Bayu Satriyo Utomo (28) mengaku terbiasa memijat sejak kecil. Menurutnya, tujuan pijat adalah menormalkan fungsi organ tubuh. Dari situlah gangguan penyakit bisa disembuhkan.
Banyak literatur atau bacaan kesehatan yang membenarkan bahwa pijat bisa membuat tubuh kebal dan segala macam penyakit. Begitu pendapat Bayu Satnyo Utomo yang biasa dipanggil Bayu. Efek utama yang dirasakan setelah pijat adalah perasaan bugar kembali. Nah, secara psikis, perasaan bugar bisa bermanfaat untuk menghalau sakit. Menurut pemijat yang beralamat di kawasan Kuningan, Jakarta ini, salah satu kegunaan pijat adalah untuk membuat tubuh rileks dan bugar. Dengan begitu, diyakini tidak ada ketegangan dalam tubuh yang bisa memicu timbulnya beragam penyakit.

Urat Mrungkel

Bayu meyakini salah satu sumber penyakit dalam tubuh adalah karena jalur peredaran darah (urat) dan beberapa simpul saraf mengeras atau membeku (mrungkel).
Apabila dibiarkan, urat yang mrungkel akan mengganggu sistem beberapa organ dalam tubuh. Karena itu, dalam memijat, Bayu memulainya dengan memecahkan gumpalan dan bekuan simpul saraf atau jalur peredaran darah tersebut. Baru setelah itu ia melakukan pemijatan yang tujuannya, antara lain, untuk rileksasi.

Pemecahan pembekuan darah ala Bayu tersebut sebenarnya bisa menggunakan tangan saja, yaitu dengan cara memukul-mukul bagian tubuh yang terasa pegal. Namun, bagi Bayu, tangan saja tidaklah cukup optimal. Karena itu, dia memerlukan beberapa alat bantu.

Bila Anda suatu waktu dipijat oleh Bayu, jangan kaget dengan alat-alat yang dibawanya. Alat yang jumlahnya kurang lebih 25 jenis dan selalu dibawa ke mana pun ia pergi itu memang terdiri dan beragam bentuk. Ada yang seperti palu untuk melunakkan daging, ada yang seperti batok kelapa, dan ada yang mirip peluru berukuran besar.

Bayu mengaku tidak tahu bagaimana gagasan dan proses pembuatan alat itu datang. Ia cuma merasa seperti ada yang menggerakkannya untuk membuat alat-alat tersebut. “Seperti ada yang membisiki saya untuk membuat alat. Apa saja bahannya, dari batang pohon jambu yang sudah mati atau kayu saja sudah cukup. Semuanya bisa dijadikan alat bantu,” ungkap pria kelahiran Probolinggo, Jawa Timur ini.

Memang, walaupun tidak mengerti bagairnana prosesnya, alat-alat itu bisa maksimal digunakan olehnya. Seperti ketika Bayu sedang menangani pasiennya, pada sekujur badan pasiennya tampak semburat dan bilur merah yang menurut Bayu adalah pertanda alur peredaran darah dan simpul saraf yang mrungkel, (demikian istilah Bayu) sudah kembali lancar. Setelah lancar, pemijatan untuk rileksasi sudah bisa dimulai.

Ditambahkan oleh Bayu, proses pemecahan bekuan darah dan saraf tersebut bisa memakan waktu sekitar 20 menit untuk hasil yang maksimal. “Biasanya, bila sudah lan-car kembali aliran darahnya, mudah untuk proses pemijatan. Istilahnya tinggal menyelesaikan saja,” ujarnya.

Tidak Harus Dipijat

Namun, tambah Bayu, tidak semua pasien akan dipijatnya. Alasannya, tidak semua pasien memiliki daya tahan sama, sehingga bila ada keluhan yang menurutnya tidak bisa dipijat, ia akan mengatakannya terus terang.
“Sebab, sekarang ’kan suka ada yang bilang, kalau pas dipijat sakit, itu tandanya penyakitnya sedang diobati. Sebenarnya itu pemahaman yang salah. Bahkan saya menyetujui pendapat dokter, penyakit seperti stroke, asam urat, dan rematik tidak boleh dipijat. Dengan catatan, bila yang memijat tidak paham,“ katanya.

Karena pijat adalah sarana untuk menormalkan peredaran darah dan simpul saraf, sehingga membantu kerja dan sistem organ tubuh manusia, Bayu melakukan pemijatan itu dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan. Kehati-hatian itu pula yang rnenyebabkan Bayu tidak menyediakan ramuan apa pun untuk diberikan kepada pasiennya.

“Saya bukan dokter, itu yang selalu saya pegang teguh. Karena bila terjadi apa-apa dengan pasien, fatal akibatnya,” ucapnya.

Bila ada pasien yang memaksa minta diberi sesuatu, menurut Bayu, itu adalah rasa sugesti yang berlebihan. Untuk meluruskan kesalahpahaman yang mungkin terjadi, Bayu lebih senang memberikan bekal doa saja, “Sebagai umat beragama yang percaya penuh atas kehendak-Nya, kita juga wajib percaya bahwa sembuh, sakit, hidup, dan mati adalah Tuhan yang menentukan.”

Selain merupakan bagian dari penyembuhan, dengan doa orang bisa merasa tenang dan rileks. Jadi sebelum mengalami pemijatan, diyakini oleh Bayu, secara mental, mereka sudah merasa seperti diobati.

Merasa Bersyukur

Bagi Anda yang baru kenal Bayu Satriyo Utomo, barangkali akan muncul rasa ragu mengingat sosok yang terhitung masih muda usia itu memiliki keahlian yang berguna bagi banyak orang.
“Justru bagi saya itu adalah sebuah beban berat karena berurusan dengan nyawa banyak orang. Salah sedikit saja saya bertindak, panjang urusannya,” tutur bapak satu anak ini.

Diakuinya, sejak kecil dia memang bercita-cita ingin menolong orang. Sejalan dengan pertambahan usia, bakat dan anugerah berdatangan menghampirinya. “Dari kecil saya sudah sering memijat, entah itu diminta orangtua atau guru mengaji. Saya sendiri sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara mungkin bisa dibilang penurut. Ringan tangan membantu orang lain,” katanya.

Setelah menamatkan pendidikan di Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, tahun 1998, ternyata dorongan untuk berbuat baik semakin besar. Usai berkelana menimba ilmu pijat di berbagai tempat mulai dari Malang, Surabaya, dan Jakarta, Bayu mengaku tidak goyah menekuni profesi yang dianggapnya mulia itu.

Ketika ditanya keinginan untuk main sinetron mengingat tampangnya yang lumayan keren, Bayu cuma tertawa kecil. Baginya, setiap pekerjaan adalah usaha mulia dan terhormat. “Bukan berarti saya menolak ya, tapi mungkin tidak pede saja,” ujarnya dengan tersenyum. @ Suharso Rahman/Senior