PIJAT refleksi dan pijat Thailand sama-sama untuk mendeteksi ataupun menyembuhkan penyakit. Yang membedakan hanyalah alat yang digunakan.PIJAT REFLEKSI — Pemijat refleksi, Atik (kanan), sedang memijat bagian jari tangan salah seorang pelanggannya di ruang kerjanya di Jl Basuki Rahmat, depan RM Pagi Sore Palembang, Rabu (7/7). Pijat refleksi juga dilakukan di bagian jari kaki. (Sripo/jack)
BEBERAPA masyarakat yang biasa memijatkan tubuh di Shiatsu Sehat Subur, Kompleks Ilir Barat Permai mengaku, jika terlambat saja melakukan rutinitas pijat, misalnya seminggu satu kali atau dua minggu satu kali, maka badan mereka terasa pegal-pegal dan capek. Apakah itu, pemijatan secara tradisional, Shiatsu, Thailand ataupun refleksi itu sendiri. Setiap jenis cara memijat ini tentu saja, berbeda-beda. Misalnya saja, untuk pemijatan shiatsu ala Jepang, pemijatan yang mereka lakukan dengan cara dipijat dengan menekan. Sehingga terkadang, sesekali akan terdengar bunyi seperti tulang patah. Caranya, terkadang menggunakan tangan atau kaki dengan cara diinjak-injak.
“Wah rasanya, badan lebih pegal dan capek, jika kita memijat. Seperti kecanduanlah, jika kita melakukan secara rutin. Tapi, setelah kita dipijat, badan kita rasanya segar,” ungkap Amir, salah seorang pengunjung rutin di Shiatsu Sehat Subur, mengaku saat pertama kali mengikuti rangkaian kebugaran di Shiatsu, badan rasanya seperti terkena flu, sebelum kemudian terasa bugar.
Salah seorang juru pijat shiatsu, Susan, mengatakan, menginginkan rasa capeknya hilang. Tidak terlalu berbeda, saat mereka memilih pijat tradisional yang pada intinya melemaskan otot.
“Pelanggan pijat shiatsu, biasanya mengeluhkan badannya pegal dan capek. Kita melakukan dengan cara pijat tekan ke seluruh anggota badan, mulai dari kaki, badan hingga kepala,” ujar Susan.
Beda Alat
Sedangkan pijat refleksi dan pijat Thailand, menurut juru pijat refleksi, Herman, sama-sama bisa untuk mendeteksi ataupun menyembuhkan penyakit. Yang membedakan, menurutnya, hanyalah alat yang digunakan. Pijat refleksi menggunakan tangan, karena tangan lebih perasa saat ingin mengurangi atau membuat pijatan keras, tanpa ramuan.
“Saya tidak begitu paham bagaimana pijat Thailand. Tapi, sama-sama bisa mendeteksi atau mengobati gangguan penyakit di tubuh,” ungkap Herman, membenarkan jika dalam pijat Thailand, terkadang dibantu dengan ramuan racikan.
Salah satu masyarakat yang rutin memijatkan tubuhnya di Shiatsu, Dolah (46), menuturkan, setelah melakukan pijat refleksi, badan terasa ringan. Pijat shiatsu atau tradisional, perasaan pegal atau capek, baru terasa pada keesokan harinya saat bangun tidur. “Saya, biasanya rutin memijatkan tubuh seminggu satu kali, tergantung kondisi badan. Jika merasa capek, saya pilih shiatsu atau pijat tradisional. Tapi, kalau ada rasa tidak enak –seperti mau sakit, saya ke pijat refleksi atau pijat Thailand,” ungkap Dolah, mengaku menyisihkan uang Rp 40 ribu untuk rangkaian kebugaran di pusat Kebugaran Shiatsu “Sehat Subur”, mulai dari mandi sauna, message (tinggal pilih jenis pemijatan apa, red), dan mandi di water pool. (ono)
Dikutip dari : http://www.indomedia.com