Hening membuat bening si nada sunyi.

Bening membuat jernih si mata hati.

Jernih untuk berkaca melihat si isi diri.

Tersenyum sadar untuk merubah rasa.

Geli tertawa sadar salah untuk merubah Jiwa.

Mungkin bersih, mungkin baru, mungkin transformasi.

Mungkin, mungkin dan mungkin. Tergantung ijin si Empunya diri.

Saat masih kecil jika saya marah, biasanya saya “gak” mau makan. Saya “mogok” makan he..he..namanya juga anak-anak. Ehm, nantinya saya paham bahwa hal tersebut ada manfaatnya. Lho, kok bisa? Karena saat sangat lapar semua emosi negatif terendah dalam diri akan muncul, mungkin bisa berupa marah yang meledak, mungkin teriakan atau respon lainnya. Nah, biasanya saat kita marah, ayah ibu atau orang yang lebih tua dari kita akan memberikan nasehat atau wejangan. Kalau nasehat tersebut pas, mengena dan kita bisa menerimanya (Acceptance), maka akan terjadi penyadaran diri (Awareness) bahwa kitalah yang salah. Lalu, kita mungkin menemukan kalimat yang pas, misalnya: “Oh, Papi tuh maksudnya sayaaang…” (Reframing) dan disitulah terjadi transformasi diri (Transformation). Setelah itu emosi marah kita akan mereda, bukan? Setelah itu, kita akan memiliki judul baru untuk Papi kita yakni Papi baik… dan sebagainya.

Duh, jujur deh setelah saya belajar NLP ternyata meng-ekspresi-kan emosi marah jauh lebih baik dibandingkan emosi marah yang dipendam. Karena kalau emosi marah dipendam, dia bak bara api maha dahsyat yang tersimpan di dalam gunung yang bila meledak akan meluluhlantakan banyak hal. Uh, pengalaman memendam emosi marah ini, saya bayar sangat mahal dalam kehidupan saya. Sungguh sangat mahal… Emosi marah haruslah bisa dikelola dengan baik. Sehingga bila memang emosi marah tersebut harus disampaikan, ya sampaikan saja tanpa “rasa”. Masak bisa? Ya, bisalah… Kuncinya melatih rasa (dalam bahasa Jawa baca ROSO), salah satu metode latihannya adalah berpuasa yang bermakna.

Baiklah, salah satu latihan yang dianjurkan oleh Pembimbing saya adalah puasa yang ternyata sudah saya kenal sejak saya masih kecil, jadi cukup mudah untuk menjalankannya. Namun, kalau dulu saya berpuasa tanpa makna, sekarang saya berpuasa dengan tujuan memberi makan batin, memberi makan sang jiwa dan untuk transformasi diri. Tujuan saya menulis artikel inipun adalah agar Anda juga bisa meningkatkan kemampuan Anda dalam olah batin diri sendiri tanpa perlu bantuan pihak lain. Sehingga potensi diri yang ada di dalam diri Anda terbangkitkan dan Anda dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ada banyak cara berpuasa, misal:

1. Makan terakhir jam 10 malam, lalu buka puasa jam 6 sore esok harinya, tepatnya saat matahari tenggelam.

2. Sehari Makan, Sehari Puasa (sangat menghemat pengeluaran, betul? He..he…)

3. Puasa seperti yang dilakukan umat Muslim yakni makan saur pada waktu Subuh dan buka puasa pada waktu Maghrib.

4. Puasa Vipasana, hanya makan buah dan sayuran sampai jam 12an siang dan tidak makan lagi sampai esok bangun pagi.

5. Puasa Senin Kamis dan banyak lagi cara atau metode orang berpuasa.

Saya tidaklah tertarik untuk membahas manfaat puasa yang memang sudah teruji sangat baik untuk kesehatan kita. Jadi Anda boleh memilih jenis puasa yang Anda rasa pas dan dapat dinaikkan kadarnya sesuai kebutuhan. Saya tertarik bagaimana mengoptimalkan manfaat puasa? Bagaimana bisa terjadi transformasi diri? Dalam NLP ada teknik Reframing yang sederhana namun jika digunakan dengan tepat guna akan berdampak transformasi dalam hidup kita.

Saat berpuasa, secara fisik bisa membawa leval emosi kita turun ke posisi terendah dalam diri kita. Sehingga emosi kita gampang me-respon, gampang meletup, gampang tersinggung, gampang marah, mau makan orang he..he.. apapun bentuknya. Nah, inilah peluangnya dan saat inilah saat terbaik untuk transformasi diri atau bahasa awam kita kenal sebagai refleksi diri, kontemplatif alami atau retret. Sekali lagi ini adalah pengalaman penerapan NLP gaya saya, jadi bukanlah suatu yang baku, siapa tahu pas juga untuk Anda.

Berikut tahapan memanfaatkan puasa untuk transformasi diri:

1. Eling atau dalam pengertian saya, saya jabarkan sebagai Sadari Saat Ini. Sadari apa yang Anda pikirkan saat ini. Sadari apa yang Anda katakan saat ini. Sadari apa yang Anda lakukan saat ini. Sadari dialog apa yang sedang terjadi dalam pikiran Anda saat ini. Marah? Kesal? Kecewa? Sedih? Atau emosi negatif lainnya yang sangat menyita energi tubuh kita.

2. Amati. Ya, setelah Anda menyadari apa yang Anda alami saat ini, setelah itu amati diri Anda dari jarak jauh (dalam NLP disebut posisi 2 atau posisi 3, gunakan pilihan yang Anda rasa pas). Jadi Anda seperti melihat diri Anda sendiri. Boleh gunakan teknik apapun, misal: menggambar diri Anda di kertas kosong dan berikan emosi yang tadi dialami. Cukup amati emosi tadi.

3. Terima dengan Ikhlas emosi negatif yang muncul, sadari bahwa kita manusia biasa yang mungkin saja bisa marah, kesal, kecewa, sedih dan kawan-kawannya. Terima, terima dan terima dengan ikhlas sampai rasa dalam diri Anda merasa nyaman. Lalu, akui dengan jujur ke Sang Pencipta bahwa kita masih memiliki emosi-emosi negatif tersebut dan mohon ampun untuk dibuang atau dilepaskan.

4. Rubah menjadi lebih baik. Bisa berupa pernyataan baru yang sangat powerful, misal dari sebuah: “Ah, malaslah aku mencobanya. Karena selama ini selalu gagal” kita ganti menjadi kalimat: “Mengapa tidak saya coba dulu ya, paling gagal. Toh, itu juga artinya belajar”

Contoh menerapkan latihan ini:

1. Misal di kantor, saat meeting terjadi dialog yang membuat Anda kesal, langsung berikan pertanyaan kepada diri Anda, misal: “Ngapain si Krishna (gunakan nama Anda sendiri) kesal?” (catatan: kata “si” akan otomatis membuat jarak antara Anda dan Krishna) dan segera berikan nasehat: “Nanti cepat tua, lho!” Kalau jawabannya menimbulkan respon balik yang lucu dari si Krishna, artinya Anda telah berhasil membuat si Krishna berubah menjadi lebih baik dan mungkin si Krishna membuat pernyataan baru dari kejadian tadi: “Iya, ya coba saya perhatikan dulu, siapa tahu ide dia benar dan lebih baik?”

2. Saat sore hari menjelang puasa, Anda jalan-jalan di Mal dan melihat jualan makanan buka puasa. Ingat, karena dorongan perasaan lapar, kemungkinan besar kita akan membeli apapun yang kita inginkan karena rasa lapar akan membuat sepertinya semua makanan yang kita lihat menjadi nikmat rasanya. Nah, saat respon ingin membeli makanan sebanyak mungkin ini muncul dalam diri, Eling, eling dan eling. Lalu amati… Terima dengan ikhlas perasaan tersebut, lalu rubah dengan dialog misalnya: “Baiklah aku akan tetap membeli makanan buka puasa ini, namun untuk orang lain, bukan untukku” Wow, walaupun sederhana ini akan menjadikan perubahan yang kuantum.

Contoh lain: “Ehm, makanan ini nikmat banget deh kayaknya? Toh, harganya masih masuk budget biaya makan sehari aku.” STOP, STOP, STOP! Jangan banyak dialog dalam diri lagi, langsung masuk ke sikap eling, eling dan eling. Lalu amati… Terima dengan ikhlas perasaan tersebut, lalu rubah dengan dialog baru misalnya: “Baiklah, aku tetap beli makanan buka puasa dengan budget biaya makan sehari aku, tapi sekarang aku belikan 5 bungkus nasi telor agar ada 4 orang lagi yang mungkin tidak punya uang, tapi tetap bisa buka puasa. Toh, di sekitar kita banyak sekali saudara kita yang tidaklah terlalu mampu membeli makanan. Mereka sudah terlalu sering puasa walau bukan bulan Ramdhan he..he..” Tarik nafas dalam, tahan sebentar, lalu hembuskan nafas Anda sebanyak mungkin sambil bayangkan menjadi pribadi yang baru dan jreeeng… jadilah….

3. Jalan-jalan dan lihat ada DISKON jualan pakaian, umumnya Anda yang wanita (tidak semua sih he..he..) secara alami merespon “Wah, lumayan banget diskon 60%, jadi hemat 60% nih” STOP, STOP, STOP! Jangan banyak dialog dalam diri lagi, langsung masuk ke sikap eling, eling dan eling. Lalu amati… Terima dengan ikhlas perasaan tersebut, lalu rubah dengan dialog baru misalnya: “Baiklah, aku tetap beli pakaian yang sedang diskon tersebut. Tapi bukan untukku, namun untuk setiap orang miskin yang kutemui saat aku pulang ke rumah nanti” Tarik nafas dalam, tahan sebentar, lalu hembuskan nafas Anda sebanyak mungkin sambil bayangkan menjadi pribadi yang baru dan jreeeng, momentum ini akan membuat Anda ber-transformasi menjadi baru. Seru, bukan?

Oh ya, puasa lainnya yang sering saya lakukan adalah Puasa Bicara. Ya, dalam satu tahun belakangan ini sebagai pembicara malahan saya semakin sering puasa bicara. Kadang 1 hari, maksimum 2 hari. Kalo seminggu ya repot, omset turun he..he..

Apa yang saya lakukan saat puasa bicara?

Hanya mengamati apa yang muncul dalam benak saya? Ya, mengamati saja. Kalau muncul sesuatu yang tidak nyaman baik berupa gambaran suara ataupun perasaan dari dalam diri, maka saya amati saja sampai menghilang sendiri. Paling banyak kegiatan saat kita puasa bicara adalah Internal Dialog yang muncul lalu lalang di benak kita. Amati saja dan jangan menyimpulkan apapun. Seru kan? Selamat mencoba.

Makna reflektif puasa untuk diriku:

Puasa adalah berdiam. Berdiam untuk tidak makan. Berdiam untuk tidak minum. Berdiam untuk tidak bicara. Berdiam untuk tidak menilai. Berdiam untuk tidak berdialog dengan kata-kata yang terbatas. Namun, berdialoglah dengan sang sunyi. Sang sunyi di dalam diri. Sunyi tanpa kata. Sunyi tanpa suara. Sunyi tanpa rasa. Namun sunyi yang berenergi. Energi transformasi. Energi perubahan dari Ilahi. Energi potensi diri. Menjadi diri sendiri. Untuk mengabdi pada sang Makna. Sang Makna Kehidupan agar nafas tidaklah menjadi sia-sia…

Memang sulit dipahami, berpuasalah dengan sang makna… Sampai saatnya tiba, sang di dalam diri akan berkata “Ah, ini maksudnya”. Saat kita bersua dengan kalimat pendek ini, kita akan (mungkin) bersujud syukur tanpa kata-kata bahwa sungguh Allah Maha Besar… dan aku hanyalah debu tak berarti… Duh, Gusti Allah mohon ampun… Kadang aku masih sering sombong dengan kekuatanku sendiri…

Krishnamurti yang masih terus ber-retret menguak misteri siapa diri ini.

Sumber : ciptarasakarsa.com