Februari 2010


kurma

kurma

PECANDU alkohol mudah dikenali dari mata yang berwarna kemerahan dan bengkak di sekitar mata, suara serak dan denyut nadi yang sangat cepat. Pecandu alkohol juga cenderung mudah marah, penuh curiga dan sangat emosional. Pada tahap awal, mereka biasanya menderita serangkaian gejala seperti muntah, menderita gangguan tidur. Konsumsi alkohol berlebih pada akhirnya akan memicu sirosis hati.

Mengingat buruknya efek negatif dari kelebihan alkohol, ada baiknya mulai membatasi asupan alkohol Anda. Namun jika sudah mengalami gejala-gejala kelebihan alkohol seperti disebutkan di atas, Anda bisa mencoba cara alami berikut untuk meredakan gangguan Anda.

Anggur. Diet terbatas dengan mengonsumsi buah anggur selama 1 bulan merupakan pengobatan alami yang vital untuk mengatasi alkoholisme. Buah anggur mengandung bentuk murni alkohol, sehingga bisa berperan sebagai alternatif sehat pengganti alkohol.

Proses idealnya adalah makan buah anggur segar sebagai makanan utama 3 kali sehari setiap 5 jam. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pastikan Anda benar-benar berhenti minum alkohol.

Apel. Jika dikonsumsi secara teratur, apel membantu menghilangkan kemabukan dan mengurangi keranjingan terhadap anggur atau jenis minuman keras lainnya.

Kurma. Kurma sangat berperan dalam menangani alkoholisme. Masukkan 3-4 biji kurma ke dalam setengah gelas air dan minumlah 2 kali sehari selama sebulan.

Pare. Jus dari ekstrak daun pare dinyatakan efektif mengatasi mabuk akibat alkohol. Jus ini juga baik untuk membantu mengatasi kerusakan hati. Campurkan 3 sendok teh jus dengan segelas susu dan minum setiap pagi selama sebulan.

Seledri. Jus seledri mentah memberikan efek menenangkan pada pasien yang kelebihan alkohol. Campurkan setengah gelas air putih dengan setengah gelas jus seledri mentah dan minumlah setiap hari selama sebulan. Cara ini dinyatakan sangat efektif dalam meredakan alkoholisme.

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

Iklan
bawang-merah

bawang-merah

ILMU farmasi modern terus berkembang selama beberapa abad terakhir. Akan tetapi, menurut ahli farmasi dari Massachusetts General Hospital Catherine Ulbricht, PharmD, kita tidak bisa sepenuhnya beralih dari pengobatan tradisional yang juga terbukti efektif. Pada faktanya, terang Ulbricht, obat-obatan modern juga banyak bergantung dari tumbuh-tumbuhan.

“Pada praktiknya, sebagian besar obat yang digunakan mengandung komponen herbal,” terang Ulbricht, seperti dikutip situs prevention. Sejumlah obat yang dijual di apotek seperti aspirin merupakan versi sintetis dari komponen yang terkandung di dalam pohon willow. Banyak statin berbahan dasar jamur, dan tamiflu berasal dari herbal China bunga lawang.

Berikut tiga herbal alami yang terbukti efektif berdasarkan studi ilmiah. Akan tetapi, pastikan berkonsultasi dengan dokter jika Anda sedang menggunakan obat kimia. Pasalnya beberapa obat herbal bisa berinteraksi dengan obat-obatan lainnya.

Lemon balm

Fakta tradisional. Tanaman herbal dari keluarga mint beraroma lemon ini telah lama digunakan untuk menghilangkan kecemasan, meningkatkan memori, membantu tidur dan pencernaan.”Tanaman ini bagus mengatasi gigitan binatang berbisa, menenangkan jantung, dan mengikis perasaan melankolis dan sedih,” tulis pakar herbal zaman Elizabeth John Gerard pada 1597.

Bukti ilmiah. Sebuah artikel yang dipublikasikan pada 2003 di Neuropsychopharmacology menyatakan bahwa teh lemon balm membantu Anda mendapatkan tidur nyenyak dan menjaga agar Anda tetap tenang dan fokus. Penelitian menunjukkan bahwa tanaman ini juga efektif pada situasi ekstrim. Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2002 di Journal of Clinical Psychiatry menyebutkan bahwa aromaterapi lemon balmselama empat minggu bisa mengurangi kegelisahan pada pasien yang menderita demensia atau kepikunan kronis.

Penggunaan. Untuk mendapatkan efek menenangkan dari lemon balm, cobalah setiap hari minum teh yang dibuat dengan meneteskan setengah/satu tetes cairan atau satu hingga dua sendok teh herbal kering ke dalam satu cangkir air panas. Biarkan selama lima hingga sepuluh menit sebelum diminum.

Bawang merah

Fakta tradisional. Bawang digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit. Dalam sistem pengobatan tradisional Timur Tengah, herbal satu ini digunakan untuk mengobati diabetes. Selama permulaan abad 20 di Amerika Serikat, bawang dianjurkan untuk mengatasi gangguan pernafasan dan pencernaan. Karena diyakini meningkatkan performa atlet, peserta olimpiade Yunani mengonsumsi herbal ini dalam bentuk jus atau mengggosokkan ke tubuh mereka sebelum kompetisi dimulai.

Bukti ilmiah. Beberapa studi telah membenarkan manfaat tradisional bawang. Kandungan thiosulfinates di dalamnya bekerja mengurangi gejala diabetes dan melindungi dari penyakit jantung. Quercetin, flavonoid yang terkandung dalam bawang mencegah peradangan yang berkaitan dengan alergi dan juga melindungi dari serangan pernanahan lambung, kanker kerongkongan dan kanker payudara.

Penggunaan. Michael Havey, PhD dari University of Wisconsin menganjurkan Anda untuk memilih bawang yang berwarna pekat. Selain itu, ada baiknya mengonsumsi bawang dalam kedaan mentah atau dimasak sebentar. Hal ini, untuk mencegah hilangnya thiosulfinates akibat panas.

Cabai merah

Fakta tradisional. Bumbu tradisional ini banyak digunakan untuk memasak dan mengatasi berbagai gangguan, mulai dari rasa sakit hingga sebagai afrodisiak (merangsang hasrat seks).

Bukti ilmiah.Capsaicin, kandungan penyebab panas pada cabai, dinyatakan efektif meerdakan rasa sakit pada otot, rasa tidak nyaman setelah operasi, dan radang sendi. Studi-studi menunjukkan bahwa komponen ini menekan zat kimia pengantar pesan yang menyampaikan rasa sakit ke otak. Sebuah studi yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition juga melaporkan bahwa komponen capsaicin juga membantu menghilangkan lemak perut.

Selain itu, cabai juga dinyatakan bisa mengontrol kadar gula darah. Studi yang dipublikasikan di European Journal of Nutrition melaporkan, partisian yang mengonsumsi makan siang yang banyak mengandungcapsaicin memiliki kadar hormon pengatur gula darah yang lebih tinggi dan kadar ghrelin (hormon lapar) yang  lebih sedikit dibandingkan mereka yang mengonsumsi makanan biasa. (IK/OL-08)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com