psikologi


Oleh :  Sawitri Supardi Sadarjoen, psikolog
Dalam kehidupan keseharian kita tidak pernah luput dari konflik, baik yang bersifat internal maupun interpersonal. Bagaimana kita menyiasati konflik yang kita hadapi sangat bergantung pada tipe kepribadian dan kadar motivasi kita mencari solusi sehat sehingga penyelesaian konflik pun akan membuat perasaan nyaman dan bahagia.

Konflik internal terjadi dalam diri pribadi. Adakalanya kita ingin meraih dua kebutuhan pribadi dalam satu waktu. Misalnya, suatu saat kita dihadapkan pada keinginan mendampingi anak yang sedang sakit keras yang dirawat di rumah sakit, sementara pada saat yang sama kita harus tetap masuk kerja demi penyelesaian tugas kantor yang mendesak karena bila kita dinilai kurang loyal ada ancaman dipecat. Padahal, kita membutuhkan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Lagi pula, mencari kerja saat ini sulit.

Konflik interpersonal terjadi karena kepentingan yang berlawanan antara kita dan pasangan kita, misalnya. Dengan kondisi keuangan terbatas, suami ingin mengganti mobilnya dengan yang baru, sementara sebagai ibu rumah tangga, atap dapur yang bocor membutuhkan perbaikan segera sebelum musim hujan tiba.

Perbedaan kebutuhan ini menyebabkan pertengkaran hebat dengan pasangan. Tentu saja harmoni relasi dengan pasangan pun terganggu karena pertengkaran yang hebat akan selalu diiringi sikap diam seribu basa antarpasangan dalam waktu beberapa minggu kemudian.

Frustrasi

Sebelum kita mendapatkan solusi terbaik dari kedua jenis konflik di atas, kita merasa tidak nyaman. Seolah ada perasaan menekan dalam dada dan mendorong kita menunjukkan reaksi frustrasi.

Ada empat jenis kelompok reaksi frustrasi, yaitu:

a. Depresi. Reaksi emosi terhadap situasi frustrasi yang membuat kita murung berlanjut, sedih, hilang gairah hidup, dan tidak berdaya berhadapan dengan dominasi suami dalam mengelola penghasilan keluarga karena pasangan kita tidak bisa menentukan prioritas kebutuhan keluarga.

Atap rumah yang bocor dan mengganggu kegiatan masak bagi kebutuhan primer keluarga tidak dianggap penting oleh suami. Suami lebih mengutamakan gengsi sosialnya sebagai pria berhasil karena dalam situasi ekonomi yang kurang positif saat ini tetap bisa mengganti mobil dengan mobil baru.

b. Reaksi agresi. Kita segera memberi perlawanan gigih, dan kalau perlu secara agresif memaksakan kehendak dengan memutuskan mendampingi anak di rumah sakit. Konsekuensinya, merancang argumentasi rinci bila ditegur atasan, sambil merancang tindakan provokatif bahkan konfrontatif saat mendapat kenyataan memang benar-benar terancam PHK. Perilaku agresi bisa berbentuk ungkapan verbal yang tajam, keras, atau bahkan nonverbal, dengan merusak bangunan dan peralatan kantor, misalnya.

c. Reaksi regresi biasanya ditunjukkan dengan menunjukkan perilaku ngambek, pundung, seperti halnya anak kecil yang tidak dituruti kemauannya. Jadi, reaksi emosi kita seolah kembali ke tingkat perkembangan jiwa terdahulu.

d. Reaksi apati. Kekesalan yang ditunjukkan dengan bersikap masa bodoh, acuh tak acuh, tidak peduli lagi akan kehidupan keluarga, seolah kehilangan kepekaan perasaan.

Solusi sehat

Keempat jenis reaksi terhadap situasi frustrasi tersebut kecuali merupakan kelompok reaksi emosi yang tidak dewasa terhadap hambatan pemuasan kebutuhan diri, tentu saja tidak terlepas dari tipe kepribadian yang sifatnya sangat individual.

Andai kita pada dasarnya pribadi depresi, maka kita akan cenderung memberi reaksi depresif, begitu pula halnya dengan pribadi agresif, regresif, dan apatis.

Tentu saja kita tidak akan membiarkan diri berlarut menyikapi konflik dengan cara tidak dewasa. Reaksi frustrasi yang tidak dewasa justru membuat kita terjerembap dalam situasi emosi yang tidak nyaman secara berlanjut.

Untuk itu, hanya terdapat satu kalimat kunci yang singkat, ”integrasikanlah fungsi rasio dan emosi kita secara proporsional”.

Caranya :

1. Mendasari penghayatan emosi dengan niat kuat menjadi lebih dewasa dari hari ke hari.

2. Berlatih mengungkapkan pendapat secara asertif. Misalnya, mengungkapkan kekhawatiran yang amat sangat akan kesehatan anak kepada atasan. Cara mengungkapkan kekhawatiran secara jelas dan sopan akan membuat atasan mempertimbangkan untuk menerima alasan ketidakhadiran kita di kantor pada saat genting tersebut.

3. Mempelajari cara mengelola frustrasi dengan memilih yang terbaik dari tiga alternatif teknik pengelolaan berikut.

a. Akomodatif, antara lain mencoba mengakomodasi keinginan pasangan mengganti mobil dengan mobil baru seraya menyisakan sedikit uang untuk perbaikan bagian atap dapur yang paling rusak.

b. Kompromistis.
Bolehlah pasangan kita membeli mobil baru saat ini, tetapi penghasilan keluarga dalam waktu terdekat benar-benar digunakan untuk perbaikan atap dapur.

c. Kolaboratif. ”Tolong sisihkan sedikit uang dari sisa pembelian mobil, nanti akan saya gabung dengan simpanan saya untuk memperbaiki atap dapur.”

Nah, dengan uraian di atas, muncul pertanyaan dalam diri, sejauh mana kita berniat untuk secara perlahan tetapi pasti meningkatkan reaksi frustrasi yang kekanakan menjadi semakin mendewasa?

Sumber : Kompas Cetak

Iklan

Oleh : Agustine Dwiputri, psikolog

KEBETULAN saat ini kita tengah berada pada bulan Ramadhan, masa menjalankan ibadah berpuasa bagi umat Islam.

Dari pengamatan saya, dalam kebanyakan budaya kita masa ini senantiasa diiringi dengan acara saling memaafkan, baik sebelum mulai menjalani puasa maupun pada saat Lebaran nanti.

Meski demikian, apa benar hanya pada masa-masa ini saja kita bisa memaafkan? Bukankah sesungguhnya dalam hidup sehari-hari kita juga sering terlibat dengan tingkah laku yang satu ini? Sebagai contoh, mari kita simak beberapa pertanyaan berikut.

Ada seorang istri bertanya, ”Mungkinkah saya memaafkan suami saya yang sudah berselingkuh? Sama sekali saya tidak menyangka dia tega melakukan hal itu kepada saya.”

Seorang yang lain mengatakan, ”Bagaimana cara saya memaafkan kesalahan ayah saya yang sering memukuli saya dengan ikat pinggangnya waktu saya masih kecil.”

Pertanyaan lain, ”Pacar saya sering sekali terlambat datang, tidak sesuai dengan janji. Sekali dua kali, ya, saya bisa memaafkan, tetapi kalau terus-terusan?”

Arti maaf

Dari jawaban umum, kita bisa mengartikan memaafkan sebagai mengampuni kesalahan, tidak mendendam, memberi remisi, atau pembebasan .

Secara psikologis, memaafkan merupakan proses menurunnya motivasi membalas dendam dan menghindari interaksi dengan orang yang telah menyakiti sehingga cenderung mencegah seseorang berespons destruktif dan mendorongnya bertingkah laku konstruktif dalam hubungan sosialnya (Cullough, Worthington, Rachal, 1997).

Dari contoh pertanyaan-pertanyaan di atas terlihat banyak kejadian menyakitkan hati akibat dicaci, dibohongi, ditipu, atau dikhianati orang lain, yang membuat kita sering sulit memberi maaf. Mengapa?

Fiksi

Menurut Janis Spring (1996), ada lima anggapan keliru tentang memaafkan yang mungkin membuat kita berhenti belajar melakukannya.

1. Pemaafan terjadi secara total dan sekaligus.

2. Ketika Anda memaafkan, perasaan negatif terhadap orang lain berganti menjadi perasaan positif.

3. Ketika memaafkan seseorang, Anda mengakui perasaan negatif Anda padanya adalah salah atau tak dapat dibenarkan.

4. Bila Anda memaafkan, Anda tidak akan mendapat imbalan apa pun.

5. Bila Anda memaafkan seseorang, Anda melupakan luka hati Anda.

Dengan memercayai fiksi-fiksi tersebut, maka sepertinya tingkah laku memaafkan jauh untuk bisa kita jangkau dan membuat kita jadi berpikir hanya orang suci atau nabilah yang dapat melakukannya karena harus dilakukan tanpa syarat, secara total, dan dengan cara mengorbankan diri pribadi.

Fakta

Padahal menurut Spring, ahli psikologi klinis dari Yale University, AS, memaafkan bukanlah tindakan yang bersih murni dan tidak mementingkan diri sendiri. Memaafkan adalah bagian dari proses yang dimulai ketika kita berbagi rasa sakit hati setelah peristiwa menyakitkan berakhir dan akan berkembang begitu kita punya pengalaman mengoreksi diri, yang membangun kembali rasa percaya dan keakraban terhadap orang lain.

Untuk memperbaiki dugaan keliru tadi, kita perlu melihat kenyataan yang sesungguhnya terjadi pada kita sebagai manusia biasa agar dapat lebih mudah belajar memaafkan kesalahan.

Fakta 1. Proses memaafkan selalu berlangsung perlahan dan berlanjut sepanjang hubungan kita dengan orang tersebut. Mungkin saat ini kita hanya dapat memaafkan kesalahan seseorang sebanyak 10 persen, dan begitu kita membina hubungan kembali kita mungkin dapat menambah dengan 70 persen, tetapi tak pernah lebih banyak lagi.

Hal di atas sah-sah saja. Kita tak perlu menjadi orang baik bila kita memaafkan secara total, kita juga tak perlu menjadi jahat bila tak bisa melakukannya. Kita hanya dapat memberi apa yang mampu kita berikan dan apa yang orang lain peroleh.

Fakta 2. Beberapa orang mungkin bertahan untuk memaafkan karena melihatnya sebagai ”penghentian permusuhan/dendam”, suatu kondisi di mana kepahitan lenyap digantikan rasa cinta dan kasih. Padahal sebenarnya tak ada orang mampu mencapai kondisi seperti itu.

Dalam hidup, luka psikis tak pernah sepenuhnya sembuh atau menghilang, ataupun secara ajaib digantikan hal positif lain. Yang benar, seperti halnya cinta yang matang, memaafkan membolehkan adanya pertimbangan serempak antara perasaan yang bertentangan, gabungan dari rasa benci dan cinta.

Bila kita memaafkan, kebencian kita tetap ada, tetapi diimbangi dengan kenyataan orang yang menyakiti tidaklah begitu buruk ataupun kita yang telah sangat naif.

Fakta 3. Sebenarnya, dengan memaafkan bukan berarti kita mengingkari kesalahan pelaku atau ketidakadilan yang telah terjadi, tetapi hanya membebaskannya dari ganti rugi (retribusi).

Fakta 4. Beberapa orang tak mau memaafkan karena berpikir, ”Mengapa saya harus membebaskan seseorang dari kewajiban memperbaiki kesalahannya?”

Padahal, dengan memaafkan tidak berarti kita lemah atau harus membuat orang lain jadi tidak bertanggung jawab. Bila tujuan kita berekonsiliasi, memaafkan memerlukan penebusan dari pelaku. Pemaafan yang sesungguhnya tak bisa diberikan sampai pelaku membayarnya melalui pengakuan, penyesalan, dan penebusan.

Fakta 5. Yang benar, bagaimanapun orang yang disakiti tak pernah akan lupa seperti apa kita telah diperdaya atau dikhianati, apakah kita memaafkan atau tidak.

Setelah bertahun-tahun berlalu, kita akan tetap bisa mengingatnya, tetapi hanya sebagai bagian dari suatu gambaran/potret yang juga melibatkan masa-masa kebersamaan lain yang lebih positif dengan pelaku.

Salam hangat.
Sumber : Kompas Cetak

Oleh : Kristi Poerwandari, Psikolog

Bayangkan Anda seorang anak kecil berusia delapan tahun, di panas terik berjalan kaki cukup jauh pulang sendiri dari sekolah. Anda kesepian, kelelahan, dan kehausan. Begitu sampai rumah Anda berlari masuk, menarik gelas dari meja makan, tanpa sengaja menjatuhkannya.

Ayah atau ibu kaget, menghampiri dengan tubuh tegang. Bukannya menunjukkan kekhawatiran, mereka mulai memaki-maki. Mengguncang dan memukul Anda: ”Dasar goblok. Anak tidak tahu diuntung! Selalu bikin masalah. Itu gelas bagus tahu?! Hari ini kamu dihukum tidak dapat makan siang!!” Mungkin Anda sangat ketakutan, tegang, dan bingung, sementara badan terasa sakit akibat pukulan.

Dengan gerakan kacau, Anda mulai memunguti pecahan gelas, mungkin begitu paniknya sehingga tangan tertusuk dan berdarah. Ayah atau ibu sama sekali tak peduli, tegak berdiri penuh kebencian.

Luka akibat tertusuk pecahan kaca mungkin sembuh dalam waktu singkat, tetapi luka batin? Bila mengalami hal di atas, mungkin kita akan menghayati begitu banyak perasaan negatif: takut, bingung, kesepian, sedih, marah, dan menyesali diri, merasa bodoh, tak berdaya, mungkin juga sangat marah dan benci kepada orangtua yang telah berlaku tidak adil. Kita juga akan merasa sangat malu karena orangtua melakukan hal begitu buruk dan karena kita diperlakukan demikian buruk.

Trauma psikologis adalah suatu kejadian yang menghadapkan kita pada ancaman genting yang overwhelming, berdampak pada tergoncangnya keseimbangan. Ketika itu terjadi, kapasitas menyelesaikan masalah dari otak kehilangan kemampuan mengendalikan situasi. Kekagetan dan ketakutannya dapat sangat melumpuhkan, apalagi bila dibarengi sakit fisik.

Luka batin akibat perlakuan orang terdekat sering lebih menghancurkan. Apalagi bila itu terjadi berulang.

Psikoanalisis mampu menjelaskan rinci betapa perlakuan buruk dari orang terdekat sejak masa awal kehidupan dapat menghantui hingga masa dewasa. Luka batin yang tak terobati mungkin menghancurkan kepercayaan kita kepada orang lain. Luka batin juga sering menghancurkan kepercayaan kita kepada diri sendiri (”Apakah aku cukup baik untuk dicintai?; ”Adakah yang sungguh-sungguh peduli kepadaku?”)

Luka batin mencerabut jangkar psikologis atau akar terdalam dari rasa aman manusia. Bagaimana orang merespons luka batinnya?

Tergantung karakteristik kepribadian, sosialisasi yang diterima, dan keseluruhan konteks hidupnya. Rasa marah mungkin terbawa hingga dewasa. Sikap menghukum dari orangtua diadopsi dalam bentuk mudahnya individu marah dan menghukum pasangan hidup atau anak. Atau rasa tidak aman yang kuat menyebabkan kita membentengi diri akibat takut dilukai.

Ada yang jadi sinis, punya kebutuhan berlebihan tak pernah terpuaskan akan seks, kekuasaan, prestise, dan lainnya. Intinya, hal-hal itu menjadi kompensasi ketidakyakinan kita sungguh-sungguh pribadi berharga dan patut dicintai.

Luka batin dalam komunitas juga berdampak bervariasi. Proses psikologis seperti generalisasi dan pembakuan stereotipe dapat menggulirkan ribuan masalah lebih lanjut.

Pengalaman buruk langsung maupun tak langsung (yang dilihat dan didengar) dengan kelompok tertentu (polisi, perempuan, guru, orang kaya, individu dengan karakteristik fisik tertentu) dapat mengental dalam ingatan dan berpengaruh terhadap perilaku kita.

Membangun kebahagiaan

Berikut cuplikan surat seorang gadis, sebut saja Cinta, di Jakarta, yang penuh luka batin akibat tindakan orangtua sejak masa kecil dia.

”Mbak, aku melakukan kesalahan lagi. Ibuku tadi marah-marah ke tukang yang sedang merenovasi rumah. Aku takut mereka dendam kepada Ibu dan malah kenapa-kenapa, jadi Ibu ku tenangkan. Eh, malah aku dimarahi habis-habisan. Katanya aku sok tahu, sok mengatur, durhaka. Mama teriak-teriak, lempar barang hampir kena ke kepalaku. Aku dituduh sengaja bikin Mama jadi stres supaya Mama masuk rumah sakit jiwa…. Aku tertekan banget, aku nangis berjam-jam. Kalau sudah begini, aku jadi ingin menghubungi lagi mantan pacarku. Tetapi, jangan khawatir Mbak, aku tahu itu bukan penyelesaian yang baik. Jadi, aku mau tidur dulu saja. Capekkkk.” (Dia baru putus pacaran dengan laki-laki beristri dan mulai menyadari hubungan tersebut tidak memberi manfaat apa pun bagi dia).

Dalam surat lain, dia menulis: ”Mbak, aku tidak mau jadi orang yang sama seperti ayah-ibuku yang penuh kepahitan dan menyakiti anak-anaknya. Aku sakit hati sekali kepada mamaku, sampai sekarang belum bisa ku hilangkan. Aku tahu sumber kekacauan emosi ibuku: ia bertahan hidup 32 tahun dengan suami kasar, sering menghina dan main tangan. Tadi ku dengar ayah maki-maki ibuku: ’Goblok kamu, anjing, mampus!’ Aku ingin menyayangi diriku sendiri. Pakai ukuranku sendiri dalam memahami diri sendiri, bukan ukuran orang lain, bukan ukuran mamaku atau papaku yang menganggap aku kurang pintar, kurang membanggakan, kurang cantik, kurang kaya, dan entah apa lagi.”

Ia akan terus bertahan di bidang kerjanya yang tidak disukai orangtua karena gajinya tidak sebanyak yang mereka harapkan. Ia juga akan melihat sisi-sisi positif dirinya, tidak dirontokkan komentar menyakitkan orangtua (”Kalau kamu gayanya begitu, enggak akan ada cowok mau. Paling yang datang orang-orang goblok, tukang porot, yang mau ambil duit kamu!”). Meski sulit, Cinta sedang berusaha keras membangun rasa cinta kepada diri sendiri dan tampaknya akan berhasil.

Bagaimanapun, mencegah jauh lebih mudah daripada mengobati. Bayangkan bila anak yang memecahkan gelas secara tak sengaja itu dihampiri orangtuanya yang khawatir, kemudian memeluknya, menenangkan, dan membantu membersihkan pecahan kaca. Ketakutan dan kekagetan anak akan berganti dengan kelegaan, perasaan terlindungi, terbasuh kasih sayang.

Sumber : Kompas Cetak