Meski menjadi salah satu “gudang” herbal dunia, nyatanya di Indonesia obat tradisional belum dipandang sejajar dengan obat modern. Selain itu, belum banyak dokter yang membuka praktik pengobatan herbal. Obat tradisional juga belum diintegrasikan dengan pelayanan kesehatan nasional.

Menurut Dr Amarullah H Siregar, saat ini masyarakat masih memiliki paradigma berobat. “Setiap ada keluhan langsung diobati, namun akar masalahnya tidak dicari. Paradigma kita seharusnya diubah, bukan berobat tapi minta disembuhkan,” paparnya dalam seminar “Sehat dengan Herbal” yang diadakan oleh Deltomed, di Jakarta, Rabu (19/5/2010).

Ia menambahkan, obat-obatan modern lebih banyak bertujuan untuk mengobati gejala penyakitnya, tetapi tidak menyembuhkan sumbernya. Berbeda halnya dengan pengobatan herbal yang memiliki pendekatan holistik antara tubuh, pikiran, dan jiwa.

“Tubuh kita sebenarnya terbangun oleh kesatuan sistem. Semua saling berhubungan. Sehingga jika ada satu bagian yang sakit, sisi yang sehat harusnya diberdayakan,” kata dokter yang menekuni pengobatan herbal (naturopati) ini.

Konsep yang diterapkan dalam ilmu naturopati adalah perawatan medis untuk memberdayakan fungsi alami tubuh dalam pengobatan, pencegahan, dan meningkatkan taraf kesehatan. Metode yang digunakan bersifat alami dan non-invasif atau tanpa operasi, tanpa obat kimia sintetis, berorientasi kepada pasien, dan ramah lingkungan.

Pengobatan tradisional, menurut Amarullah, memang harus dikonsumsi jangka panjang dan tidak memberi efek seketika seperti obat modern. Meski demikian, ia mengatakan bahwa efek penyembuhannya tetap sama.

“Ambil contoh meniran (Phyllanthus urinaria) yang punya efek seperti antibiotik. Ia tidak langsung membunuh kuman, namun mengaktifkan kelenjar timur yang menghasilkan sel-T yang merupakan pembunuh alami kuman,” kata dokter yang memiliki klinik di kawasan Ragunan Jakarta ini.

Kendati demikian, obat herbal hendaknya tidak dikonsumsi secara sembarangan, apalagi bila dicampur dengan obat kimia. Konsumen juga sebaiknya memerhatikan cara pemasakan hingga cara mengonsumsinya.

Sumber : kompas.com

Iklan

Ikatan Dokter Indonesia bersama Kementerian Kesehatan tengah menyusun kurikulum untuk diaplikasikan dalam pendidikan dan pelatihan pengenalan obat-obatan herbal bagi dokter umum di Indonesia. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar IDI Slamet Budiarto mengatakan, penyusunan kurikulum sudah dilakukan selama enam bulan.

”Kurikulum akan diterapkan pada pelatihan bagi para dokter yang sudah berpraktik, terutama dokter umum,” kata Slamet seusai berbicara dalam Seminar Perkembangan Herbal dan Penggunaannya dalam Bidang Kesehatan yang diselenggarakan IDI Kota Padang dan produsen jamu Sido Muncul di Kota Padang, Sabtu (15/5).

Slamet mengatakan, kurikulum tentang obat-obatan herbal diharapkan bisa menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada obat impor. Di sisi lain, dilakukan upaya penelitian guna mendapatkan sandaran ilmiah bagi tanaman herbal untuk bisa digunakan dalam pengobatan medis.

Menurut Slamet, selama ini obat-obatan herbal baru digunakan pada tingkat promotif, belum sampai pada tingkat kuratif (pengobatan).

Guru Besar Universitas Diponegoro, Semarang, Prof dr Edi Dharmana menambahkan, hambatan terbesar untuk memproduksi dan mengenalkan obat herbal ialah relatif minimnya anggaran penelitian. Penelitian penting untuk uji klinis obat herbal sebelum menjadi fitofarmaka.

”Kita harapkan para dokter mau menggunakan obat herbal. Masalahnya, belum semua obat (herbal) diteliti kandungan aktifnya. Jadi, tidak ada bukti klinis sehingga dokter ragu,” kata Edi yang juga peneliti obat herbal dan ahli imunologi itu.

Edi menyatakan, saat ini di Indonesia baru ada lima obat herbal Indonesia yang lulus uji klinis untuk jadi fitofarmaka, yaitu Stimuno (peningkat kekebalan tubuh), Tensigard Agromed (obat darah tinggi), X-Gra (peningkat gairah seksual laki-laki), Rheumaneer (pengurang rasa nyeri), dan Nodiar (antidiare).

Namun, setelah lolos uji klinis, obat herbal dari bahan-bahan alami tadi harganya relatif mahal dan cenderung sama dengan obat-obatan impor. Contohnya Tensigard Agromed yang terbuat dari seledri (Apium graviolens L) dan tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus Bent).

Menanggapi hal tersebut, Slamet mengatakan, yang terpenting memanfaatkan dan menggunakan dulu obat herbal dari keanekaragaman hayati Indonesia.

Sumber : kompas.com

Tradisi minum jamu untuk kesehatan sudah lama dilakukan sebagian masyarakat. Kini, di setiap rumah sakit umum direkomendasikan untuk menyediakan klinik obat tradisional. Sekarang sudah ada 17 rumah sakit pendidikan yang memberikan pelayanan jamu sebagai rujukan proses pengobatan.

Untuk meningkatkan jumlah dan jenis obat tradisional yang memenuhi persyaratan efikasi dan keamanan, kerja sama penelitian dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian harus diintensifkan.

Demikian terungkap dalam seminar ”Prospek Pengembangan Jamu Menuju Indonesia yang Sehat dan Mandiri: Harapan dan Tantangannya”, Sabtu (22/5) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Tampil sebagai pembicara Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, Apt, dari Pusat Studi Obat Bahan Alam FMIPA UI; Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Agus Purwadianto; dan Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat. Pembicara kunci adalah Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih.

Menkes mengatakan, ”Pasca- pencanangan kebangkitan jamu nasional dua tahun lalu, pemerintah sudah menyiapkan rambu-rambu dan juga sudah menempatkan studi mengenai jamu tradisional di universitas. Sudah ada Program Studi Herbal di Pascasarjana UI,” katanya.

Agus Purwadianto mengatakan, pihaknya akan menyiapkan semua lini agar ada landasan ilmiah bagi jamu sebagai salah satu sarana pengobatan di samping pengobatan farmasi yang sudah ada.

Sumber : kompas.com

Getty ImagesMinggu, 24 Februari 2008 | 20:48 WIB

PENGOBATAN herbal adalah penggunaan seluruh atau beberapa bagian tanaman untuk mengobati berbagai macam penyakit dan mempertahankan kesehatan. Penggunaan tanaman sebagai obat sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Walaupun sering dikategorikan sebagai pelengkap atau alternatif di negara barat, obat herbal tetap obat yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.

Negara pengguna obat-obatan herbal tertua yang tercatat dalam sejarah, sekitar tahun 2800 sebelum masehi, yakni China. Mereka saat itu telah menggunakan 366 jenis tanaman sebagai obat. Selain di China, di beberapa belahan dunia lain juga sudah mengenal tanaman obat, seperti Yunani dan Eropa Barat. Bahkan, fisikawan Yunani Hippocrates meninggalkan daftar 400 tanaman obat yang ditelitinya.

Zaman dahulu, penggunaan tanaman obat selalu dikaitkan dengan mitos dan ilmu sihir. Namun, sekarang penggunaan tanaman obat sudah didukung ilmu modern. Banyak tanamanan obat yang dulunya hanya warisan turun temurun dari generasi ke generasi, sekarang menemukan cara penggunaan yang baru, setelah dirinci melalui analisis kimia dan uji klinis. Penelitian terus menerus dilakukan dengan tujuan meningkatkan manfaat dan keamanan tanaman obat.

Tanaman obat dapat digunakan di rumah untuk mengobati penyakit ringan dan menjaga kesehatan supaya tetap bugar. Jika anda ingin menggunakan tanaman sebagai obat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Pastikan bahwa anda sudah tepat mengidentifikasi tanaman yang akan anda gunakan sebagai obat. Jika ragu-ragu mintalah petunjuk.

2. Konsultasikan tanaman obat yang baik untuk memastikan anda tidak melebihi dosis yang dianjurkan

3. Jika anda mengambil tanaman obat langsung di alam bebas, pastikan tanaman tersebut banyak tumbuh di daerah tersebut. Jangan menggali sampai akar-akarnya, selain untuk menjaga kelestarian di beberapa negara tindakan ini melanggar hukum.

4. Jangan menunggu lama menemui dokter, jika sakit anda bertambah serius.

Tanaman yang biasa digunakan di rumah

Tanaman-tanaman berikut biasa digunakan di rumah. Beberapa dari tanaman ini juga dapat mudah ditanam di rumah, sebagian ada di alam dan tersedia di toko bahan kimia dan makanan kesehatan.

Stinging nettle
Tanaman ini hanya tumbuh di tanah yang baik dan kaya, karena itu tanaman ini sering ditemukan di tanah yang berkompos. Tanaman ini banyak mengandung nutrisi, termasuk zat besi dan vitamin C, oleh sebab itu sangat baik dikonsumsi para penderita anemia. Selain itu, tanaman ini juga bagus untuk mereka yang mengalami gangguan alergi, termasuk juga eksim pada anak-anak. Tanaman ini dapat diminum seperti teh, atau dimasak sebagai sayuran.

Marigold Marigold
Tanaman ini dapat digunakan sebagai antiseptik, antiradang dan pembersih. Daun tanaman ini banyak digunakan di banyak krim dan obat salep untuk menggurangi iritasi pada kulit dan gigitan serangga. Tambahkan rebusan air Marigold ke air mandi anda. Untuk menjaga kondisi saluran getah bening dan infeksi jamur, air rebusan tanaman ini bisa langsung diminum.

Cleavers, Clivers atau Goosegrass
Tanaman ini biasanya muncul pada awal musim semi. Ambil daun yang muda dan pucuknya untuk dimakan sebagai salad atau diminum seperti teh.Tanaman ini sering digunakan sebagai penambah tenaga saat musim semi, khususnya untuk kelenjar yang bengkak dan penderita gangguan limfa. Tanaman ini kaya akan vitamin C.

Dandelion
Dandelion digunakan paling baik saat ia masih muda. Dapat digunakan dalam salad atau teh. Daun dandelion sangat baik untuk merangsang fungsi ginjal, akarnya baik untuk hati. Akarnya yang dikeringkan dapat menjadi pengganti kopi yang nikmat dan sehat.

Tanaman Obat Mediterania
Rosemary, Thyme dan Sage adalah tanaman obat Mediterania yang banyak mengandung minyak aromatik. Minyak tersebut digunakan sebagai antiseptik, jadi baik digunakan sebagai pembersih luka, obat kumur saat tenggorokan serak dan infeksi pada gusi. Tanaman ini dapat diminum seperti teh dan dimasak sebagai sayur.

Ketiga tanaman ini punya kelebihan masing-masing. Rosemary sebagai perangsang, secara khusus untuk kepala. Cobalah saat anda mengalami sakit kepala, kegagalan ingatan, dan rambut rontok. Thyme, khusus untuk mengobati kondisi paru-paru, selain itu juga digunakan sebagai antijamur. Sage, menggurangi keringat, jadi cobalah saat anda mengalami keringat berlebihan ketika menopause atau untuk menggurangi susu saat seorang ibu sudah berhenti menyusui.

Yarrow
Yarrow mempunyai banyak kegunaan, seperti mengurangi masalah pada saat menstruasi, gangguan pada kelenjar darah, dan demam. Jika diminum, air rebusan Yarrow terasa sedikit pahit.Untuk mengobati influenza dan demam, Yarrow biasanya dicampur dengan Elderflower dan Peppermint. Satu ons campuran tanaman obat ini harus direbus dengan 0,56 liter air dan diminum selagi masih panas. Bunga elder Elderflower banyak menggandung vitamin C dan bagus untuk mengobati influenza, demam, sinusitis, asma, dan radang selaput lendir di hidung. Tanaman ini bisa langsung dikonsumsi tanpa dimasak atau dapat juga dikeringkan atau dibekukan untuk digunakan pada waktu lain.

Peppermint
Peppermint menggandung bahan yang mudah menguap, termasuk menthol yang dapat membersihkan saluran pernafasan dan menyejukkan pencernaan. Bunga lemon Tanaman ini memberi aroma lain pada teh yang dapat menenangkan pikiran dan menurunkan tekanan darah.

Bunga Chamomile
Tanaman ini dapat menjadi antiradang dan obat penenang, menggurangi iritasi pada lambung dan membantu mereka yang tidak bisa tidur.

Echinacea
Echinacea adalah nama latin dari bunga Purple Cone. Baik bagian akar, maupun bagian hijau tanaman ini dapat digunakan sebagai obat. Salah satu yang dianggap paling bermanfaat oleh herbalis modern yakni echinacea mempunyai kemampuan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh. Jadi, tanaman ini digunakan untuk mengobati infeksi, demam, dan influenza. Tanaman ini juga sebagai pencegah infeksi bagi mereka yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah. Tanaman ini juga diharapkan bisa untuk mengobati infeksi HIV dan penyakit menular lainnya. Echinea tidak cocok untuk disedu, karena rasanya yang pahit. Lebih baik, mengkonsumsinya yang sudah dalam bentuk tablet dan kapsul.

Sumber: The Encyclopedia of Complementary Medicine

Dianovita