Maret 2009


banner-herbal-medicine

Pengobatan terhadap impotensi, disfungsi ereksi

Deskripsi

Resep 1

Bahan:

  1. 15 g biji kucai
  2. 15 g biji pare kering
  3. 20 g jahe
  4. 5 g ketumbar
  5. 5 g lada hitam
Pengolahan:
  1. Haluskan semua bahan,
  2. Rebus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc
  3. Saring
  4. Minum hangat-hangat
Resep 2
Bahan:

  1. 30 g daun tapak liman
  2. 30 g lengkuas merah
  3. 5 butir cabai jawa
  4. 10 g biji pare kering, dihaluskan
  5. 1 sendok makan madu
Pengolahan:
  1. Cuci bersih semua bahan (kecuali madu),
  2. Rebus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc,
  3. Saring,
  4. Tambahkan madu dan aduk,
  5. Minum.

Resep 3
Bahan:

  1. 3 g ginseng
  2. 15 butir ginko biloba (pek ko), buang kulitnya dan tumbuk
Pengolahan:
  1. Cuci bersih bahan,
  2. Tumbuk halus,
  3. Seduh dengan 250 cc air panas,
  4. Minum airnya.
Catatan:

  • Konsumsi tiram secara teratur dan tetap konsultasi ke dokter,
  • Biji kucai dapat dibeli di toko obat Tionghoa.
  • Jangan konsumsi ginseng jika sedang pilek, flu, radang paru-paru dan infeksi paru lainnya.

Sumber

Prof. HM Hembing Wijayakusuma

Semakin banyak yang Anda berikan…semakin banyak yang Anda peroleh.

giving

“Apapun yang kauberikan, akan kembali lagi kepadamu.” Estee Lauder

By Republika Newsroom

bp_fall06_backyard_jogging_l

Rutin lebih sehat daripada sekali setahun

JAKARTA – Mau terhindar dari resiko diabetes? Tidak ada salahnya setiap hari melakukan jogging atau bahkan berlari cepat selama 30 menit. Olahraga lari rupanya membawa banyak manfaat.

“Sebenarnya kesehatan itu hanya diperoleh dengan berlari selama 7,5 menit perhari,” kata Dokter James A Timmons Dari Heriot-Watt University, Edinburgh, Skotlandia.

Timmons dan para koleganya meneliti 16 pria berusia 20 tahun. Mereka diminta menjalanai enam sesi latihan fisik. Setiap sesi antara lain terdiri dari sprint selama 6 hingga 30 detik, diselingi empat menit istirahat. Setelah beristirahat mereka diminta berlari lagi. Sehingga total latihan tersebut mencapai 17 hingga 26 detik.

Latihan tersebut dilakukan selama dua pekan. Mereka juga diberi larutan manis setiap hari. Ternyata kadar gula mereka tetap normal. PAdalah menurut penelitia laruta glukosa biasanya menaikkan kadar gula darah di atas normal.

Timmons menganjurkan agar setiap orang melakukan latihan olahraga intensif setiap hari. Selain jogging olahraga yang juga bisa dilakukan adalah bersepeda kencang atau lari menaiki tangga dua kali dalam sepekan.

Khusus penderita diabetes berusia 20 – 40 tahun, dianjurkan meningkatkan aktivitas fisik secara bertahap di bawah pengawasan dokter. “Kuncinya kita lebih baik berolahraga rutin 7,5 menit setiap hari ketimbang berlari selama 30 menit tetapi hanya satu kali dalam setahun,” ujarnya/reuters/itz

Awas Kanker Usus di Balik Lezatnya Sosis

SIAPA tak kenal kelezatan sosis, makanan daging olahan ini sudah sangat akrab di lidah masyarakat dunia termasuk Indonesia. Namun, siapa sangka di balik kenikmatan makanan yang kaya gizi ini, terkandung lemak dan kolesterol tinggi sehingga bisa mengganggu kesehatan.

Bahkan para ahli di Inggris belum lama ini kembali memperingatkan bahwa konsumsi sebatang sosis sehari dapat meningkatkan risiko kanker usus. Maka dari itulah, Anda sebaiknya berhati-hati mengonsumsi sosis atau produk daging olahan.

Seperti dilaporkan surat kabar The Star Jumat (4/4), Martin Wiseman dari World Cancer Research Fund (WCRF), memperingatkan konsumen akan ancaman penyakit kanker bila terlalu sering mengonsumsi makanan nan lezat ini.  Ia juga mengingatkan konsumen untuk mewaspadai bacon dan menyatakan bahwa dengan hanya mengonsumsi 50 gram makanan daging olahan setiap hari dapat meningkatkan risiko mengidap kanker hingga 20 persen.
 
Hampir setahun lalu, Wiseman juga menyuarakan peringatan yang sama akan bahaya terlalu sering mengonsumsi daging olahan ini termasuk di dalamnya ham, pastrami, salami dan hot dog.

Makanan daging olahan memang dibuat dari daging atau ikan yang telah dicincang kemudian dihaluskan, diberi bumbu dan zat pengawet.  Ada yang kemudian diasap, dimasukkan dalam selonsong berbentuk bulat panjang simetris, baik yang terbuat dari usus hewan maupun pembungkus buatan (casing).

Wiseman menambahkan, laporan yang dirilis pihaknya mungkin bukan hal yang baru, tetapi yang justru ironis adalah hampir dua pertiga masyarakat khususnya di Inggris tidak sadar atau waspada akan isu ini.

¨Kami sekarang lebih yakin dari sebelumnya bahwa memakan daging olahahan dapat meningkatkan risiko mengidap kanker usus,” ujarnya.

Daging merah, termasuk di dalamnya sapi, babi, domba, sejauh ini dikaitkan dengan kanker usus. Meskipun demikian para ahli merekomendasikan bahwa daging merah boleh dikonsumsi  secara moderat (kurang dari 500g per hari) selama mengandung nutrisi yang sangat penting.

“Banyak hasil penelitian ilmiah yang menemukan bahwa kanker usus lebih sering ditemukan pada orang yang sering mengonsumsi daging merah dan produk daging olahan,” ungkap Sara Hiom, direktur informasi kesehatan Cancer Research di Inggris:

Sementara itu David Spiegelhalter, seorang Professor Public Understanding of Risk dari Cambridge University, berpendapat  satu di antara 18  pria memiliki kemungkinan mengalami kanker usus, sedangkan wanita satu di antara 20.  Hitungan tersebut, menurut   David Spiegelhalter adalah risiko seumur hidup. 

Nilai gizi
Sosis merupakan produk polahan daging yang mempunyai nilai gizi tinggi. Komposisi gizi sosis berbeda-beda, tergantung pada jenis daging yang digunakan dan proses pengolahannya. Produk olahan sosis kaya energi, dan dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, sosis juga memiliki kandungan kolesterol dan sodium yang cukup tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan hipertensi jika dikonsumsi berlebihan.

Ketentuan mutu sosis berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3820-1995) adalah: kadar air maksimal 67 persen, abu maksimal 3 persen, protein minimal 13 persen, lemak maksimal 25 persen, serta karbohidrat maksimal 8 persen. Kenyataannya, banyak sosis di pasaran yang memiliki komposisi gizi jauh di bawah standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan pemakaian jumlah daging kurang atau penggunaan bahan tidak sesuai komposisi standar sosis.

Baca label dengan teliti
Seiring dengan berkembangnya industri pangan, saat ini telah dikembangkan sebuah inovasi baru, yaitu sosis siap makan tanpa perlu dimasak atau dipanaskan terlebih dulu. Dengan begitu, sosis  dapat dimakan sebagai snack. Saat ini juga mulai banyak dijual sosis steril, yaitu sosis yang dibuat melalui proses sterilisasi sehingga awet untuk disimpan pada suhu kamar, selama beberapa waktu. Sosis tersebut tinggal dibuka dari kemasannya dan langsung dapat dimakan.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan lemak sosis yang cukup tinggi. Konsumsi sosis sebagai snack hendaknya memperhatikan faktor-faktor kesehatan seperti obesitas dan kolesterol. Sosis dengan kadar lemak rendah dapat menjadi pilihan. Karena itu, sebaiknya membiasakan diri membaca label secara seksama sebelum memutuskan untuk membeli dan mengonsumsi sosis.
AC
Sumber : the star

Bahaya Laten Sepotong Sosis

 

SOSIS merupakan makanan asing yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena rasanya enak. Namun, di balik kenikmatan makanan yang kaya akan zat gizi ini, terkandung lemak dan kolesterol tinggi yang bisa mengganggu kesehatan. Untuk itu, hati-hati mengonsumsi sosis.

Makanan ini dibuat dari daging atau ikan yang telah dicincang kemudian dihaluskan, diberi bumbu, dimasukkan ke dalam selonsong berbentuk bulat panjang simetris, baik yang terbuat dari usus hewan maupun pembungkus buatan (casing). Sosis juga dikenal berdasarkan nama kota atau daerah yang memproduksi, seperti berliner (Berlin), braunscheiger (Braunshweig), genoa salami (Genoa), dan lain-lain.  

Sosis merupakan salah satu produk olahan daging yang sangat digemari masyarakat Indonesia sejak tahun 1980-an. Istilah sosis berasal dari bahasa Latin, yaitu salsus, yang artinya garam. Hal ini merujuk pada artian potongan atau hancuran daging yang diawetkan dengan penggaraman.

Jenis Sosis     
Kramlich (1971) membagi sosis menjadi enam kelas. Sementara itu, Forrest et al (1975) membagi sosis menjadi enam kategori berdasarkan metode pembuatan yang digunakan oleh pabrik, yaitu: sosis segar, sosis asap-tidak dimasak, sosis asap-dimasak, sosis masak, sosis fermentasi, dan daging giling masak.

Sosis segar dibuat dari daging segar yang tidak dikuring. Penguringan adalah suatu cara pengolahan daging dengan menambahkan beberapa bahan seperti garam natrium klorida (NaCl), natrium-nitrit, natrium-nitrat, gula, serta bumbu-bumbu. Sosis segar tidak dimasak sebelumnya dan biasanya tak diasapi, sehingga sebelum dikonsumsi, sosis segar harus dimasak  
Sosis masak dibuat dari daging yang telah dikuring sebelum digiling. Sosis jenis ini dimasak dan biasanya diasapi. Daya simpannya lebih lama daripada sosis segar. Contohnya, frankfurter dan hot dog.

Dilihat dari jenis dagingnya, sosis dapat terdiri dari beberapa macam, yaitu sosis sapi, sosis ayam, dan sosis babi. Akhir-akhir ini daging kambing juga telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan sosis. Di Bali, terkenal sosis yang dibungkus dengan casing usus babi. Sosis itu dinamakan urutan

Komponen Penyusun  
Komponen utama sosis terdiri dari daging, lemak, dan air. Selain itu, pada sosis juga ditambahkan bahan tambahan seperti garam, fosfat, pengawet (biasanya nitrit/nitrat), pewarna, asam askorbat, isolat protein, dan karbohidrat.

Lemak sering ditambahkan pada pembuatan sosis sebagai pembentuk permukaan aktif, mencegah pengerutan protein, mengatur konsistensi produk, meningkatkan cita rasa, dan mencegah denaturasi protein.

Penambahan garam pada pembuatan sosis bertujuan untuk meningkatkan cita rasa, pengembang protein daging, pelarut protein daging, meningkatkan kapasitas pengikatan air (water holding capacity = WHC), serta sebagai pengawet. Penambahan fosfat akan bersinergi dengan garam untuk meningkatkan WHC pada sosis.

Tanpa garam dan fosfat, sosis akan sulit untuk dibuat. Asam askorbat sering ditambahkan dalam bentuk asam askorbat maupun natrium askorbat untuk membantu pemerahan daging. Selain itu, asam askorbat juga berfungsi sebagai antioksidan agar produk tidak mudah tengik.   
Untuk mensubtitusi daging, pada pembuatan sosis sering juga ditambahkan isolat protein. Selain itu, pada pembuatan sosis juga ditambahkan karbohidrat sebagai bahan pengisi sosis.

Pengawet dan Pewarna
Pada pembuatan sosis, bahan pengawet yang sering digunakan adalah nitrit. Aktivitas antibakteri nitrit telah diuji dan ternyata efektif untuk mencegah pertumbuhan bakteri Clostiridium botulinum, yang dikenal sebagai bakteri patogen penyebab keracunan makanan. Nitrit dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan spora Clostiridium botulinum, Clostiridium perfringens, dan Stapylococcus aureus pada daging yang diproses.

Selain sebagai pengawet, fungsi penambahan nitrit pada proses kuring daging adalah untuk memperoleh warna merah yang stabil. Nitrit akan terurai menjadi nitrit oksida, yang selanjutnya bakal bereaksi dengan mioglobin membentuk nitrosomioglobin.

Meskipun nitrit sebagai salah satu bahan tambahan pangan memberikan banyak keuntungan, ternyata dari berbagai penelitian telah dibuktikan bahwa nitrit dapat membentuk nitrosamin yang bersifat toksik dan karsinogenik. Nitrosodimetilamin hasil reaksi nitrit dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan bersifat karsinogen kuat yang bisa memicu penyakit tumor pada beberapa organ tikus percobaan.

Jenis bahan pengawet dan dosis maksimum yang diizinkan pada sosis berdasarkan SNI 01-0222-1995 adalah belerang dioksida (450 mg/kg), kalium nitrat (500 mg/kg), kalium nitrit (125 mg/kg), natrium nitrat (500 mg/kg), serta natrium nitrit (125 mg/kg). Jenis pewarna yang biasa digunakan pada sosis adalah eritrosin dan merah allura, masing-masing dengan kadar maksimal 300 mg/kg.  

Jenis Casing
Terdapat tiga jenis casing yang sering digunakan dalam pembuatan sosis, yaitu alami, kolagen, serta selulosa. Casing alami biasanya terbuat dari usus alami hewan. Casing ini mempunyai keuntungan dapat dimakan, bergizi tinggi, dan melekat pada produk. Kerugian penggunaan casing ini adalah produk tidak awet.

Casing kolagen biasanya berbahan baku dari kulit hewan besar. Keuntungan dari penggunaan casing ini adalah dapat diwarnai, bisa dimakan, dan melekat pada produk. Casing selulosa biasanya berbahan baku pulp. Keuntungan casing selulosa adalah dapat dicetak atau diwarnai dan murah. Casing selulosa sangat keras dan dianjurkan untuk tidak dimakan.

Saat ini telah dikembangkan poly amid casing, yaitu casing yang terbuat dari plastik. Casing jenis ini tidak bisa dimakan, dapat dibuat berpori atau tidak, bentuk dan ukurannya dapat diatur, tahan terhadap panas, dan dapat dicetak.

Nilai Gizi  
Sosis merupakan produk olahan daging yang mempunyai nilai gizi tinggi. Komposisi gizi sosis berbeda-beda, tergantung pada jenis daging yang digunakan dan proses pengolahannya.
Produk olahan sosis kaya energi dan dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, sosis juga memiliki kandungan kolesterol dan sodium yang cukup tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan hipertensi jika dikonsumsi berlebihan.

Ketentuan mutu sosis berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01–3820-1995) adalah: kadar air maksimal 67 persen, abu maksimal 3 persen, protein minimal 13 persen, lemak maksimal 25 persen, serta karbohidrat maksimal 8 persen.   

Kenyataannya, banyak sosis di pasaran yang memiliki komposisi gizi jauh di bawah standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan pemakaian jumlah daging kurang atau penggunaan bahan tidak sesuai komposisi standar sosis.

Penulis : Prof. DR. Made Astawan, Departemen Teknologi Pangan Dan Gizi IPB.

Kolesterol, Tak Cukup Hanya Bawang Putih

Laporan wartawan PAKAR Dr. Handrawan Nadesul

SEORANG bapak, sebut saja R.G bertanya, apakah kolesterol yang tetap tinggi kendati sudah pantang menu berkolesterol juga tergolong faktor keturunan (hyperlipidemia)? Untuk menurunkan kolesterol, yang ia konsumsi hanya bawang putih mentah.

Pak R.G. mengirimkan hasil pemeriksaan kolesterol, trigliserida (TG), dan gula darahnya. Hasil laboratorium untuk kolesterol dan TG sejak April 2008 memang ada kecenderungan meninggi, khususnya kolesterol. Demikian pula gula darahnya. Mengherankan, kendati sudah mulai minum obat antilipid sejak luli 2008, sampai sekarang kolesterolnya tidak juga turun. Ada apa?

TAK CUKUP BAWANG PUTIH

Ya, tak cukup hanya bawang putih untuk menurunkan kolesterol dan lemak darah (lipid). Kalau ada bahan berkhasiat lain yang mengaku (mengklaim) dapat menurunkan lipid darah, jangan terlampau berharap karena hanya obat (medis) yang sudah teruji yang mampu menurunkannya.

Bahan berkhasiat bukanlah sebagai obat, melainkan terbatas untuk memelihara kesehatan belaka. Bahan berkhasiat baru menjadi obat bila sudah dikenali kandungannya teruji berkhasiat, telah teruji pula keamanannya.

Buktinya Pak R.G. gagal menurunkan koleslerol kendati sudah berbulan-bulan mengonsumsi bawang putih. Perlu uji lebih lanjut terhadap semua bahan berkhasiat yang mengaku mampu menurunkan lipid darah, selain keamanannya pula. Bagi dunia medis, tidak cukup berkhasiat karena jika tak aman (lolos uji toksisitas), tidak boleh dipasarkan sebagai obat. Bawang putih mentah (raw materia) selain bahan yang bermanfaat bagi tubuh, juga mengandung bahan lain yang tidak berkhasiat dan berefek buruk pada tubuh. Sebut saja mengiritasi lambung.

Ekstrak bawang putih hasil teknologi tinggi yang menjadikan kapsul bawang putih berharga mahal. Kita membeli teknologi tinggi yang berhasil mengekstraknya. Soal apakah ekstrak bawang putih itu sudah menyingkirkan zat yang tak bermanfaat dan aman bagi tubuh, juga mampu berperan sebagai obat perlu uji klinis lain.

TURUNAN ATAU ADA PENYAKIT LAIN?
Ya, selain faktor keturunan dan kelebihan mengonsumsi menu berkolesterol (lemak umumnya), kolesterol dan TG meninggi dalam darah dapat terjadi karena kehadiran kencing manis. Gula darah puasa Pak R.G. lebih dari normal. Kita menduga itu dapat menyebabkan kolesterol tinggi.

Hal lain, kemungkinan penyebab kolesterol meninggi adalah kegemukan. Sayangnya Pak R.G. tidak menyebutkan berapa berat badannya. lika indeks BMI (body mass/index)lebih dari 25, dari penghitungan berat badan (Kg) dibagi pangkat dua tinggi badan (M), berarti tergolong kelebihan berat badan. Apalagi kalau indeksnya lebih dari 30. Menurunkan berat badan harus dilakukan untuk menekan kecenderungan kolesterol berlebih dalam darah. Hal lain, yakni faktor merokok, kopi berlebihan, stres, bertambah usia (Pak RG juga tak menyebutkan usianya); fungsi kelenjar gondok yang menurun (hypothyroidism sebagai lawan dari kondisi fungsi gondok berlebihan atau hyperthyroidism), payah ginjal, atau penyakit gangguan hati.

Untuk mengetahui apakah penyebab kelebihan kolesterol darah bukan karena faktor keturunan, faktor-faktor di atas perlu disingkirkan terlebih dahulu dengan pemeriksaan laboratorium lain, yakni memeriksa fungsi ginjal, hati, dan kelenjar gondok dari darah.
Tubuh yang kelebihan kolesterol selain wajib pantang semua jenis menu yang mengandung kolesterol tinggi seperti jeroan, otak ternak, daging merah, juga perlu membatasi hidrat arang dari nasi, sagu, roti, mi. Jika berlebih, menu tersebut akan diubah jadi lemak juga.

Konsumsi sayur, buah, biji-bijian, umbi-umbian, bekatul, roti ganclum, daging putih (ayam, kelinci, ikan, putih telur) boleh diperbanyak. Pilih minyak zaitun, minyak ikan, kanola, oat bran, omega-3. Idealnya pilih menu yang dipanggang, dipepes, atau dikukus.

Mereka yang kolesterol atau lipidnya tinggi tak cukup hanya memperhatikan menu karena juga perlu rutin bergerak badan. Paling sederhana dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh (brisk walking) 45 menit, 6 kali seminggu. Pengaruh obat kecil saja untuk menurunkan HDL (kolesterol baik), yang harusnya makin tinggi makin menyehatkan. Bergerak badan dan berolahraga bisa membantu meninggikan HDL.

Olahraga tidak meluruhkan “karat” lemak yang sudah terbentuk pada dinding pembuluh darah yang akan menyumbatnya, tetapi menipiskan gajih di bawah kulit. Jika kolesterol tinggi turunan tak terkontrol sejak awal, serangan jantung koroner dan stroke sudah muncul pada umur yang lebih pagi.