Mengorek kuping, menyikat gigi kuat-kuat, hingga manuver zigzag telunjuk Anda di lubang hidung adalah  jalan tol menuju problem kesehatan!

ADA satu kesamaan pada 1.001 wartawan kesehatan: terlalu membesar-besarkan masalah kesehatan. Bahkan melebihi dokter! Wartawan kesehatan begitu percaya diri bahwa mereka lebih banyak tahu soal kesehatan ketimbang dokter–terutama yang sudah spesialis. Faktanya, pengetahuan mereka tidak mendalam dan setengah-setengah. Dan hasilnya, seperti saya, paranoid terhadap penyakit.

Di awal karier sebagai wartawan kesehatan, mendadak saya begitu peka terhadap penderitaan orang lain, menganalisis gejala-gejalanya, kemudian membuat kesimpulan. Persis seperti dokter ahli yang melakukan anamnesis. Saking ahlinya, Mas Joko, Ibu Lili, adik saya, sobat saya, menggigil ketakutan setengah mati akibat diagnosis saya! (Barangkali ada diagnosis yang benar, namun terlalu banyak yang salah).

Tapi percayalah, saya tak berniat menjahili orang lain karena saya sendiri menjadi korban dari pengetahuan setengah-setengah itu. Misalnya, berikan saya satu pak cottonbud (isi 200), maka satu setengah bulan kemudian yang tersisa hanyalah bungkusnya saja. Kadang-kadang, jika kehabisan cottonbud –demi kebersihan telinga, saya kreatif membungkus ujung korek api dengan kapas agar telinga saya tetap bersih. Oya, saya lebih memberikan apresiasi pada Abah Adim di Cariu, Jonggol, yang merem melek membersihkan telinganya dengan bulu ayam, ketimbang bintang sinetron seksi yang kupingnya kotor.

Selalu begitu, hingga suatu ketika saya menderita infeksi telinga. Sakit dan berdenging-denging. Terutama ketika Iyet, pacar sobat saya yang suaranya cempreng, sedang kambuh penyakit nyerocosnya. Karena saya lebih menghargai persahabatan, saya mengalah dan pergi ke dokter spesialis THT.  “Ini sih karena terlalu sering membersihkan telinga,” kata dokter spesialis THT itu sambil mengintip lubang telinga saya. “Jangan pernah… ,” katanya seraya mengorek kuping saya dengan benda dingin, ”Membersihkan.. telinga… sejauh… ini!” Wah!

Saya langsung kehilangan simpati pada dokter itu. Saya pilih dokter lain yang bisa memberikan pembenaran soal urusan korek kuping. Ternyata ada, meski dengan tambahan hydrogen peroxide. Tapi di hati kecil saya, saya mengakui bahwa dokter THT pertama saya itu memang benar.

Jadi sobat, berikut adalah trik agar Anda bisa tetap hidup bersih tanpa harus mati dalam keadaan paranoid!

Lubang ini antiinvasi
Membersihkan lubang telinga dapat menimbulkan infeksi dan itu malah menambah buruk masalah. “Bahkan membersihkan telinga dengan cottonbud terlalu dalam bisa membuat gendang telinga pecah,” kata asisten profesor di Otolaryngolog Washington University, Dr. Timothy Hullar. Sarannya, jangan lakukan apa pun pada telinga Anda. Lho?

“Sebenarnya Anda tidak perlu membersihkan lubang telinga,” katanya. Barangkali memang ada sedikit orang yang bermasalah dengan tumpukkan kotoran di lubang telinga, tapi itu bisa diselesaikan dengan memberikan sedikit hydrogen peroxide plus air. Takarannya 50:50 dan lakukan dua kali seminggu. Sebagai pengganti air Anda juga bisa menggunakan minyak mineral. “Olive oil juga oke, cuma mungkin Anda akan berbau seperti salad,” kata Dr Hullar.

Potonglah dengan cinta
Memotong kuku dengan paksa, misalnya menggunakan kuku jari tangan yang lain, bisa membuat kuku yang tersisa masuk ke dalam daging. Pada kasus yang ekstrem, masalah ini bisa berakhir pada infeksi tulang atau luka busuk. Walau jarang, ada pula yang berakhir dengan amputasi. Bahkan, keadaan seperti tumbuhnya bagian kuku ke dalam kulit bisa berakhir dengan “Perubahan sebagian kuku yang bisa merusak akar kuku sehingga tidak dapat lagi tumbuh,“ kata ahli dari Rhineback, New York, Tracey Toback., D.P.M.

Saran : jangan memakai sepatu yang terlalu sempit sebab biasanya akan menekan kuku dengan keras. Dan jangan memotong kuku terlalu pendek, atau terlalu dalam dari batas kuku. Anda bisa lihat kulit di bawah kuku Anda telah memberikan batas alamiahnya.

Mengurangi manuver di lubang hidung
Tahukah Anda jika obat tetes hidung dan spray bisa menimbulkan kecanduan? Suster di Eastern Virginia Ear, Nose & Throat Specialist, Bonnie Dooley, RN, memerhatikan seorang pasien yang tidak dapat pergi sejam saja tanpa spray hidung. Padahal pemakaian yang berlebihan bisa menyebabkan menurunnya kemampuan Anda dalam mencium bebauan, atau malah membuat hidung mampet. Penyemprotan yang ekstrem juga dapat mengacaukan tekanan darah.

Lain kali, jika hidung Anda terasa mampet cobalah dulu air garam. Toko obat-obatan biasanya menjual spray yang berisi larutan saline. Larutan ini akan membasahi bagian rongga hidung yang kering dan tidak akan menimbulkan pemakaian yang berlebihan. Mencoba antihistamin, obat antialergi, dan menghirup inhaler dapat menghilangkan mucus.

Kulit nan bersih
Survey di Ballparks tahun 2005 menunjukkan bahwa 37 persen pria tidak membersihkan tangan mereka setelah ‘menabung’ di toilet. Jijik, tentu saja. Hal sebaliknya terjadi di Surabaya, pemerintah kota meminta warganya mencuci tangan sesering mungkin agar warganya terhindar dari penyakit influenza, diare, SARS, dan infeksi nosokomial (infeksi penyakit yang didapatkan dari rumah sakit). Demikian laporan Koalisi untuk Indonesia Sehat.

Seberapa sering harus cuci tangan? Ada orang yang tak mau berhenti cuci tangan saking khawatirnya. “Mereka mencuci dan mencuci terus tangannya, kemudian menggosok-gosokkan kedua telapak tangan untuk memastikan kebersihannya,” kata dermatolog di California, Dr Julian Omidi.

“Jika dilakukan terus-menerus, hal ini bisa menimbulkan trauma pada kulit bagian atas. Selanjutnya, ujung-ujung saraf akan teriritasi, menjadi penyebab lingkaran setan masalah gatal-gatal dan keinginan untuk terus-menerus menggaruk.”

Bahkan masalah saraf ringan akibat terkikisnya minyak alami pada kulit tangan gara-gara terlalu rajin cuci-tangan bisa membuat telapak tangan Anda dipenuhi bintil-bintil. Kejadian serupa bisa menimpa wajah Anda, terutama jika terlalu boros memakai sabun. Kelenjar minyak akan berproduksi lebih giat, membuat pori-pori kulit dan folikel, lubang tempat tumbuhnya rambut-rambut halus, tersumbat. Akibatnya, gunung-gunung merah akan tumbuh dengan permai di wajah Anda yang tampan.

Gigi secemerlang bintang
“Jangan menggosok gigi keras-keras,” kata dokter gigi dari Klinik DAT, Drg Nuh Talib Hamdani. Menggosok gigi dengan menggunakan tenaga penuh hanya akan membuat email gigi Anda menipis sehingga membuat permukaan gigi lebih terekspos. “Ini alasan mengapa gigi Anda terasa ngilu saat minum air dingin,” katanya.

Pada kasus yang lebih berat, bukan hanya rasa dingin yang membuat gigi ngilu tapi juga rasa panas. Akibat lain dari penipisan email adalah kuningnya gigi. “Ini karena lapisan dentin yang berwarna kuning jadi terlihat,” kata Dr. Nuh. Akibatnya, karena dentin ini lebih rapuh ketimbang email maka gigi Anda mudah patah.

Menggosok gigi keras-keras juga bisa menyebabkan erosi gusi. Efeknya, gigi terlihat lebih panjang karena gusi turun hingga akarnya terlihat. Bukan hanya membuat Anda terlihat makin jelek, kasus ini juga bisa membuat gigi Anda terasa ngilu. Lalu apa ciri Anda biasa menggosok gigi keras-keras? “Sikat gigi Anda akan melebar ke samping, persis bunga. Lalu gigi Anda juga terlihat kuning dan panjang,” kata Dr. Nuh.

Saran: Gosoklah gigi Anda secara vertikal atau dengan gerakan memutar –ini akan mengurangi gesekan yang radikal. “Tapi jika Anda sulit mengubah kebiasaan menggosok gigi penuh tenaga, pilihlah sikat gigi yang bulunya lembut.. bukan yang sedang apalagi yang berbulu keras.”

‘Knalpot’ yang gatal
Gatal-gatal pada –maaf- anus atau rektal yang disebut juga pruritus bisa terjadi akibat kurang bersihnya area tersebut, terutama toilet tempat Anda nongkrong. Umumnya, kasus ini disebabkan adanya sisa kotoran yang melekat pada lipatan-lipatan di dekat rektal.

Tapi gatal-gatal dan iritasi juga bisa terjadi akibat aktivitas menyeka secara berlebihan dengan kertas toilet, atau terlalu bersemangat mencucinya dengan air. Area rektal memiliki minyak alami yang bisa mengurangi kemungkinan iritasi. Menyabuni dan membersihkannya secara berlebihan hanya akan menghilangkan minyak tersebut.

Saran: Jika Anda menderita masalah ini, maka menurut ahli kulit dari Klinik Erha, Dr. Tridia Sudirga., Sp.KK., Anda bisa menggunakan Proctofoam HC –obat yang berisi hydrocortison dalam bentuk aerosol. Lakukan setiap Anda selesai berurusan dengan toilet, tapi penggunaannya jangan melebihi waktu dua minggu. “Hydrocortison mampu mengurangi gatal dan inflamasi,” kata Dr. Tridia. Untuk mendapatkan obat ini Anda harus berkonsultasi dengan dokter.

Hal serupa bisa terjadi dengan ‘semak-semak’ di area terpenting Anda. “Menggosoknya terlalu keras bisa membuat rambut tumbuh ke dalam sehingga menimbulkan jerawat,” kata urolog dari Bradenton, Florida, Dr. G. Bino Rucker. Anda memang harus mencucinya tapi lakukan dengan lembut. Cucilah dengan sedikit sabun sehingga Anda tidak membuang minyak alami yang Anda butuhkan. Jika Anda ragu-ragu: Biarkan semak-semak itu tumbuh dalam damai.

Inilah Hasilnya!

• Si Penggergaji
Dokter gigi Jeffrey Shapiro, DDS pernah mempunyai pasien yang begitu bersemangat melakukan flossing sehingga dia menggergaji salah satu giginya. “Pria itu baru sadar giginya bermasalah ketika tindakannya mengenai saraf di dalam gigi.”

• Penis Ajaib
Dr Michael Abernety, seorang dokter dan bertugas di unit gawat darurat, pernah menangani seorang remaja pria yang ingin memiliki penis berminyak. Dia menggunakan tabung tipis dari kaleng penyemprot WD-40 untuk menyemprotkan sesuatu ke dalam saluran kencingnya. ”Karena bertekanan tingi, WD-40 itu menyemprot demikian keras sehingga jaringan lunak sekaligus kulit penisnya rusak. Dia butuh operasi plastik,” katanya. Dan si remaja takkan bisa menggunakan penisnya lagi…

• Daging Menganga
Dr Abernethy  terbiasa melihat orang-orang lapangan menjahit sendiri luka menganga yang mereka peroleh. “Saya menyebutnya Rambo syndrom,” katanya.” Sebab, orang-orang ini menjahit dengan menggunakan benang gigi atau tali pancing. Obat biusnya adalah Jack Daniel’s. Mereka yang beruntung bisa terhindar dari infeksi, walaupun tetap memiliki luka barut yang menyeramkan.

Penulis: Kevin Cook & C. Gumilang