RamuRacik – Akhir-akhir ini, muncul sebuah metode pengobatan alternatif yang mulai populer di masyarakat. Metode itu dikenal dengan sebutan reiki. Reiki merupakan suatu kaidah pengobatan alternatif yang mula-mula hanya dipraktikkan oleh biksu-biksu di Tibet yang kemudian dikembangkan oleh seorang rahib bemama Dr. Mikao Usui di Jepang.

Selanjutnya, Madame Hawayo Takata, salah satu murid Usui mulai mempromosikan reiki hingga terkenal luas sampai ke Amerika Serikat. Di Indonesia, metode ini masih tergolong anyar dan baru diperkenalkan oleh Anand Khrisna, pakar meditasi berdarah India, namun dilahirkan di Solo, Jawa Tengah.

Kata reiki berakar dari dua buah kata: rei dan ki. Kedua kata ini berasal dari bahasa Jepang. Rei bermakna alam semesta dan ki (prana dalam bahasa Sanksekerta, chi dalam bahasa Cina) yang berarti energi vital. Sehingga, reiki dapat didefinisikan sebagai sebuah teknik untuk mengakses energi dari alam semesta dalam bentuk penyembuhan alternatif yang mempergunakan tenaga kehidupan (The Universal Life Force Energy).

Di Indonesia, kita sudah banyak mengenal penyembuhan alternatif yang memakai tenaga kehidupan, seperti akupunktur dan penyembuhan prana/cakra. Namun, reiki memiliki sebuah “kecerdasan” atau “kesadaran” ilahiah (God Consciousness) yang membuatnya lebih “canggih” dari tenaga kehidupan yang dipergunakan oleh penyembuhan alternatif lainnya.

“Kecanggihan” reiki terletak pada kemampuan tenaga kehidupan tersebut dalam mencari sumber atau akar penyakit yang diderita seseorang. Lantas, tenaga kehidupan ini menyembuhkannya secara menyeluruh (whollistic), baik secara fisik, mental, emosional maupun spiritual, tanpa dibutuhkan suatu diagnosis secara medis atau metafisis oleh penghusada-nya (si pengobat).

Secara simpel, proses penyembuhannya begini. Pasien merupakan objek penerima energi yang akan disalurkan, sedangkan penghusada (sang pengobat) cuma berfungsi sebagai pipa atau wadah pendistribusi energi. Penghusada cukup menempelkan telapak tangannya pada tempat yang sakit. Ia tak perlu repot mengeluarkan tenaga. Kuncinya, pasien dan penghusada mesti sama-sama bersikap santai.

Sebab, ya itu tadi, energi kehidupan ini akan bergerak secara otomatis mendeteksi penyakit ke akar-akarnya. Umpamanya saja penderita maag. Walau tangan penghusada menempel di perut pasien, belum tentu rasa panas atau getaran akan terasa di bagian perut pula. Bisa jadi, rasa panas akan menjalar di kepala bila maag Anda disebabkan oleh stres.

Meski pasien dan penghusada tak perlu mengadakan dialog untuk menggali persoalan yang membebani pasien, pasien tetap butuh empati. Dan jangan heran, bila ada beberapa penghusada mengajak pasiennya berdialog secara intim. Berdasarkan pengalaman, secara psikologis, lewat curhat semacam ini pasien merasa lebih diperhatikan.

Uniknya, untuk menguasai reiki, seseorang tidak dituntut untuk menjalankan suatu “prasyarat” tertentu seperti yang selalu dilakukan oleh mereka yang ingin menuntut ilmu penyembuhan tradisional di Indonesia, seperti puasa, tirakat, mutih, dan sebagainya. Siapa pun boleh menguasai praktik penyembuhan reiki tanpa memiliki talenta serta terlepas dari agama dan keyakinan apa pun yang dianutnya. Tertarik? Silakan mencoba! [BO]