Setiap bulan, perempuan mengalami siklus haid yang rutin jika tidak sedang hamil. Itu siklus yang normal. Namun, adakalanya menstruasi itu tidak berlangsung normal. Tidak hanya tidak haid selama sebulan, tetapi lebih dari tiga bulan

. Kalau sudah begitu, bisa jadi Anda mengalami amenorrhea!

Haid atau menstruasi, kata dr Agus S As`Adi, Spesialis Kandungan dari RS. Fatmawati, Jakarta Selatan, merupakan peluruhan dinding rahim yang terdiri dari darah dan jaringan tubuh. Hal ini berlangsung setiap bulan dan merupakan suatu proses normal bagi perempuan biasa. Dengan kata lain, menstruasi adalah suatu proses pembersihan rahim terhadap pembuluh darah, kelenjar-kelenjar dan sel-sel yang tidak terpakai karena tidak adanya pembuahan atau kehamilan.

Normalnya, seorang perempuan haid untuk pertama kali pada usia 12 atau 13 tahun. Tetapi ada juga yang mengalami menstruasi lebih awal (usia 8 tahun) atau lebih lambat yaitu pada usia 18 tahun. Menstruasi itu sendiri akan berhenti ketika perempuan sudah berusia sekitar 40-50 tahun, atau yang lebih dikenal dengan istilah menopause. Siklus menstruasi terjadi setiap 21-35 hari sekali, dengan lama haid berkisar 4-7 hari. Jumlah darah haid normal berkisar antara 30-40 ml.

Sebagian perempuan mengalami haid yang tidak normal, seperti usia haid yang datang terlambat, jumlah darah haid yang sangat banyak sampai-sampai harus berulang kali mengganti pembalut, nyeri atau sakit pada saat haid, gejala PMS (Pre Menstruasi Syndrom), siklus haid yang tidak teratur dan masih banyak lagi. Gangguan ini jangan didiamkan karena dapat berdampak serius. Haid yang tidak teratur, misalnya dapat menjadi pertanda infertilitas.

Amenorrhea Primer dan Sekunder

Gangguan yang umumnya terjadi pada perempuan pada saat haid adalah tidak haid selama beberapa waktu. Ini disebut dengan amenorrhea. Gangguan pada saat haid dianggap masih normal, apabila gangguan itu terjadi selama dua tahun pertama setelah dua tahun pertama setelah haid pertama kali. Artinya, jika seorang perempuan mengalami haid pertama pada usia 11 tahun, maka hingga usia 13 tahun haidnya masih tidak teratur. Namun jika setelah usia 13 tahun haidnya masih tidak teratur, dipastikan ia mengalami gangguan haid. “Amenorrhea adalah keadaan tidak haid untuk sedikitnya tiga bulan berturut-turut,” kata dr Agus.

Amenorrhea digolongkan menjadi dua, yaitu amenorrhea primer dan sekunder. Amenorrhea primer adalah di mana seorang perempuan yang sudah berusia sampai 14 tahun belum juga mengalami haid. Keadaan ini seringkali diakibatkan oleh kelainan yang didapat sejak lahir, baik kelainan genetik, misalnya pada sindroma Turner maupun kelainan karena adanya abnormalitas pada proses perkembangan alat-alat reproduksi, misalnya pada penyakit agenesis Tuba Muller yang menyebabkan tidak adanya rahim pada tubuh penderita.

Amenorrhea primer dapat juga disebabkan oleh sumbatan atau halangan di daerah vaginal. Kasus hymen imperforata, misalnya. Ketiadaan haid disebabkan oleh selaput dara yang terlampau tebal dan menutupi seluruh rongga vagina sehingga darah haid tidak bisa keluar. Kasus ini diperbaiki dengan jalan operasi.

Amenorrhea sekunder adalah tidak haid lebih dari tiga bulan setelah kejadian haid sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh masalah anatomik, yakni jaringan parut endometrium karena infeksi atau kuretase, dan anovulasi. Anovulasi ini disebabkan oleh kegagalan ovarium dalam mensekresi estrogen dan progesteron. Penyebab paling sering dari amenorrhea sekunder adalah hamil dan menyusui, menopause dan menopause prematur, yaitu menopause yang terjadi pada usia kurang dari 40 tahun. Selain itu, amenorrhea sekunder juga disebabkan oleh malnutrisi atau asupan gizi yang buruk yang menyebabkan penurunan berat badan secara drastis, stres, obesitas, dan latihan fisik yang berlebihan.

Gejala dan Penanganan

Gejala amenorrhea cukup bervariasi dan tergantung pada penyebabnya. Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, tidak akan ditemukan tanda-tanda pubertas, seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut di daerah kemaluan dan rambut ketiak, serta perubahan bentuk tubuh. Jika penyebabnya adalah kehamilan, akan ditemukan morning sickness (mual dan muntah) dan pembesaran perut. Jika penyebabnya adalah kadar hormon tiroid yang tinggi, gejalanya adalah denyut jantung yang cepat, kecemasan, kulit yang hangat dan lembab.

Untuk penegakan diagnosa amenorrhea, harus dipikirkan lebih dahulu apakah ketiadaan haid ini termasuk dalam amenorrhea primer atau amenorrhea sekunder, perlu dipikirkan bahwa ketiadaan haid itu merupakan akibat dari kehamilan, sekalipun si penderita tidak pernah melakukan hubungan seksual. Oleh karena itu, tes kehamilan tetap harus dilakukan. Bila hasilnya negatif, barulah dipikirkan penyebab-penyebab lainnya.

Penangan amenorrhea lebih ditujukkan kepada penyebab utama, bukan pada amenorrhea-nya sendiri. Dengan memperbaiki keadaan yang menyebabkan amenorrhea, diharapkan penderita kembali mendapatkan haid secara lancar dan teratur. Untuk penanganan medis, umumnya hanya diberikan suplemen hormonal, misalnya suplemen progesteron. Namun yang terpenting adalah perbaikan pola makan, untuk masalah malnutrisi dan obesitas, perbaikan pola berolahraga untuk amenorrhea yang disebabkan oleh olahraga yang terlampau berat dan perbaikan pola hidup untuk kasus amenorrhea yang diakibatkan oleh stres.
(Genie/Genie/tty) Sumber: Okezone