pijat refleksi


Room Massage Pijat Bagus !

Room Massage Pijat Bagus !

Bagi masyarakat di Kotabumi dan Gembor Tangerang  yang ingin  merasakan dan menikmati pijat sehat yang berkualitas dengan terapist yang berijazah dan profesional, mulai sekarang bisa merasakan secara langsung di Pijat Bagus yang mempunyai tagline Niat Pijat BAGUS ! Teknik Pijat BAGUS ! Hasil Pijat BAGUS !terletak di Jl Raya Persada F3 No. 12A (Perumahan Total Persada) Gembor, Tangerang

Silahkan menikmati dan merasakan layanan terapist pijat yang terdidik, terlatih, baik, sopan, ramah, berpengalaman dan profesional di Pijat Bagus Gembor, Tangerang.

Room Reflexology Pijat Bagus !

Room Reflexology Pijat Bagus !

Layanan terapi pijat sehat yang  ada di Pijat Bagus ! Tangerang adalah sangat bervariasi jenis pijat sehatnya, dengan atmosfer tempat yang sangat nyaman,  rileks,  santai, friendly dan diiringi musik relaksasi yang unik yang membuat kita rileks.

Jenis layanan terapi pijat sehat yang  tersedia di Pijat Bagus ! antara lain :

  • Reflexology
  • Balinese Massage
  • Javanese Massage
  • Shiatsu Massage
  • Totok Wajah
  • Terapi Bekam
  • Terapi Ear Candle

Kami dengan senang hati menunggu kedatangan Anda terutama bagi yang tinggal di kota Tangerang dan  kotabumi sekitarnya.

Salam hangat dan sehat selalu,

   pijat bagus !

Pijat Bagus !

Niat Pijat BAGUS !  Teknik Pijat BAGUS !  Hasil Pijat BAGUS !

——————————-

Mohon maaf – sudah tutup outletnya.

Iklan

BERMULA dari penunjukannya sebagai pengurus Seksi Pengembangan Obat-obatan Tradisional pada Yayasan Parapsikologi (YPS) tahun 1984, Darmowasito yang kini berusia 75 tahun masih setia mendalami pengobatan melalui apotek hidup. Tanaman obat yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 itu “berserakan” di halaman rumahnya yang asri dan sejuk di Mojoroto Gang III Nomor 9, Kota Kediri. Baik di depan maupun belakang terdapat aneka tumbuhan termasuk yang jenis langka.

Sebut saja daun Tempuyung atau Sonchus arvensis l. “Saya menjamin tidak banyak orang tahu tentang daun ini, termasuk kegunaannya. Tetapi saya katakan, daun ini kalau dikeringkan sangat manjur untuk obat batu ginjal,” ujarnya kepada Kompas di kediamannya belum lama ini.

Daun Sambungnyawa yang banyak ditanam masyarakat juga tidak banyak yang tahu khasiatnya. Namun, ketika berada di tangan sang “apoteker” kebun yang bernama kecil Saelan itu dapat dijadikan pelengkap untuk ramuan obat bermacam penyakit. Salah satunya menurunkan tekanan darah tinggi.

Contoh lain bila diungkapkan satu per satu akan menyita banyak waktu. Misalnya benalu teh yang khasiatnya sudah kondang sebagai obat antikanker, daun dandang gendis untuk obat kencing manis, juga daun dewa yang berguna untuk pengobatan kanker dan membersihkan darah.

Kiprah Darmowasito dalam pengobatan dengan apotek hidup, diakuinya banyak dipengaruhi posisinya sebagai Seksi Pengembangan Obat-obatan Tradisional YPS itu. Maka ketika yayasan tersebut kini tidak aktif lagi, ayah sembilan anak itu tetap aktif dalam dunia jamu-jamuan.

“Memang setelah saya ditunjuk sebagai pengurus pengembangan obat tradisional, saya langsung mencari pedoman. Baik itu melalui buku-buku, majalah, koran, maupun belajar pada orang yang lebih tahu. Pokoknya, pengetahuan dari mana pun berusaha saya serap,” katanya.

Setelah menerima informasi dari berbagai referensi itu, suami Soemirah itu juga tidak lantas diam saja. Ia segera mencari di mana daun-daun yang dijelaskan itu masih ada dan perburuannya terhadap daun berkhasiat itu tak hanya sebatas Kota Kediri.

Daun dandang gendis misalnya didapatnya di Ngawi, daun Sambungnyawa diperoleh setelah ia bersusah payah mencari hingga di Ponorogo. Meski demikian, ada juga beberapa bahan obat yang diterimanya dari orang-orang yang menyetor ke rumah, salah satunya benalu teh.

Benalu itu dikirimkan penduduk di kaki Gunung Wilis. “Di kaki Wilis pada zaman dulu ada perkebunan teh yang setelah Belanda jatuh, tidak dipelihara lagi. Benalu di tanaman-tanamannya banyak sekali. Dan orang-orang, karena lagi-lagi tidak tahu gunanya menganggap benalu itu tidak bermanfaat. Padahal di sini bisa jadi obat kanker,” jelasnya lagi.

***

KEMAHIRAN Darmowasito mengenali manfaat daun diperkuat kemampuannya dalam pijat zona terapi. Kemampuan memijat titik-titik urat syaraf ini dipelajarinya dari almarhum Wisnu Trimurti, seorang guru pijat tempo dulu.

Sudah banyak pengalaman unik yang dialaminya berkaitan dengan pijat-memijat ini. Pada suatu ketika, di tengah Konferensi Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) di Surabaya, ia bertemu dengan pengurus PWRI asal Trenggalek yang sakit perut. Sampai-sampai, orang ini merintih-rintih terus.

“Saya lalu menawarkan diri untuk memijat dan dipersilakan. Setelah beberapa lama ternyata dia mengaku sakitnya sembuh,” tuturnya. Peristiwa ini bersambung dengan kejadian serupa, termasuk saat berhasil menyembuhkan sakit mertuanya, telah membuatnya makin yakin akan kemampuan yang dimiliki.

Pada akhirnya sampai sekarang, ia melayani pasien dengan dua tipe pengobatan itu. Ramuan jamu apotek hidup atau pijat zona terapi. “Tergantung permintaan pasien. Minta dipijat ya saya pijat. Minta dibuatkan jamu ya saya coba buatkan,” katanya lagi.

Kemampuan itu juga ia praktikkan untuk diri sendiri dan keluarga. Hampir tiap hari, ia memijat kakinya yang kadang sakit untuk sembahyang. Selain itu, ia rajin minum jus wortel, apel, tomat, dan bawang putih.

Alasannya, empat komponen itu semuanya berkhasiat. Terutama bawang putih, yang menurutnya memiliki 22 manfaat. Beberapa khasiat pentingnya antara lain mencegah sakit jantung, membuat napas jadi kuat, mengikis kolesterol, mengatasi hipertensi, mengobati pusing-pusing, serta menormalisasi tekanan darah.

***

SEJAK usia muda pria kelahiran Kediri 27 Februari 1927 ini sudah sering aktif dalam berbagai organisasi. Misalnya, ia pernah menjadi Ketua Rukun Tetangga (RT) selama 20 tahun, dan pengurus PWRI Kota Kediri selama 15 tahun.

“Bahwa saya bisa hidup sehat di usia 75 tahun seperti sekarang, semua adalah berkah Tuhan. Saya sangat mensyukuri semua ini,” katanya.

Seakan seiring dengan pepatah “air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”, empat anaknya mengikuti jejak sang ayah, berkiprah di dunia kesehatan dengan menjadi dokter. Seorang menjadi dokter hewan, tiga lainnya dokter spesialis, masing-masing spesialis mata, kebidanan-penyakit kandungan, dan radiologi.

Tadinya, ia sempat khawatir dengan pembiayaan sekolah kesembilan anaknya. Terlebih lagi empat di antaranya kuliah di fakultas kedokteran, padahal ia dulu cuma guru Sekolah Rakyat (kini Sekolah Dasar).

Namun, berkat perjuangannya yang pantang menyerah, semua itu dapat terlalui. “Saya memang habis-habisan agar anak-anak dapat tetap sekolah. Waktu tugas di Sorong, Irian Jaya, saya berusaha sambilan dengan beternak ayam petelur dan jual nasi. Yang penting halal,” ungkapnya lagi.

Menjalani hari tuanya, Darmowasito mengaku bahagia karena tetap dapat sibuk bekerja. “Kegiatan saya meramu jamu dan memijat untuk mereka yang datang karena sakit, membuat saya tetap punya aktivitas. Tidak stres karena cuma thenguk-thenguk (duduk-duduk Red) saja sepanjang hari,” kata Darmowasito, sembari memandangi halamannya yang penuh tanaman obat. (ADI PRINANTYO)

Need relief from tsunami relief? Klinik Fakhriah, Traditional Acehnese Massage Center provides foot reflexology, body massages and traditional body scrub. No need to bring anything. We suplay shower, towel, and sarong. Spoil yourself while supporting an Acehnese family business.

IKLAN menggoda itu tertempel di berbagai tempat strategis. Di lembaga internasional tempat relawan asing bekerja, posko lembaga swadaya masyarakat, bahkan juga di media center-pusat informasi pascatsunami.

Tanpa iklan mungkin orang takkan ke Klinik Fakhriah. Maklum, meski berada di kawasan Sudirman, Banda Aceh, tempat banyak lembaga asing berkantor, klinik di Jalan Sudirman VII No 76 itu terselip di gang kecil. Thia, yang nama dan nomor ponselnya tercantum di iklan, harus memandu. “Ada tulisan di tembok di samping gang,” katanya.

Setelah bolak-balik menyusuri jalan, barulah gang yang dicari ketemu. Tulisan kecil di tembok tak tampak karena tertutup tanaman di seberang jalan. Masuk 300-an meter, di sisi kiri tampak rumah sederhana dengan spanduk di atasnya. “Maaf ya, sepatu dilepas di depan,” ujar Thia.

Di ruang belakang, segelas sirup sudah menanti. Setelah berganti sarung dan cuci kaki, barulah ritual utama berlangsung. Dari pijat refleksi, pijat badan, bekam (memasang gelas panas di punggung), lulur, sampai mandi sauna. Uap panas dialirkan dari dandang di atas kompor minyak.

Di ruang berukuran empat kali tiga meter, dua tempat tidur tersedia dengan sekat kain putih. Di belakang, ada kamar lebih besar, diisi tiga tempat tidur. Seprai bergaris yang menutupinya masih dilapisi selembar kain batik yang selalu diganti. Amat sederhana, tapi semuanya bersih

“Kami sudah 10 tahun membuka usaha ini. Setelah bencana, kami sempat tutup dua minggu. Semua panik mencari keluarga. Saya juga mengungsi ke Bireuen,” kata Thia sambil memijat, ditemani Linda. Setiap tamu-mereka menyebutnya pasien-memang dilayani dua orang.

Beruntunglah Klinik Fakhriah tak dihajar tsunami. Kakak Thia yang sudah berkeluarga selamat meski kehilangan rumah. Mereka mengungsi di Klinik Fakhriah, sehingga klinik kini ramai dengan celoteh dan tangisan anak-anak. “Sebenarnya pasien terganggu. Tapi mau bagaimana lagi,” katanya

THIA belajar memijat dari kakaknya yang juga pemilik klinik, Fakhriah (31). “Alhamdulillah, adik-adik perempuan saya tidak cuma pandai memijat, tetapi juga sudah sarjana semua,” katanya.

Thia yang sudah tujuh tahun di Klinik Fakhriah, adalah sarjana ekonomi lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. “Tapi saya masih ingin di sini. Soalnya, bahasa Inggris saya belum bagus,” katanya lebih lanjut.

Fakhriah sendiri belajar pijat dari pemilik tempat kerja pertamanya ditambah pendalaman seni pijat dari ahli refleksiologi China. Ia sempat merantau ke Jakarta, sebelum kembali ke Banda Aceh dan membuka kliniknya sendiri.

Pascatsunami, ia sempat panik tak ada pasien. “Saya sempat berpikir pindah ke Medan atau Jakarta, apalagi sekarang harus menanggung makan 15 orang termasuk keluarga kakak yang mengungsi,” tutur ibu satu anak ini.

Untung ada Daniel, karyawan lembaga PBB asal Kanada. “Ia meyakinkan saya, bahwa kami tak akan kekurangan pasien,” katanya.

Daniel pula yang membantu membenahi manajemen klinik, membelikan dua tempat tidur, handuk, dan sarung, selain membuatkan selebaran berbahasa Inggris. Prosedur perawatan-dalam bahasa Inggris-ditempel di ruang tamu dan di depan kamar mandi.

Kalau sebelum tsunami pasien hanya 3-4 orang tiap harinya, kini bisa 12 orang, 70 persennya tamu asing. Klinik yang buka pukul 08.00-21.00 itu tak pernah sepi. Fakhriah menerapkan sistem bagi hasil. Dari tamu asing yang membayar Rp 150.000 dan tamu lokal Rp 100.000 untuk perawatan komplet, 35 persen jadi hak pegawai. Makan dan penginapan pegawai ditanggung Fakriah.

Seusai menjalani perawatan 1,5 jam, badan pun terasa segar. Apalagi tertulis di prosedur “no hanky panky”, tak ada yang macam-macam di sini. Anda lelah? Silakan pijat di sini. (Agnes Aristiarini)

Dalam setiap diri manusia ada penyakit sekaligus obat penawarnya. Tinggal bagaimana manusia yang bersangkutan menjaga kesehatan. Juga menjaga agar penyakit tidak timbul menggerogoti tubuh mereka.

Itulah yang diungkapkan Achmad Syuhada (63), seorang pemijat refleksi yang sehari-hari membuka praktik di Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur.
Pak Syuhada, demikian pria kelahiran Purwokerto ini kerap dipanggil, membutuhkan pengalaman bertahun-tahun untuk mengambil kesimpulan seperti itu.

“Penyakit timbul akibat dari pola hidup dan makan yang salah. Baru setelah kesakitan, mereka mencoba menyembuhkan diri dengan menempuh segala cara dan usaha,” jelas pria berperawakan kecil ini.
Syuhada punya cara tersendiri dalam melihat apa yang sebenarnya dialami oleh pasiennya.

Pertama, dengan melihat aura. Kemudian, ia akan melihat sirkulasi darah si pasien. Menurut Syuhada, dari warna aura, bisa ditentukan apakah orang itu memang sakit atau tidak.

“Biasanya yang sakit auranya akan tampak suram, bahkan nyaris pekat. Pada mereka yang sehat, auranya terlihat menyala jernih,” ujarnya.
Meski demikian, ada juga pasien yang bermain-main dengan Syuhada. Ketika ditanya mempunyai keluhan apa (prosedur resmi pemeriksaan yang selalu dilakukan terhadap mereka yang datang padanya), mereka tidak mau mengaku. Namun, Syuhada tetap bisa melihat apa yang terjadi pada diri yang bersangkutan.

“Tidak hanya masalah kesehatan medis, tetapi bisa juga masalah dalam diri mereka. Ini yang berbahaya sebenarnya. Masalah didiamkan, hingga akhirnya tanpa sadar menyerang fisik. Timbullah penyakit,” lanjutnya menegaskan.

Di Kuku Ibu Jari
Bila saat didiagnosis dengan aura penyakit belum terlihat dengan jelas, Syuhada masih punya cara lain. Ia akan melihat sirkulasi darah di kuku ibu jari pasien. Menurut Syuhada, dengan cara ini daerah dalam tubuh yang menjadi sumber keluhan pasien, bisa diketahui.

“Ciri mereka yang punya keluhan adalah bila ujung kuku dipencet akan berwarna biru. Itu adalah sumber keluhan yang dirasakan,” ungkapnya.
Mengenai teori ini, Syuhada mengaku tidak sembarangan menemukannya. Menurutnya, pada telapak tangan manusia terdapat banyak simpul saraf dan aliran darah, yang mewakili simpul saraf dan jalan darah di anggota tubuh lainnya. Otomatis, bila anggota tubuh ada yang sakit bisa dirasakan lewat ujung-ujung jari, termasuk pada kuku.

Bila dua cara ini sudah dilakukan, langkah terapi, yakni dengan prana dan pijat refleksi, bisa segera dimulai. Prana adalah proses memasukkan energi bersih dan positif kepada orang yang mengeluh sakit.
Refleksi dilakukan untuk membuka simpul-simpul saraf dan jalan darah pada tubuh manusia yang mengalami gangguan. Karena urusannya berkenaan dengan saraf, Syuhada mengaku sangat berhati-hati dan tidak sembarangan memijat.

Tergantung Niat
Menurut Syuhada, lamanya pemijatan sangat bergantung pada keluhan yang ada. Bila ringan-ringan saja seperti masuk angin, hanya memakan waktu 45 menit hingga satu jam. Pada kasus-kasus berat, seperti stroke atau lainnya, memakan waktu antara sejam hingga satu setengah jam.

Menurut Syuhada, tidak selamanya terapi tersebut harus selalu berurutan. Terkadang hanya dengan prana saja, pasien sudah mengalami perubahan, sehingga tidak perlu menjalani refleksi. Sebaliknya, walaupun sudah menjalani prana dan pijat refleksi, ada yang tidak kunjung sembuh.
“Biasanya itu lebih kepada orangnya. Kalau dia berniat sembuh dan yakin, Insya Allah, sembuh. Kalau bandel dengan pantangan, itu yang agak sulit,” tegasnya.

Syuhada mengingatkan, bagaimanapun tinggi ilmu seorang dokter atau pengobat alternatif, semuanya juga mempunyai batasan. Yang menentukan segalanya adalah Tuhan.

“Kalau Tuhan punya rencana lain, kita mau apa?” ujar Suhada lagi. Karenanya ia mengingatkan pentingnya sikap pasrah kepada pasiennya. “Tapi, bukan berarti tidak berusaha dalam kepasrahan itu.”

Syuhada juga tidak memberikan pantangan apapun kepada mereka yang datang berobat padanya. “Saya bukan dokter, jadi urusan meneruskan makan obat dan larangan makan, saya kembalikan kepada dokternya masing-masing,” tegasnya lagi. @ Suharso Rahman

Alamat Praktik Achmad Syuhada
Pasar Rawa Bening Blok AKS No.164
Depan Stasiun KA Jatinegara
(Depan warung makan padang)
Hp. 0812-9737942

Kaki terasa ngilu dialami Lidwina Issabariah (63), sejak tahun 1995. Setelah menjalani terapi medis, dinyatakan ada tumor di kepalanya.

Operasi pengangkatan tumor telah dijalani, tapi rasa ngilu di sekitar kaki tak kunjung reda. Namun, setelah menjalani terapi dengan Agus Budiarto, lambat laun rasa ngilu itu pun hilang. Kini, ia tetap menjalani model pengobatan Agus sekadar untuk menjaga kesegaran tubuhnya.

Saya mengalami keluhan pusing dan ngilu di sekitar kaki kiri dan kanan. Keluhan ini sudah saya rasakan sejak tahun 1995. Rasa ngilu yang amat sangat, saya alami ketika menggunakan sepatu hak tinggi.

Kalau sedang berjalan, kaki terasa lemas sekali. Namun, saat itu hal-hal semacam ini tak pernah saya hiraukan.

Kalau tak salah ingat, pada tanggal 18 November 1996, tiba-tiba saja kedua kaki terasa sakit sekali saat dibawa berjalan. Sakitnya sukar saya lukiskan.

Semakin jauh berjalan semakin berat penderitaan ini. Seakan-akan kaki ini mau patah. Jangankan untuk berjalan, digerakkan saja sukar sekali.

Saat itu saya coba pengobatan alternatif tusuk jarum dekat rumah. Namun, pengobat tersebut tidak menemukan tanda-tanda adanya kelainan pada struktur organ dalam saya.

Kepalang tanggung, untuk lebih menyakinkan diri, saya tetap menjalani pengobatan tusuk jarum. Hasilnya sudah bisa ditebak. Tidak ada perubahan berarti atas rasa sakit yang saya alami.

Diduga Tumor

  • Beberapa hari kemudian, atas anjuran keluarga, saya coba memeriksakan diri ke seorang profesor ahli bedah saraf di sebuah rumah sakit di Jakarta. Setelah melakukan berbagai scanning, profesor tersebut menyatakan ada tumor di kepala saya.

Menurutnya, tumor tersebut menyerang saraf di kaki. Katanya lagi, bila tidak cepat-cepat dioperasi, saya akan mengalami kelumpuhan total.

Tanggal 5 Desember 1996 saya menjalani operasi pengangkatan tumor di kepala. Selang dua hari menjalani operasi, kaki dan tangan saya dapat digerak-gerakkan. Pusing yang kadang saya alami juga sudah hilang.

Sayangnya, beberapa minggu setelah operasi, rasa ngilu di kaki mulai terasa lagi. Saya kerap merasakannya bila sedang berjalan.

Beruntung, suatu ketika saya membaca sebuah majalah mingguan rohani yang menampilkan kegiatan Pak Agus dan beberapa pengobat lain di sebuah acara pengobatan sosial. Saya coba menghubungi Pak Agus lewat telepon dan membuat janji untuk berobat.

Pak Agus pun mencoba menerapi kaki saya. Awalnya, seperti gerakan membersihkan kotoran di meja, kaki saya diusap-usap dengan kedua tangannya. Namun, usapannya tak menyentuh kaki saya.

Saat pengusapan berlangsung, di kaki terasa seperti ada aliran-aliran hangat yang masuk ke setiap persendian. Setelah proses itu, Pak Agus mengolesi kaki dengan minyak. Katanya, minyak itu hasil racikannya sendiri.

Sejurus kemudian, telapak kaki saya mulai dipijat, dari ujung jari kaki hingga telapak. Setelah itu pijatan diteruskan ke daerah ujung jari tangan dan telapaknya. Meski sesekali terasa sakit, selama 30 menit saya menikmati pijatan itu.

Hasilnya, badan saya terasa lebih enteng. Setelah proses pemijatan selesai, saya mencoba melatih kedua kaki ini untuk berjalan. Awalnya, saya menggunakan sepatu berhak tinggi. Lalu, saya coba berjalan mengelilingi ruang tamu Pak Agus. Sungguh luar biasa, kaki saya tak terasa ngilu lagi, seperti sebelumnya.

Di rumah, saya masih mengoleskan minyak pemberian Pak Agus di bagian kaki. Berkat olesan itu, saat hendak tidur malam, badan terasa lebih hangat. Selama empat bulan, seminggu sekali, saya terus menjalani pemijatan. Pak Agus juga menyarankan saya untuk mengurangi makanan yang berlemak.

Meski merasakan kesembuhan hanya sekitar 80 persen, saya bersyukur, Tuhan masih memberi umur panjang. Sebab, saya menyadari seseorang yang sudah terkena pisau operasi, kemungkinan untuk normal kembali tidaklah besar. Sesekali, bila sedang kangen dengan pijatan pak Agus, saya menyempatkan diri datang ke rumahnya.

Namun, belakangan ini, karena saya tahu teknik Pak Agus adalah pijat refleksi dan kebetulan semua anggota keluarga sibuk sehingga tak ada yang bisa mengantar, saya coba menjalani pijat refleksi di gereja yang mempunyai klinik pijat refleksi. Kebetulan letak klinik itu tidak terlalu jauh dari rumah saya. Pijat refleksi juga saya manfaatkan untuk menjaga kebugaran tubuh. @ Hendra Priantono

Alamat Agus Budiarto
Jl. Duren Sawit Indah A IV/3
Jakarta 13470
Telp. 8615383
Hp. 08569021578, 08561038518

Reflexology can bring benefit in many ways, helping to ensure that each individual can achieve optimum health. Reflexology is particularly beneficial for stress related disorders which can account for 75% of all illnesses.

What conditions can it help?

Reflexology works by bringing the body back to homeostasis or balance. Any condition where the bodies systems are out of balance, will be helped. Reflexology is not used to diagnose conditions and is not a substitute for seeking medical advice from your doctor. Reflexology is designed to help you achieve and maintain optimum health.

  • IBS
  • Stress related conditions
  • Sleep disorders
  • Hay Fever
  • Eczema
  • Aches and pains
  • Multiple Sclerosis
  • PMS
  • Infertility
  • Pregnancy (from 12 weeks to birth)

Xanthe offers a range of different Reflexology treatments. They are as follows:

Foot Reflexology:

The history of foot massage originated from the Chinese who used footmassage for treatment 5,000 years ago. Then it was disseminated inThailand. From then on, Foot massage was improved, developed and applied for health care, especially for relieving muscle pain, relaxing and curing some diseases, because Foot massage could stimulate the function of physical organs and provide balance.

Hand Reflexology:

Hand reflexology is an non-invasive therapy based on the principle that body organs and structures are mirrored in the feet and in the hands. It treats the whole body by means of specific pressure. By treating a reflex point, I can un-block congestion and enhance energy flow encouraging the body’s systems to work in union. It is a natural way of bringing the body back into balance and to heal itself.

Ear Reflexology:

Thermo Auricular Therapy is an ancient natural therapy, which can be traced back to the Indians of North and South America. It is a natural way of having your ears syringed.

It can be very effective for conditions linked to the ear and head area, such as: Migraine, Headache, Sinusitis, Glue ear, Snoring, Hay Fever, Excess Ear Wax, Ringing in the Ear and Mild Hearing Loss.

Maternity Reflexology:

Xanthe offers a one-on-one session to demonstrate simple Reflexology techniques for your newborn. This will help you bond with your baby and help to resolve minor ailments, such as colic, constipation, vomiting, emotional distress, irritability, as well as some simple relaxation methods to calm and encourage sleep. These can be hugely beneficial and can be done anywhere.

Laman Berikutnya »