A Piaw memijat kepala Ketua Umum Kadin MS Hidayat yang kelelahan mengikuti kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Oleh: Wisnu Nugroho A

SIAPA di antara kita yang tidak suka dipijat? Pasti ada, tetapi tidak banyak kumpulannya dibandingkan kumpulan mereka yang suka dipijat. Hayooo ngaku aja… Pijat saja bukanlah dosa, toh?

Beban pikiran dan kelelahan fisik yang kerap membuat nyeri di pundak memang paling enak dipijat. Dengan dipijat, beban pikiran memang tidak berkurang dengan sendirinya, tetapi setidaknya dengan meredanya nyeri dan beban di pundak, beban pikiran bisa lebih mudah dikelola.

Untuk Presiden kita, kebutuhan akan hadirnya pereda nyeri dan beban di pundak dirasakan sejak ia menyatakan diri keluar dan kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri. Kala itu Susilo Bambang Yudhoyono mulai aktif berkampanye untuk partai yang didirikannya, Partai Demokrat, tahun 2004 silam.

Aktivitas kampanye yang panjang untuk berkeliling dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia yang sangat luas ketika itu memang melelahkan. Untuk itulah, Pak Beye membutuhkan penawar lelah fisik untuk sekaligus mambantu menjaga kebugaran yang selalu dituntut darinya.

Bayangkan, untuk satu hari harus tampil di empat sampai enam kegiatan berbeda baik pendengar maupun tempatnya. Jika fisik tidak prima dan terjaga kondisinya, bisa buyar semuanya. Di tengah kebutuhan Pak Beye itu, maka hadirlah Pak A Piaw.

A Piaw bukan orang asing sama sekali untuk Pak Beye. Pria bertubuh gempal dan selalu mencukur halus rambut kepalanya adalah tukang pijat langganan keluarga Erwin Sudjono sejak ia bertugas di Tanjungpura, Kalimantan sebagai Asisten Operasi Kasdam VI/Tanjungpura pada 1996. Erwin Sudjono yang jabatan terakhirnya adalah Kasum TNI adalah saudara ipar Pak Beye karena perkawinannya dengan Ani Yudhoyono, putri Jenderal TNI (purn) Sarwo Edhi Wibowo.

Sejak tahun 2004, A Piaw masuk dalam hitungan di lingkungan Istana Kepresidenan. A Piaw banyak membantu Pak Beye meringankan beban dan nyeri di pundak lantaran banyaknya tugas, masalah, dan tantangan yang muncul ketika menjabat sebagai Presiden.

Selain meredakan beban dan nyeri di pundak, A Piaw juga bisa membantu SBY tetap terjaga di tengah kelelahannya. Ia juga bisa membantu Pak Beye tidur lelap agar ketika bangun badan kembali segar kondisinya.

Karena peran pentingnya ini, A Piaw pun tidak pernah ketinggalan ke mana pun SBY pergi, terutama pergi beberapa hari di dalam negeri atau ke luar negeri. Keramahan dan kejenakannya khas laki-laki membuatnya mudah dikenali dan disukai. Bahkan, setelah selesai bertugas meredakan nyeri pundak Pak Beye, A Piaw tidak keberatan mempraktikkan keahliannya di pundak anggota rombongan kepresidenan lainnya. Semua diperlakukan sama.

Karena itu, biasanya, dalam perjalanan panjang di atas pesawat Kepresidenan, Pak A Piaw yang dalam rombongan masuk dalam kategori staf urusan dalam sudah “diantre” peserta rombongan lain. Untuk sekadar membantu agar anggota rombongan bisa tidur lelap, A Piaw dengan mudah melakukannya. Pijatan menggunakan alat berbentuk tongkat seukuran pensil pada kulit kepala, selalu dilakukannya.

Terasa nyeri pada awalnya, apalagi untuk mereka yang tidak terbiasa dipijat. Ingin menjerit dan menangis rasanya. Tetapi, setelah proses pijatan selesai, badan amat sangat ringan rasanya. Tidur dan istirahat pun terasa lelap karenanya. “Terima kasih Pak A Piaw,” begitu ujar para pengguna jasanya.

Hmm, uenakkk rasanya…

Sumber : kompas.com