan dan bekuan simpul saraf atau jalur peredaran darah tersebut. Baru setelah itu ia melakukan pemijatan yang tujuannya, antara lain, untuk rileksasi.

Pemecahan pembekuan darah ala Bayu tersebut sebenarnya bisa menggunakan tangan saja, yaitu dengan cara memukul-mukul bagian tubuh yang terasa pegal. Namun, bagi Bayu, tangan saja tidaklah cukup optimal. Karena itu, dia memerlukan beberapa alat bantu.

Bila Anda suatu waktu dipijat oleh Bayu, jangan kaget dengan alat-alat yang dibawanya. Alat yang jumlahnya kurang lebih 25 jenis dan selalu dibawa ke mana pun ia pergi itu memang terdiri dan beragam bentuk. Ada yang seperti palu untuk melunakkan daging, ada yang seperti batok kelapa, dan ada yang mirip peluru berukuran besar.

Bayu mengaku tidak tahu bagaimana gagasan dan proses pembuatan alat itu datang. Ia cuma merasa seperti ada yang menggerakkannya untuk membuat alat-alat tersebut. “Seperti ada yang membisiki saya untuk membuat alat. Apa saja bahannya, dari batang pohon jambu yang sudah mati atau kayu saja sudah cukup. Semuanya bisa dijadikan alat bantu,” ungkap pria kelahiran Probolinggo, Jawa Timur ini.

Memang, walaupun tidak mengerti bagairnana prosesnya, alat-alat itu bisa maksimal digunakan olehnya. Seperti ketika Bayu sedang menangani pasiennya, pada sekujur badan pasiennya tampak semburat dan bilur merah yang menurut Bayu adalah pertanda alur peredaran darah dan simpul saraf yang mrungkel, (demikian istilah Bayu) sudah kembali lancar. Setelah lancar, pemijatan untuk rileksasi sudah bisa dimulai.

Ditambahkan oleh Bayu, proses pemecahan bekuan darah dan saraf tersebut bisa memakan waktu sekitar 20 menit untuk hasil yang maksimal. “Biasanya, bila sudah lan-car kembali aliran darahnya, mudah untuk proses pemijatan. Istilahnya tinggal menyelesaikan saja,” ujarnya.

Tidak Harus Dipijat

Namun, tambah Bayu, tidak semua pasien akan dipijatnya. Alasannya, tidak semua pasien memiliki daya tahan sama, sehingga bila ada keluhan yang menurutnya tidak bisa dipijat, ia akan mengatakannya terus terang.
“Sebab, sekarang ’kan suka ada yang bilang, kalau pas dipijat sakit, itu tandanya penyakitnya sedang diobati. Sebenarnya itu pemahaman yang salah. Bahkan saya menyetujui pendapat dokter, penyakit seperti stroke, asam urat, dan rematik tidak boleh dipijat. Dengan catatan, bila yang memijat tidak paham,“ katanya.

Karena pijat adalah sarana untuk menormalkan peredaran darah dan simpul saraf, sehingga membantu kerja dan sistem organ tubuh manusia, Bayu melakukan pemijatan itu dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan. Kehati-hatian itu pula yang rnenyebabkan Bayu tidak menyediakan ramuan apa pun untuk diberikan kepada pasiennya.

“Saya bukan dokter, itu yang selalu saya pegang teguh. Karena bila terjadi apa-apa dengan pasien, fatal akibatnya,” ucapnya.

Bila ada pasien yang memaksa minta diberi sesuatu, menurut Bayu, itu adalah rasa sugesti yang berlebihan. Untuk meluruskan kesalahpahaman yang mungkin terjadi, Bayu lebih senang memberikan bekal doa saja, “Sebagai umat beragama yang percaya penuh atas kehendak-Nya, kita juga wajib percaya bahwa sembuh, sakit, hidup, dan mati adalah Tuhan yang menentukan.”

Selain merupakan bagian dari penyembuhan, dengan doa orang bisa merasa tenang dan rileks. Jadi sebelum mengalami pemijatan, diyakini oleh Bayu, secara mental, mereka sudah merasa seperti diobati.

Merasa Bersyukur

Bagi Anda yang baru kenal Bayu Satriyo Utomo, barangkali akan muncul rasa ragu mengingat sosok yang terhitung masih muda usia itu memiliki keahlian yang berguna bagi banyak orang.
“Justru bagi saya itu adalah sebuah beban berat karena berurusan dengan nyawa banyak orang. Salah sedikit saja saya bertindak, panjang urusannya,” tutur bapak satu anak ini.

Diakuinya, sejak kecil dia memang bercita-cita ingin menolong orang. Sejalan dengan pertambahan usia, bakat dan anugerah berdatangan menghampirinya. “Dari kecil saya sudah sering memijat, entah itu diminta orangtua atau guru mengaji. Saya sendiri sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara mungkin bisa dibilang penurut. Ringan tangan membantu orang lain,” katanya.

Setelah menamatkan pendidikan di Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, tahun 1998, ternyata dorongan untuk berbuat baik semakin besar. Usai berkelana menimba ilmu pijat di berbagai tempat mulai dari Malang, Surabaya, dan Jakarta, Bayu mengaku tidak goyah menekuni profesi yang dianggapnya mulia itu.

Ketika ditanya keinginan untuk main sinetron mengingat tampangnya yang lumayan keren, Bayu cuma tertawa kecil. Baginya, setiap pekerjaan adalah usaha mulia dan terhormat. “Bukan berarti saya menolak ya, tapi mungkin tidak pede saja,” ujarnya dengan tersenyum. @ Suharso Rahman/Senior

Cupping refers to an ancient Chinese practice in which a cup is applied to the skin and the pressure in the cup is reduced (by using change in heat or by suctioning out air), so that the skin and superficial muscle layer is drawn into and held in the cup.  In some cases, the cup may be moved while the suction of skin is active, causing a regional pulling of the skin and muscle (the technique is called gliding cupping).

This treatment has some relation to certain massage techniques, such as the rapid skin pinching along the back that is an important aspect of tuina (12).  In that practice, the skin is pinched, sometimes at specific points (e.g., bladder meridian points), until a redness is generated.  Cupping is applied by acupuncturists to certain acupuncture points, as well as to regions of the body that are affected by pain (where the pain is deeper than the tissues to be pulled).  When the cups are moved along the surface of the skin, the treatment is somewhat like guasha (literally, sand scraping), a folk remedy of southeast Asia which is often carried out by scraping the skin with a coin or other object with the intention of breaking up stagnation.  Movement of the cups is a gentler technique than guasha, as a lubricant allows the cup to slide without causing as much of the subcutaneous bruising that is an objective of guasha.  Still, a certain amount of bruising is expected both from fixed position cupping (especially at the site of the cup rim) and with movement of the cups.

Traditional cupping, with use of heated cups, also has some similarity to moxibustion therapy.  Heating of the cups was the method used to obtain suction: the hot air in the cups has a low density and, as the cups cool with the opening sealed by the skin, the pressure within the cups declines, sucking the skin into it.  In this case, the cups are hot and have a stimulating effect something like that of burning moxa wool.

In some cases, a small amount of blood letting (luoci; vein pricking) is done first, using a pricking needle, and then the cup is applied over the site.  The pricking is usually done with a three-edged needle, applied to a vein, and it typically draws 3–4 drops of blood (sometimes the skin on either side is squeezed to aid release of blood).  A standard thick-gauge acupuncture needle or plum blossom needle may be used instead.  This technique is said to promote blood circulation, remove stasis, and alleviate swelling and pain.  It is employed especially when there is a toxic heat syndrome and for a variety of acute ailments.

The following report is derived mainly from a survey of reported cupping techniques published in 1989 (1), supplemented by information from acupuncture text books (5–9).

EARLY HISTORY

The earliest use of cupping that is recorded is from the famous Taoist alchemist and herbalist, Ge Hong (281–341 A.D.).  The method was described in his book A Handbook of Prescriptions for Emergencies, in which the cups were actually animal horns, used for draining pustules.  As a result of using horns, cupping has been known as jiaofa, or the horn technique.  In a Tang Dynasty book, Necessities of a Frontier Official, cupping was prescribed for the treatment of pulmonary tuberculosis (or a similar disorder).  More recently, Zhao Xuemin, during the Qing Dynasty, wrote Supplement to Outline of Materia Medica, including an entire chapter on “fire jar qi” (huoquan qi).  In it, he emphasized the value of this treatment, using cups made of bamboo or pottery, in alleviating headache of wind-cold type, bi syndrome of wind origin, dizziness, and abdominal pain.  The cups could be placed over acupuncture needles for these treatments.  One of the traditional indications for cupping is dispelling cold in the channels.  This indication is partly the result of applying hot cups.  For example, bamboo cups would be boiled in an herbal decoction just prior to applying to the skin (this is one type of shuiguanfa, or liquid cupping, so-called because a liquid is incorporated into the treatment).  Both liquid cupping and cupping over an acupuncture needle are favored for treatment of arthralgia.  Cupping also is thought to dispel cold by virtue of its ability to release external pathogenic factors, including invasion of wind, damp, and cold.

MODERN CUPPING

During the 20th century, new glass cups were developed.Common drinking glasses have been used for this purpose, but thick glass cupping devices have also been produced and are preferred.  The introduction of glass cups helped greatly, since the pottery cups broke very easily and the bamboo cups would deteriorate with repeated heating.  Glass cups were easier to make than the brass or iron cups that were sometimes used as sturdy substitutes for the others; further, one could see the skin within the cup and evaluate the degree of response.

The glass cups are depressurized by providing some fire in the cup to heat up the air within just prior to placement.  For example, hold a cotton ball dipped in alcohol with a pincer, ignite it, hold it in the cup, then rapidly apply to the skin; this is called shanhuofa (flash-fire cupping;) Sometimes, a small amount alcohol is put in the cup and lit; this method is called dijiufa (alcohol-fire cupping).

At the end of the 20th century, another method of suction was developed in which a valve was constructed at the top of the jar and a small hand-operated pump is attached so that the practitioner could suction out air without relying on fire (thus avoiding some hazards and having greater control over the amount of suction).  Both glass and plastic cups were developed, though the plastic ones are not very well suited to moving along the skin once in place, as the edges are not entirely smooth and the strength of the cups is limited.  The modern name for cupping is baguanfa (suction cup therapy).

In order to allow easy movement of the glass cups along the skin, some oil is applied.  Medicated massage oils (with extracts of herbs) are particularly useful for this purpose.  Since the cups are applied at room temperature, the indication of removing cold from the channels is no longer as applicable, at least to stationary cups.  There is some friction generated with moving cups, so that there is a small but significant amount of heat applied by that method, especially if a warming oil is used as lubricant.

Generally, the cup is left in place for about 10 minutes (typical range is 5–15 minutes).  The skin becomes reddened due to the congestion of blood flow.  The cup is removed by pressing the skin along side it to allow some outside air to leak into it, thus equalizing the pressure and releasing it.  Some bruising along the site of the rim of the cup is expected.

Today, cupping is mainly recommended for the treatment of pain, gastro-intestinal disorders, lung diseases (especially chronic cough and asthma), and paralysis, though it can be used for other disorders as well.  The areas of the body that are fleshy are preferred sites for cupping.  Contraindications for cupping include: areas of skin that are inflamed; cases of high fever, convulsions or cramping, or easy bleeding (i.e., pathological level of low platelets); or the abdominal area or lower back during pregnancy.  Movement of the cups is limited to fleshy areas: the movement should not cross bony ridges, such as the spine.  Following are some of the recommended treatment sites for various disorders.

Respiratory Diseases

·        For chronic bronchitis and asthma, one can apply cupping at the following points: dingchuan, dazhui (GV-14), shenzhu (GV-12), geshu (BL-17), xinshu (BL-15), jueyinshu (BL-14), feishu (BL-13), fengmen (BL-12), dashu (BL-11), tiantu (CV-22), shanzhong (CV-17), huagai (CV-20), and zhongfu (LU-1).   [see: Acupuncture treatment of asthma for more information about several of these treatment sites].

·        For pediatric bronchitis: blood letting followed by cupping at dazhui (GV-14).

·        For pediatric acute bronchitis: feishu (BL-13), shenchang (KI-25), lingxu (KI-24).

Digestive Diseases

·        For dysentery, early morning diarrhea, and acute and chronic gastritis, perform cupping in the following areas: around the navel; at the bladder meridian shu points; or these stomach meridian points: burong (ST-19), guanmen (ST-22), huaroumen (ST-24), tianshu (ST-25).

·        Pediatric indigestion: dachangshu (BL-25).

Pain Syndromes

·        Shoulder blade: jianwaishu (SI-14) and tianzhong (SI-11).

·        Loins: shenshu (BL-23), qihaishu (BL-24), guanyuanshu (BL-26).

·        Head: taiyang and yintang for refractory headaches and migraines; dazhui (GV-14) and baihui (GV-20) for parietal and occipital headaches; for trigeminal neuralgia: qihu (ST-13), fengchi (GB-20), sizhukong (TB-23), jiache (ST-6); for toothache: dashu (BL-11), with acupuncture, massage, and cupping at yifeng (TB-17), jiache (ST-6), xiaguan (ST-7), and hegu (LI-4).

·        Soft tissue injury: treat local pressure pain points and area of swelling; use plum blossom needling followed by cupping; additionally or alternatively use points above or below the site of injury along the channels that pass through the injury.

Gynecological Disorders

·        Infertility and irregular menstruation: shenshu (BL-23) with movement of cup downward (treat with acupuncture first, then do cupping).

·        Leukorrhea: yaoyan (extra point under the 3rd lumbar vertebra) and around baliao (BL-31 through BL-34).

·        Uterine cramps: needle zusanli (ST-36) and guanyuan (CV-4) and do cupping at guanyuan (CV-4).

Miscellaneous

·        Common cold: dazhui (GV-14).

·        Insomnia: xinshu (BL-15), geshu (BL-17), shenshu (BL-23).

·        Facial paralysis: needling and cupping dazhui (GV-14), along with needling local facial points.

RECENT RESEARCH:

The following protocols were reported to provide good results in individual clinical research reports:

a.       Head pain (2): headache, toothache, sore throat, redness and soreness of the eyes, treated with blood letting followed by cupping.  Treatment is applied to dazhui (GV-14) and dingchuan.

b.      Frozen shoulder (3): after acupuncture at jianyu (LI-15) and jianliao (TB-14) to get propagated qi reaction, use pricking of ashi points followed by cupping over the bleeding area for 10–15 minutes.  Ten treatments is a course of therapy.

c.       Acute trigeminal neuralgia treating with blood letting followed by cupping (4): treatment is applied to dazhui (GV-14) and feishu (BL-13).

d.      Acne (10): treatment is to use bloodletting followed by cupping at feishu (BL-13) and geshu (BL-17) on one day, then xinshu (BL-15) and ganshu (BL-18) the next day, alternating treatments for a total of eight days.

e.       Urticaria (11): perform cupping at shenque (CV-8) three times consecutively for ten minutes each time.  This is done for three days, followed by one day rest, and another three days as needed.

f.        Acute diseases (13): fever and headache due to infection, acute conjunctivitis, lumbar sprain; perform blood letting at dazhui (GV-14), and then cupping (which promotes further bleeding).

TREATMENT SUMMARY

Cupping therapies often follow the point selection pattern that is used for standard acupuncture therapy, with somewhat greater emphasis on the use of back points (due to the ease of performing this technique there).  In particular, most practitioners rely on using back shu points (bladder meridian) and dazhui (GV-14).  Cupping is frequently applied after treatment by acupuncture, blood letting, or plum blossom treatment.

JAMBI-Meski sudah cukup lama ditinggalkan, namun terapi bekam masih digunakan. Bahkan kini penggunanya mulai marak. Penggunaannya juga tidak memakai cara lama (tradisional). Kini diciptakan alat khusus untuk melakukan penyedotan  darah kotor. Bagi yang terbiasa sulit meninggalkan kebiasaan terapi yang populer di tanah Arab dan Cina ini.

Di Jambi sendiri alat terapi ini, dengan mudah bisa diperoleh. Selain di mal, swalayan, super market, juga tersedia di toko-toko apotik atau toko obat. Bahkan saat ini alat ini diecerkan dari rumah ke rumah. Alat ini terdiri dari tangkai pengungkit, ukuran tabung untuk darah kotor dengan berbagai pilihan. Harganya berkisar antara Rp 100-150 ribu.

Lalu bagaimana cara kerja dan manfaat bekam ini? Munindar (40), seorang guru swasta yang tinggal di Pall Merah mengaku terbiasa menggunakan bekam. Jika pusing obatnya langsung menggunakan bekam tradisional. Menurutnya, titik-titik darah berwarna merah kehitaman di mangkuk bekam adalah sumber dari penyakit.

“Rasanya, tubuh jadi ringan. Pusing dan pegal tidak pernah kumat,” aku Munindar yang mulai mengenal bekam sejak 5 tahun lalu. Menurutnya, khasiatnya instan dan badan langsung terasa enteng. Sepintas, bekam terdengar menyeramkan, karena berbau-bau “darah”. Padahal kenyataannya tidaklah seseram itu. Bekam mengambil darah di dermis (kulit jangat) dan bukan pada pembuluh darah. Karena keahliannya terkadang dia diminta membantu teman-temannya untuk melakukan bekam.

Teknik pengobatannya adalah mengambil darah kotor. Pengambilan darah dilakukan menggunakan alat berbentuk mangkuk (cupping set) yang ditempelkan pada kulit. Bagian tubuh yang merupakan titik bekam terlebih dulu “dilukai” memakai jarum lancet. Dengan pompa pengisap, udara di mangkuk kemudian disedot perlahan-lahan. Akibat perbedaan tekanan udara, kulit akan terangkat dan darah merembes keluar.

Dulu sebelum ada peralatan modern dengan menggunakan gelas atau mangkuk cekung yang dipanaskan pada bagian luarnya. Polanya juga hampir sama, mangkuk bagian luar ini menghisap darah kotor di bagian kulit, setelah dilubangi terlebih dahulu.

Titik utama yang harus dibekam hanyalah tiga. Satu titik berada di tengah ubun-ubun, dua titik di bawah bagian telinga kiri dan kanan. Namun, bisa juga ditambahkan beberapa titik lagi, misalnya titik yang berada di daerah punggung, pinggang, dan kaki, tangan, dan tulang ekor.

Umumnya, metode ini untuk meringankan gangguan pada organ dan saraf, terutama karena gangguan kelebihan darah, darah kotor atau keduanya. Ada beberapa titik bekam, yakni di atas dua urat leher, tujuannya untuk mencegah sakit kepala, sakit di wajah, sakit gigi, sakit telinga, sakit hidung, dan sakit kerongkongan.

Bekam pada tengkuk atau kuduk, kata Munindar, dapat mencegah tekanan darah pada tengkuk, mengatasi rabun, benjolan di mata, rasa berat pada alis dan kelopak mata serta mengobati lepra. Tradisi bekam ini, menurut Andi, dilakukan berdasarkan pengobatan cara Islam.

Menurutnya, bekam pada pelipis untuk mengobati sakit kepala, sakit di wajah, sakit telinga, sakit hidung, dan sakit kerongkongan. Bekam pada pundak untuk mengobati penyakit di pundak dan di leher. Bekam di atas pinggul untuk menghilangkan pegal-pegal atau kelelahan. Meski demikian jika ragu-ragu menggunakan bekam ini, sebaiknya konsultasi dulu ke dokter.  (wir)

Sumber : http://www.jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=668

BEKAM
Pengobatan Alternatif Bernuansa Religi
Atau alternative judul lain:
Pengobatan Alternatif dari Timur Tengah

Penulis: Budi Sutomo

Sebagian orang masih asing dengan istilah bekam. Padahal pengobatan alternative ini sudah diterapkan dan terbukti bermanfaat semenjak zaman para Nabi. Seperti apa sebenarnya terapi bekam, bagaimana metodenya dan benarkah bisa menyembuhkan?

Bagi yang belum pernah mencoba, terapi bekam memang terlihat irasional, mengada-ngada bahkan terkesan kuno, dibandingkan dengan pengobatan medis modern. Perlatan yang digunakan hanya berupa kop atau tabung, pipa penghisap, pisau bedah atau silet. Setelah titik simpul syaraf penyebab penyakit di tentukan, proses bekampun berlangsung. Tak perlu waktu lama dan Anda dijanjikan kesebuhan sesuai dengan keluhan. Benarkah demikian?

Sudah Ada Semenjak Zaman Para Nabi
Pengobatan dengan bekam sudah digunakan semenjak zaman Nabi. Terbukti dengan adanya hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “Kesembuhan itu terdapat pada tiga hal, yaitu minuman madu, sayatan alat bekam dan kay(pembakaran) dengaan api, dan sesungguhnya aku melarang umatku dari kay.” Sabda yang lain “Sungguh, pengobatan paling utama yang kalian gunakan adalah bekam,”(Hadits Shohih). Pengobatan ini memang berasal dari Timur Tengah. Bekam sendiri merupakan terjemahan dari hijamah, dari kata kata al-hajmu yang berarti membekam. Berarti alhijamah atau bekam diartikan sebagai peristiwa penghisapan darah dengan alat menyerupai tabung, mengeluarkan darah dari permukaan kulit dengan penyayatan. Demikian tutur Abu Fabby, ahli bekam yang berpraktek di kawasan Tanggerang dan Bandung kepada penulis
Dalam perkembanganya, bekam tidak hanya terkenal di Timur Tengah namun menyebar ke daratan Eropa dan Asia seperti Cina dan Indonesia. Masyarakat Cina mengenal bekam sebagai terapi kop, sedangkan warga Eropa menyebutnya terapi cupping. Banyak penelitian bekam dilakukan oleh ilmuwan negara barat. Seperti penelitian Kohler D (1990) yang dituangkan dalam buku berjudul, The Connective Tissue as The Physical Medium for Conduction of Healing Energy in Cupping Therapeutic Method (Jaringan Ikat sebagai Media Fisik untuk Menghantarkan Energi Pengobatan dengan Bekam). Sedangkan Thomas W. Anderson (1985) juga mempublikasikan penelitian bekam dalam bentuk buku berjudul 100 Diseases Treated by Cupping Method atau 100 Penyakit yang Dapat Diobati dengan Bekam.

Harus Serba Steril
Di Indonesia terapi bekam memang belum banyak diteliti kebenaran manfaatnya. Namun berdasarkan pengalaman praktek Abu Fabby, sudah banyak pasien bisa disembuhkan. seperti sakit kepala, pusing-pusing, sakit pinggang, sakit punggung dan sakit berat lainnya. Menurut Abu, pasien bisa sebuh karena dilakukan bekam pada titik-titik saraf terkait dengan penyakit yang dikeluhkan pasien. Caranya, titik yang akan dibekam diolesi dengan alcohol 75% agar steril, proses berikutnya dibekam hingga kulit terlihat tertarik dan berwarna kemerahan. Selanjutnya permukaan kulit (epidermis) disayat dengan pisau bedah atau silet steril sehingga akan keluar darah kotor. Setelah darah keluar disedot lagi dengan bekam hingga keluar getah bening. Getah bening ini yang berfungsi menutup lapisan yang tersayat. “Asal dilakukan dengan benar dan steril bekam tidak berbahaya karena yang tersayat hanya lapisan kulit luar, tidak sampai ke dalam lapisan daging. Biasanya 3 hari luka sudah sembuh dan mengering,” papar Abu Fabby. Melakukan bekam harus serba steril, steril hatinya dalam arti iklas dalam melakukanya, jika memungkinkan sebaiknya dilakukan sambil berpuasa baik pasien maupun yang mengobati, meminta kesembuha dari-Nya. Alat yang digunakan juga harus steril, seperti gelas bekam, penyedot udara, pisau/silet dan kantung tangan. Alat seperti silet dan kantung tangan harus sekali pakai langsung dibuang.
Walaupun tidak berbahaya, bekam tidak dianjurkan untuk penderita diabetes, pasien yang fisiknya lemah, penderita infeksi kulit merata, kanker darah, sedang hamil dan rentan keguguran kandungan, hepatitis A dan B, penderita anemia serta pasien yang sedang menjalani cuci darah. Jika dilakukan bekam pada golongan ini, dimungkinkan akan terjadi efek samping yang tidak diinginkan.

Prinsip Kerja dan Manfaat Bekam
Di luar negeri sudah banyak diteliti tentang cara kerja dan manfaat dari terapi bekam, seperti yang dilakukan oleh Dr.Amir Muhammad Sholih (Dosen Tamu di Universitas Chichago, peraih penghargaan di Amerika bidang pengobatan natural dan anggota Organisasi Pengobatan Alternatif di Amerika). Amir mengemukakan sisi ilmiah terapi bekam dalam majalah Arab Al-Ahrom edisi 218-2001. Menurut Amir, pengobatan dengan bekam telah dipelajari dalam kurikulum kedokteran di Amerika. Pengobatan bekam terbukti bermanfaat karena orang yang melakukan pengobatan dengan bekam dirangsang pada tritik saraf tubuh seperti halnya pengobatan akupuntur. Tetapi dalam akupuntur yang dihasilkan hanya perangsangan, sedangkan bekam selain dirangsang juga terjadi pergerakan aliran darah.
Manfaat bekam juga dibenarkan oleh Dr.Ahmad Abdus Sami, Kepala Divisi Hepatologi Rumah Sakit Angkatan Darat Mesir. Di majalah Al-Ahrom, Ahmad berujar, “Unsur besi yang terdapat dalam darah manusia kadaranya berbeda-beda. Bisa berupa unsur panas yang dapat menyebabkan terhambatnya aktifitas sel-sel sehingga mengurangi imunitas terhadap virus. Karenanya pasien yang dalam darah kandungan besinya tinggi, raksi pengobatan lebih lambat dibandingkan pasien kandungan besinya rendah dalam darah. Risetnya juga membuktikan, pembuangan sebagian darah seperti dalam terapi bekam terbukti mampu memulihkan reaksi pengobatan menjadi lebih cepat sehingga bekam bisa diterapkan sebakai terapi pendamping pengobatan medis. Hasil percobaan yang pernah dilakukan Dr.Amir pada pasien terinveksi virus hepatitis C dan memiliki kadar besi cukup tinggi dalam darahnya. Setelah pasien diterapi bekam dan diberi obat Interferon dan Riboviron memiliki reaksi positif dan kekebalan meningkat. Padahal sebelum dibekam reaksi terhadap obat tersebut hampir tidak bereaksi.
Dalam pengantar buku berjudul Bekam Sunnah Nabi dan Mukjizat Medis, Dr.Wadda,Amani Umar, memberikan penjelasan berbeda tentang cara kerja bekam. Menurutnya, di bawah kulit dan otot terdapat banyak titik saraf. Titik-titik ini saling berhubungan antara organ tubuh satu dengan lainnya sehigga bekam dilakukan tidak selalu pada bagian tubuh yang sakit namun pada titik simpul saraf terkait. Pembekaman biasanya dilakukan pada permukaan kulit (kutis), jaringan bawah kulit (sub kutis) jaringan ini akan “rusak”. Kerusakan disertai keluarnya darah akibat bekam akan ikut serta keluar beberapa zat berbahaya seperti serotonin, bistamin, bradiknin dan zat-zat berbahaya lainnya. Bekam juga menjadikan mikrosirkulasi pembuluh darah sehingga timbul efek relaksai pada otot sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Anda berniat mencobanya? Budi Sutomo

Sumber : http://budiboga.blogspot.com/2006/05/bekam-sembuhkan-hipertensi-migrain.html

Titik bekam pada umumnya adalah untuk meringankan gangguan pada organ dan syaraf bila di-bekam pada tempat gangguan, terutama karena gangguan kelebihan darah atau darah kotor atau kedua-duanya. Titik-titik bekam yang disukai Rasulullah SAW, yaitu :

Bekam atas dua urat leher :

  • Mencegah sakit kepala.

  • Mencegah sakit di wajah.

  • Mencegah sakit gigi.

  • Mencegah sakit telinga.

  • Mencegah sakit hidung.

  • Mencegah sakit kerongkongan.

Bekam pada tengkuk / kuduk :

  • Mencegah tekanan darah pada tengkuk.

  • Mengatasi rabun.

  • Mengatasi benjolan di mata.

  • Mengatasi rasa berat pada alis dan kelopak mata.

  • Mengatasi penyakit mata lainnya.

  • Mengobati lepra.

  • Mengobati berbagai macam penyakit.

Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim bahwa : “Rasulullah SAW pernah menggunakan hijamah (bekam) atas tiga bagian tubuh, bagian atas tulang belakang dan atas dua urat leher.”

Bekam pada pelipis :

  • Mengobati sakit kepala.

  • Mengobati sakit di wajah.

  • Mengobati sakit telinga.

  • Mengobati sakit hidung.

  • Mengobati sakit kerongkongan.

Bekam pada pundak :

  • Mengobati penyakit di pundak.

  • Mengobati sakit di leher.

Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori dan Muslim dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan bekam sebanyak 3 kali pada 2 pelipis dan pundaknya.

Bekam di atas pinggul :

  • Menghilangkan pegal-pegal.

  • Menghilangkan kelelahan.

Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan dari hadist Jabir bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan bekam di bagian atas pinggulnya karena sakit pegal-pegal yang dideritanya.

Bagian lain tubuh boleh di-bekam sesuai tempat sakitnya selama bukan area yang dilarang di-bekam.

Haruskah sebulan sekali kita di-bekam ?
Jika kita ingin terbebas dari gangguan penyakit yang diakibatkan darah kotor atau sebagai tindakan penjagaan dan kewaspadaan kita terhadap penyakit, maka sangat baik bekam dilakukan sebulan sekali.

Dan agar tubuh kita lebih sehat lagi, maka lebih baik setiap hari kita minum herba kapsul Antitoxin Plus atau herba lainnya yang berkaitan dengan pembuangan toxin (racun) dari dalam tubuh.

Laman Berikutnya »