holistic1(1)
MENJADI sehat jasmani, rohani, maupun sosial seperti dicita-citakan WHO, tentu idaman semua orang. Tapi, untuk mendapatkan ketiganya secara bersamaan, jelas bukan urusan gampang. Perlu pendekatan bersifat holistik. Raga dipulihkan, jiwa diputihkan, dan relasi sosial perlu ditumbuhsuburkan. Bagaimana caranya? Tentu tak cuma dengan menelan obat atau menusukkan jarum suntik berisi obat. Masih butuh “obat-obat” lain.

Sebagai makhluk, manusia memang kompleks. Saking kompleksnya, urusan sepele bisa berbuntut panjang. Apalagi urusan kesehatan, yang mestinya lebih penting dari sekadar berebut jabatan. Nah, untuk mengantisipasi keluhan medis yang makin beragam, belakangan berkembang metode penyembuhan yang melihat manusia secara komplet. Sebutannya penyembuhan dengan pendekatan holistik (holistic approach).

Bukan mainan baru, memang. Karena cikal-bakalnya sudah ada berabad-abad lalu. Tapi, seperti banyak metode pengobatan yang terlupakan, zaman jualah yang kemudian mengangkatnya ke permukaan. Kedatangannya kali ini begitu pas, saat banyak keluhan soal hubungan dokter – pasien kian singkat (bahkan tak jarang pasien menuntut dokter ke pengadilan lantaran kurangnya informasi yang diberikan).

Bukan sekadar jasad

Dr. H. Soesilo Wibowo, Sp.JP, seorang dokter yang sudah lama mempraktikkan pendekatan holistik, dalam sebuah seminar di Jakarta beberapa waktu lalu, menyebut pengobatan ini sebagai rantai ilmu kedokteran. Di mancanegara, terutama Amerika Serikat, kadang dinamai juga patient centered approach. Intinya, pasien dilihat bukan sekadar tampilan jasad yang harus dibebaskan dari bakteri dan penyakit fisik lainnya.

Dasar pendekatan holistik adalah manusia tidak hanya punya raga, tapi juga jiwa dan hubungan sosial alam semesta. Peran raga, misalnya berkaitan dengan organ-organ nyata, seperti jantung, pembuluh darah, otak, saraf, hati, alat pencernaan, panca indera, serta kelenjar. Sedangkan komponen jiwa terdiri atas roh, akal, nafsu, hati nurani, dan banyak lagi. Sebagai makhluk sosial, manusia juga selalu berinteraksi dengan lingkungannya.

Terganggunya fungsi organ dan hubungan-hubungannya, dipercaya bisa mengundang penyakit. Sebaliknya, kalau organ bekerja optimal dan harmonis, plus menjalankan fungsi “gaulnya” dengan baik, kebugaran dan tingkat kekebalan tubuh bakal meningkat. Dijamin, virus dan bakteri pun bakal jarang menyerang karena sering tak mempan.

Pertolongan roh

Dengan definisi segamblang itu, toh masih banyak yang beranggapan, pengobatan holistik masih saudaranya klenik. “Beberapa calon pasien malah bertanya, roh jenis apa sih yang ngebantu?” ujar Janti Atmodjo, Ph.D., MBA, konselor di Sanjiwani Holistic Therapeutic Health Care, Menteng, Jakarta Pusat, tentu saja sembari terkekeh. Terpaksa, dia kudu menjelaskan ulang prinsip kliniknya yang serbatransparan dan menjauhi unsur magic.

Tapi, seperti kata orang, apalah artinya kata-kata tanpa bukti nyata. Di Amerika Serikat, Dr. Herbert Benson, MD, associate proffesor of medicine Harvard Medical School menyadari benar hal ini. Dalam bukunya Timeless Healing, sang kardiolog bersikeras mengampanyekan keyakinannya di tengah skeptisnya masyarakat kedokteran konvensional lewat cara lebih bernas.

Bukan ilmu baru

Di Indonesia sendiri, penyembuhan holistik baru mulai ramai dikunjungi pasien dalam sepuluh tahun terakhir. “Tapi sebagai bagian dari ilmu kedokteran, keberadaannya sudah sangat tua,” tambah Erwin. Jadi, sama sekali bukan barang baru. Bahkan konsep remembered wellness-nya Benson, merupakan pengembangan dari yang dulu dikenal sebagai efek plasebo.

Sayangnya, di kalangan kedokteran ada kecenderungan memandang plasebo sebagai sesuatu yang bersifat kebetulan belaka. Jarang sekali yang memperhatikan, jika pasien sembuh karena minum obat berisi gula (namun diyakininya sebagai obat beneran), sebenarnya keyakinan si pasienlah yang membuat plasebo ampuh.

Diyakini, tubuh manusia sanggup mengonversi keyakinan seseorang ke dalam bentuk instruksi fisis. Ini dibuktikan ketika pertengahan 1970-an, Benson dan beberapa koleganya menemukan betapa efektifnya efek plasebo ini, dengan tingkat keberhasilan menakjubkan, 70 – 90%. Jauh lebih besar dari perkiraan daya sembuh plasebo masa itu.

Hampir seragam

Karena menghindari penggunaan obat-obat kimia, pembedahan, dan pengobatan konvensional lainnya, holistic approach lazimnya menawarkan berbagai metode terapi, baik yang langsung ditujukan ke bagian yang sakit maupun tidak. “Tapi kalau pasien yang datang masih dalam terapi dokter, kita persilakan mereka tetap minum obat,” ujar Janti Atmodjo dan Jeanny N. Sugandi, dua punggawa Sanjiwani.

“Itu karena terapi kita memang bersifat melengkapi pengobatan medis. Wong kita juga punya tenaga dua dokter, kok,” tambah Janti, doktor metafisika lulusan sebuah universitas di Alabama, AS. Ada beberapa terapi alternatif andalan di Sanjiwani. Kalau satu jenis terapi tak mencukupi, metode-metode tadi bisa digabungkan untuk mempercepat penyembuhan.

Lantas, bagaimana cara mengukur keberhasilan pengobatan? “Ada yang parameternya subyektif, seperti perasaan atau tingkat kenyamanan pasien. Tapi bisa juga dengan melihat perkembangan catatan medisnya,” tutur Janti lagi, yang rata-rata kebagian 100-an pasien per minggu.

Mengalirkan energi memang salah satu metode penyembuhan favorit, sekaligus andalan klinik holistik. Tapi, buat yang lebih suka berkonsentrasi dalam semedi, beragam cara, gaya, dan nama meditasi disediakan, mulai yoga hingga moving meditation versi Prorevital. Konon, salah satu kata kunci dalam pengobatan holistik adalah rileks. Dan sampai hari ini, meditasi masih jalan tol termurah untuk sampai ke sana.

Sumber : sapos.co.id