By Republika Newsroom

bp_fall06_backyard_jogging_l

Rutin lebih sehat daripada sekali setahun

JAKARTA – Mau terhindar dari resiko diabetes? Tidak ada salahnya setiap hari melakukan jogging atau bahkan berlari cepat selama 30 menit. Olahraga lari rupanya membawa banyak manfaat.

“Sebenarnya kesehatan itu hanya diperoleh dengan berlari selama 7,5 menit perhari,” kata Dokter James A Timmons Dari Heriot-Watt University, Edinburgh, Skotlandia.

Timmons dan para koleganya meneliti 16 pria berusia 20 tahun. Mereka diminta menjalanai enam sesi latihan fisik. Setiap sesi antara lain terdiri dari sprint selama 6 hingga 30 detik, diselingi empat menit istirahat. Setelah beristirahat mereka diminta berlari lagi. Sehingga total latihan tersebut mencapai 17 hingga 26 detik.

Latihan tersebut dilakukan selama dua pekan. Mereka juga diberi larutan manis setiap hari. Ternyata kadar gula mereka tetap normal. PAdalah menurut penelitia laruta glukosa biasanya menaikkan kadar gula darah di atas normal.

Timmons menganjurkan agar setiap orang melakukan latihan olahraga intensif setiap hari. Selain jogging olahraga yang juga bisa dilakukan adalah bersepeda kencang atau lari menaiki tangga dua kali dalam sepekan.

Khusus penderita diabetes berusia 20 – 40 tahun, dianjurkan meningkatkan aktivitas fisik secara bertahap di bawah pengawasan dokter. “Kuncinya kita lebih baik berolahraga rutin 7,5 menit setiap hari ketimbang berlari selama 30 menit tetapi hanya satu kali dalam setahun,” ujarnya/reuters/itz

HIDUP yang tenang tanpa dibayang-bayangi stres atau tekanan adalah salah satu kunci utama menuju kesehatan dan kebahagiaan. Tetapi sebaliknya, bila hidup selalu dibayangi kecemasan atau depresi  maka gerbang menuju ketentraman dan kesehatan semakin tertutup.
Kecemasan dan depresi memang faktor-faktor yang dapat membuat seseorang menjadi rentan dan lemah, bukan hanya secara mental tetapi juga fisik. Penelitian terbaru membuktikan kecemasan, depresi dan gangguan tidur malam hari adalah faktor pemicu terjadinya penyakit diabetes khususnya di kalangan pria.

Para ahli dari dari Karolinska Institute Swedia menemukan, pria yang memiliki tingkat stres psikologisnya tinggi tercatat memiliki risiko dua kali lipat menderita diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang tingkat stres psikologisnya rendah. Namun hubungan antara tingginya stres psikologis dengan diabetes tidak ditemukan di antara para wanita.

Seperti yang dimuat dalam jurnal Diabetic Medicine, para ahli melibatkan 2.127 pria dan 3.100 wanita yang lahir antara 1938 hingga 1957 untuk dijadikan obyek penelitian. Pria, yang kadar gula darahnya normal, diwawancara untuk mengetahui apakah mereka mengalami gejala-gejala  stres psikologis, termasuk kecemasan, insomnia, depresi, apatis dan kelelahan. Setelah delapan hingga 10 tahun kemudian, para pria wajib melakukan tes darah untuk mendeteksi kemungkinan diabetes.

Pria dengan tingkat stres psikologisnya paling tinggi tercatat hingga 2,2 kali lipat memiliki kemungkinan atau risiko mengidap diabets daripada yang tingkatnya rendah. Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak terpengaruhi oleh faktor lain seperti usia, indeks masa tubuh, riwayat diabetes dalam keluarga, merokok, aktivitas fisik dan latar belakang sosial-ekonomi.

Pada wanita yang juga menjalani mekanisme serupa, hasil penelitian menunjukkan tidak adanya peningkatan risiko diabetes pada mereka yang tingkat stres psikologisnya tinggi.

Pimpinan riset Professor Anders Ekbom, dari Karolinska Institute, Swedia, mengatakan bahwa stres dan depresi memang sudah sejak lama dikenal sebagai faktor risiko timbulnya penyakit jantung.  Dua hal ini juga dicurigai memberikan kontribusi besar bagi tercetusnya penyakit diabetes.

“Hubungan ini merupakan suatu hasil dari bagaimana stres psikologis mempengaruhi pengaturan hormon-hormon atau bahkan mungkin karena pengaruh depresi terhadap diet seseorang dan tingkat aktivitas fisik dalam cara yang negatif,” ujarnya

Ia menambahkan pria dan wanita cenderung berbeda dalam cara mengatasi stres, yang mana hal ini mungkin  bisa menjelaskan perbedaan dalam  risiko. “Sementara wanita terbuka dalam mengungkapkan gejala-gejala stres dan depresi, pria cenderung lebih sungkan untuk mengakui perasaan dan cendeerung untuk mengatasinya dengan cara minuman keras, menggunakan narkoba atau aktivitas-aktivitas pribadi lainnya,” tambah Ekbom.

Dalam penelitian terpisah, tim peneliti dari Universitas Newcastle menemukan bahwa aktivitas berjalan kaki selama 45 menit setiap hari dapat membantu seseorang mengendalikan diabetes. Dalam penelitian, para partisipan mampu membakar lemak dengan lebih baik yang pada akhirnya membantu mereka mengendalikan kadar gula darah.
AC
Sumber : BBC

SELEPAS menyantap sahur atau sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba (ngabuburit dalam bahasa Sunda), kegiatan apa yang biasanya dilakukan keluarga Anda? Mungkin berjalan kaki mengitari kompleks perumahan bisa menjadi alternatif. Selain murah, olahraga ini sangat menyehatkan.

Penelitian terbaru di Jepang yang dilakukan pada sejumlah 8.600 pekerja pria yang terbiasa berjalan kaki ke kantor membuktikan para pekerja tersebut memiliki kadar gula normal. Empat tahun kemudian, kesehatan mereka dievaluasi kembali. Hasilnya? Semakin banyak waktu tempuh yang dihabiskan untuk berjalan kaki, makin rendah risiko terkena diabetes tipe 2.

Seperti dilaporkan dalam jurnal kesehatan Diabetes Care, para peneliti dari Jepang mengatakan dengan berjalan kaki, tubuh lebih sensitif terhadap insulin, yakni hormon yang mengatur kadar gula dalam tubuh. Tak hanya itu, dengan berjalan kaki, stres pada bagian tubuh termasuk paha, lutut, dan pergelangan kaki akan berkurang. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa berjalan kaki mengurangi risiko osteoporosis (keropos tulang).

Jadi, jangan takut capek, berjalan kaki sambil menanti azan maghrib tiba justru baik untuk kesehatan. Selamat ngabuburit.

(Mom& Kiddie//tty)

Penulis : Purwanti

Foto : stock.xchng

Diabetes tipe satu biasa disebut diabetes yang bergantung pada insulin, atau diabetes juvenil, yang diderita oleh anak-anak dan remaja. Lebih jarang ditemukan ditemukan dibandingkan dengan diabetes tipe dua.Diabetes tipe satu disebabkan karena faktor genetis dan faktor penyebab lainnya. Diabetes tipe satu sering muncul tiba-tiba pada masa anak-anak (dibawah usia 20 tahun), dengan gejala-gejala tertentu. Seperti, turunnya berat badan secara drastis, mudah lelah, sering buang air kecil, dan sering merasa lapar atau haus.

Penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan pesatnya pertumbuhan penyakit diabetes tipe satu di dunia. Ada beberapa faktor risiko diabetes tipe satu :

1. Riwayat kesehatan kleluarga dengan diabetes tipe satu. Namun, 80 % penderita diabetes tipe satu tidak memiliki riwayat kesehatan keluarga dnegan diabetes tipe satu.

2. Infeksi virus, gondongan atau sampak, bisa menyebabkan reaksi imun dan bisa menghancurkan sel-sel yang memproduksi insulin.

3. Infeksi virus pada masa kehamilan bisa meningkatkan risiko anak terkena diabetes tipe satu. Lebih dari 20 % anak-anak terkena infeksi sewaktu berada dalam rahim (tertular dari infeksi pada ibunya), akan terkena diabetes tipe satu dalam 5 sampai 20 tahun mendatang.

Cara mendiagnosa diabetes tipe satu adalah dengan memeriksakan kadar gula dalam darah, dibarengi dengan adanya keton dalam urin. Hal ini cukup dilakukan untuk mengetahui dan memastikan apakah sesorang mengidap diabetes tipe satu atau tidak.

Penderita diabetes tipe satu harus menghindari kadar gula yang melewati batas normal, baik itu terlalu rendah ataupun terlalu tinggi, hiperglikemia dan hipoglikemia, karena keduanya dapat berakibat fatal. Hiperglikemia dapat menebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil, dan akan menghakibatkan kerusakan permanen jika tidak diberi tindakan secepatnya. Sedangkan hipoglikemia menyebabkan hilangnya kesadaran.

(*/ berbagai sumber)

Hasil penelitian terbaru menyimpulkan lemak di sekitar pinggul dan bokong berpotensi melindungi Anda dari penyakit diabetes.

Dr Ronald Kahn dari Harvard Medical School, Boston, AS, dan rekan-rekannya mengungkapkan lemak yang berada tepat di bawah permukaan kulit (subcutaneous fat) dapat membantu meningkatkan sensitivitas terhadap hormon insulin yang mengatur gula darah.

Kesimpulan itu didapat setelah mereka mengadakan serangkaian eksperimen terhadap tikus.

Mereka mencangkokkan subcutaneous fat dari tikus lain ke dalam tubuh dua tikus percobaan. Pada tikus pertama, lemak disuntikkan ke perut. Pada tikus kedua, lemak disuntikkan hanya di bawah permukaan kulit. Hasilnya, berat tikus pertama turun dalam beberapa pekan. Gula darah dan tingkat insulin tikus tersebut juga membaik jika dibandingkan dengan tikus kedua.

Para ahli mengatakan seseorang yang memiliki lemak di bagian perut berisiko lebih besar terserang diabetes dan jantung ketimbang mereka yang mempunyai lemak di bagian pinggul dan bokong.

(*/Reuters/X-5)