Februari 2011


Hipnosis yang dikenal oleh kebanyakan orang adalah praktik hipnosis panggung, seperti yang dilakukan oleh Romy Rafael dan Uya Kuya. Sebetulnya praktik hipnoterapi dengan hipnosis panggung (untuk pertujukan atau hiburan) merupakan dua hal yang berbeda, meskipun lama-sama menggunakan hipnosis sebagai dasarnya.

Menurut Adi W. Gunawan, guru hipnoterapi yang menyebut diri the re-educator & mind navigator itu, hipnotis panggung sangat mudah dipelajari dan dipraktikan.

“Untuk menjadi seseorang yang jago melakukan stage hypnosis, Anda cukup mengikuti lokakarya sehari. Setelah mengerti dasar-dasarnya, Anda bisa langsung mempraktikkannya,” ungkap penulis buku-buku hipnotis antara lain berjudul Hypnotherapy, the Art of Subconscious Restructuring ini.

Menurut Adi, saking gampangnya, bahkan beberapa pembaca bukunya yang berjudul Hypnosis: The art of Subconscious Communication mengirim e-mail dan SMS kepadanya menceritakan kemampuan mereka mempraktikkan hipnosis, hanya dari membaca buku saja. Ada yang bisa membuat temannya kehilangan angka 5 dan lupa nama dirinya, ada juga yang membuat jalinan kedua tangannya tak bisa dilepaskan, dan lain-lain.

Mengapa hipnosis panggung bisa sedemikian mudah dipraktikkan, menurut Adi, karena kebetulan subjeknya memang mudah trance. Seorang praktisi hipnosis diajarkan bagaimana memilih subjek yang mudah trance, cara mengetahui kedalaman kondisi trance, maupun efek hipnosis pada subyek.

“Inti dari stage hypnosis adalah kejelian memilih subjek hipnosis dan kreatif dalam menentukan skenario,” papar Adi.

Karena itu, hipnosis panggung perlu persiapan lebih dulu. Mengapa? “Tentu tidak lucu kalau subjek yang dipilih ternyata sulit masuk ke dalam kondisi trance. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi kalau praktisi hipnosis menjentikkan jarinya dan berkata “Tidur!” tetapi subjek itu cuma cengar cengir,” katanya.

Sementara itu, dalam hipnoterapi, para terapis tidak dapat memilih subjek yang mudah masuk ke dalam kondisi trance. Terapis harus menerima kliennya dalam kondisi apapun, baik yang sangat mudah, cukup mudah, atau bahkan sulit masuk kondisi trance. Itulah sebabnya seorang hipnoterapis harus memahami banyak teknik serta kreatif.

Menurut Adi Gunawan, hipnosis baru dapat disebut sebagai hipnoterapi jika menggunakan teknik-teknik tertentu untuk membantu klien menemukan sumber masalahnya dan meningkatkan potensi diri mereka, sesuai dengan masalah yang mereka hadapi.

“Terapi yang diterapkan harus berpusat pada diri klien atau client centered dan bukan therapist centered,” ujar Adi, yang menimba ilmu Mind Mirror dari Anna Wise di Berkeley, Amerika Serikat ini.

Adi juga menjelaskan bahwa dalam terapi, para terapis tidak perlu membawa klien sampai pada kondisi trance yang sangat dalam (somnabulisme). Dengan kondisi light trance atau trance ringan saja terapi sudah bisa dilaksanakan.

“Kondisi deep trance hanya diperlukan kalau terapis menggunakan teknik tertentu, misalnya age regression, past life regression, past life regression, atau parts therapy,” kata Adi. (GHS/wid)

Sumber : Tabloid Gaya Hidup Sehat
Iklan

Banyak orang menyangka hipnotis atau hipnosis sarat dengan kekuatan magis yang tidak mampu dijelaskan secara ilmiah. Di beberapa daerah praktek hypnosis bahkan dilarang. Namun, para praktisi hypnosis membantah hal tersebut dalam Indonesia Hypnosis Summit 2010, Minggu (13/6/2010), di Hotel Oasis, Jakarta.

“Hipnosis adalah penembusan faktor krisis dalam otak dengan menambahkan perintah atau sugesti tertentu pada saat kondisi seseorang dalam keadaan trance. Tidak ada kekuatan yang aneh,” ungkap hipnoterapis Ade Gunawan.

Ia menceritakan selama ini masyarakat membayangkan seseorang dengan kemampuan hipnosis dianggap bisa melakukan apapun kepada subjeknya, termasuk seperti hipnosis yang ada di TV. “Padahal, hipnoterapis hanya membantu subjek untuk menggerakan pikiran bawah sadar untuk menyelesaikan masalahnya,” ungkap Ade kepada Kompas.com.

Ade menjelaskan meski seseorang dalam keadaan deep trance sekalipun, orang tersebut pasti sadar. “Ini karena ada empat filter bawah sadar yang selalu ada dalam diri tiap orang,” ujarnya. Keempat filter bawah sadar tersebut adalah keselamatan hidup, moral agama, logika, dan nilai.

Ia mencontohkan seseorang yang dihipnotis kemudian diperintah untuk membuka baju, tanpa sadar orang tersebut akan menolaknya karena berlawanan dengan nilai dalam diri. “Tapi, kalau ada kasus perampokan dengan modus hipnotis, saya rasa itu bukan. Mungkin ia menggunakan kekuatan lain yang tidak ada dalam ilmu kita,” ungkapnya.

Ia menjelaskan hipnosis bisa bermanfaat untuk membantu menyelesaikan masalah kejiwaan seseorang mulai dari yang paling ringan seperi phobia hingga paling berat seperti depresi dan kepribadian multi.

Adapun, hipnosis di Indonesia sudah ada sejak zaman nenek moyang. Namun, literatur tentang hipnosis sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan baru dimulai tahun 1960-an. Pada awalnya, hipnosis lebih dikenal melalui teknik terapi dengan penanaman sugesti positif. Namun, seiring dengan perkembangan, tekniknya pun berkembang. Kini mulai dikenal dengan Neuro Lingustic Programming yang menitikberatkan pada penggunaan bahasa, intonasi, dan bahasa tubuh dalam mempengaruhi pikiran hingga Cognitive Behavior Therapy dan terapi dengan totok.

Sumber : kompas.com

Pijatan sudah terbukti bisa meredakan stres. Stres bisa menyebabkan tekanan ketegangan pada otot, khususnya di sekitar pundak, leher, lengan, dan wajah. Ketika otot tegang, maka para wanita aktif ini pun akan merasa tidak nyaman atau pusing. Hindari hal ini dengan mendapatkan pijatan secara rutin. Dengan menghindari ketegangan pada titik-titik kunci pada tubuh, maka tubuh Anda akan bisa berfungsi lebih baik, dan Anda pun bisa mendapatkan energi lebih banyak dalam sehari.