JAMBI-Meski sudah cukup lama ditinggalkan, namun terapi bekam masih digunakan. Bahkan kini penggunanya mulai marak. Penggunaannya juga tidak memakai cara lama (tradisional). Kini diciptakan alat khusus untuk melakukan penyedotan  darah kotor. Bagi yang terbiasa sulit meninggalkan kebiasaan terapi yang populer di tanah Arab dan Cina ini.

Di Jambi sendiri alat terapi ini, dengan mudah bisa diperoleh. Selain di mal, swalayan, super market, juga tersedia di toko-toko apotik atau toko obat. Bahkan saat ini alat ini diecerkan dari rumah ke rumah. Alat ini terdiri dari tangkai pengungkit, ukuran tabung untuk darah kotor dengan berbagai pilihan. Harganya berkisar antara Rp 100-150 ribu.

Lalu bagaimana cara kerja dan manfaat bekam ini? Munindar (40), seorang guru swasta yang tinggal di Pall Merah mengaku terbiasa menggunakan bekam. Jika pusing obatnya langsung menggunakan bekam tradisional. Menurutnya, titik-titik darah berwarna merah kehitaman di mangkuk bekam adalah sumber dari penyakit.

“Rasanya, tubuh jadi ringan. Pusing dan pegal tidak pernah kumat,” aku Munindar yang mulai mengenal bekam sejak 5 tahun lalu. Menurutnya, khasiatnya instan dan badan langsung terasa enteng. Sepintas, bekam terdengar menyeramkan, karena berbau-bau “darah”. Padahal kenyataannya tidaklah seseram itu. Bekam mengambil darah di dermis (kulit jangat) dan bukan pada pembuluh darah. Karena keahliannya terkadang dia diminta membantu teman-temannya untuk melakukan bekam.

Teknik pengobatannya adalah mengambil darah kotor. Pengambilan darah dilakukan menggunakan alat berbentuk mangkuk (cupping set) yang ditempelkan pada kulit. Bagian tubuh yang merupakan titik bekam terlebih dulu “dilukai” memakai jarum lancet. Dengan pompa pengisap, udara di mangkuk kemudian disedot perlahan-lahan. Akibat perbedaan tekanan udara, kulit akan terangkat dan darah merembes keluar.

Dulu sebelum ada peralatan modern dengan menggunakan gelas atau mangkuk cekung yang dipanaskan pada bagian luarnya. Polanya juga hampir sama, mangkuk bagian luar ini menghisap darah kotor di bagian kulit, setelah dilubangi terlebih dahulu.

Titik utama yang harus dibekam hanyalah tiga. Satu titik berada di tengah ubun-ubun, dua titik di bawah bagian telinga kiri dan kanan. Namun, bisa juga ditambahkan beberapa titik lagi, misalnya titik yang berada di daerah punggung, pinggang, dan kaki, tangan, dan tulang ekor.

Umumnya, metode ini untuk meringankan gangguan pada organ dan saraf, terutama karena gangguan kelebihan darah, darah kotor atau keduanya. Ada beberapa titik bekam, yakni di atas dua urat leher, tujuannya untuk mencegah sakit kepala, sakit di wajah, sakit gigi, sakit telinga, sakit hidung, dan sakit kerongkongan.

Bekam pada tengkuk atau kuduk, kata Munindar, dapat mencegah tekanan darah pada tengkuk, mengatasi rabun, benjolan di mata, rasa berat pada alis dan kelopak mata serta mengobati lepra. Tradisi bekam ini, menurut Andi, dilakukan berdasarkan pengobatan cara Islam.

Menurutnya, bekam pada pelipis untuk mengobati sakit kepala, sakit di wajah, sakit telinga, sakit hidung, dan sakit kerongkongan. Bekam pada pundak untuk mengobati penyakit di pundak dan di leher. Bekam di atas pinggul untuk menghilangkan pegal-pegal atau kelelahan. Meski demikian jika ragu-ragu menggunakan bekam ini, sebaiknya konsultasi dulu ke dokter.  (wir)

Sumber : http://www.jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=668