KALAU Anda merasa tidak nyaman selama berpuasa, ada kemungkinan itu pertanda tubuh Anda lambat menyesuaikan diri dengan jam biologis yang baru. Bagaimana sebenarnya perubahan bioritme tubuh selama berpuasa? Apakah perubahan jadwal makan dan waktu tidur selama berpuasa berpengaruh buruk terhadap tubuh? Berikut penjelasan Dr Handrawan Nadesul dalam rubrik Konsultasi Keluarga yang rutin dimuat Tabloid Gaya Hidup Sehat.

Bisa Terganggu
Jam biologis tubuh kita memang bersiklus secara ritmik yang bersifat bulanan dan harian. Waktu biologis disebut bioritme, dan jam biologis dari jam ke jam disebut circadian. Secara ritmik, suhu tubuh, siklus tidur dan terjaga, komposisi kimiawi darah, tensi darah, seks, detak jantung, rasa lapar, kesiagaan fisik serta mental, berfluktuasi dari jam ke jam.

Termasuk laju metabolisme tubuh, sensasi nyeri, dan penyerapan obat yang kita minum, serta respons tubuh terhadap suntikan insulin atau antibiotika misalnya, tidak selalu sama dari jam ke jam. Itu sebabnya, sekarang mulai dipikirkan kapan sebaiknya jam operasi cangkok organ tubuh paling ideal agar hasilnya optimal.

Jam biologis juga memengaruhi hasil tes IQ misalnya, selain kemunculan gangguan jiwa atau jet lag yang jadi lebih kerap terjadi. Secara keseluruhan, jam fisik bulanan bersiklus 23 hari, jam biologis emosi 28 hari, dan jam biologis kecerdasan 33 hari. Kehadiran jam biologis dimanfaatkan orang untuk menentukan kapan hari dan jam ideal mengambil keputusan penting.

Setiap orang memiliki bioritmenya sendiri-sendiri. Jika bioritme sedang tinggi gelombang emosi dan rendah gelombang kecerdasan, hindarkan mengambil keputusan. Demikian pula jika kondisi siklus fisik sedang berada di tingkat terendah, jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan.

Kembali ke soal circadian atau jam biologis dari jam ke jam. Tubuh yang sudah terkondisikan jam makan, jam tidur, dan kegiatan rutin harian lainnya bisa saja terganggu bila mendadak jadwal rutin itu berubah.  Kasus jet lag misalnya, secara mendadak mengubah jam tidur dan jam terjaga sehingga irama biologis mengalami perubahan. Tubuh perlu beradaptasi dengan perubahan dadakan itu.

Demikian pula halnya yang terjadi di awal-awal berpuasa. Mesin tubuh perlu menyesuaikan untuk di-reset mengikuti pola irama kegiatan harian yang baru, khususnya jadwal makan dan jam tidur.  Tidak semua orang cepat beradaptasi dalam perubahan irama itu.

Yang lambat adaptasinya akan merasakan adanya keluhan tidak enak, baik secara fisik, emosi, maupun hal lainnya. Oleh karena itu, di awal-awal berpuasa tak jarang muncul rasa tidak enak.  Namun, bagi kebanyakan orang, tidaklah bermasalah. Hal serupa terjadi pula setelah bulan puasa berlalu. Tubuh perlu me-reset jadwal kegiatan faali harian.

Umat muslim di dunia, termasuk Indonesia, memasuki bulan penuh berkah yakni bulan Ramadan. Persiapan-persiapan untuk menjalankan ibadah puasa pun dilakukan. Mulai dari mempersiapkan perlengkapan ibadah, makanan manis seperti korma untuk berbuka, hingga kesiapan kesehatan bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit.
Salah satu bagian tubuh yang sering kali bermasalah saat berpuasa adalah mulut. Sering kali bau mulut seseorang di bulan Puasa menjadi masalah serius dalam hubungan komunikasi dengan orang lain.

”Wajar saja hal itu terjadi karena memang ada yang menyikat gigi setelah tidur usai sahur, ada juga yang tidak. Bau mulut memang tidak bisa terhindarkan,” ujar dokter gigi Hariani Agustiarini.

Sebagian orang biasanya menyempatkan diri untuk tidur beberapa saat sehabis sahur dan salat Subuh, sebelum berangkat kerja. Namun, hal ini kerap menimbulkan masalah ketika bangun. Banyak orang yang ragu-ragu untuk menyikat gigi mengingat masih dalam kondisi berpuasa. Mereka beranggapan bahwa menyikat gigi itu makruh.

”Kalau menurut saya, tetap saya sarankan untuk menyikat gigi bila tidur lagi setelah sahur. Karena seberapa lama pun kita tidur, proses pembusukan dalam gigi tetap berlangsung dan itu menimbulkan bau mulut,” kata Hariani.

Bakteri di dalam gigi sebenarnya terus melakukan proses pembusukan, terutama setelah makan dan kondisi tubuh tidak aktif atau tidur. Menyikat gigi sebelum tidur tidak menjamin sisa-sisa makanan yang ada di dalam gigi terbuang semuanya. Makanan yang tersisa inilah yang menjadi sumber makanan dari bakteri dalam gigi sehingga berpotensi menimbulkan bau.

Tetapi, tingkat bau mulut seseorang tergantung dari kualitas mereka membersihkan gigi. Juga kondisi kesehatan seseorang. Orang yang menderita diabetes, misalnya, mulutnya akan tetap bau. Begitu juga yang menderita maag, bau mulut cepat keluar karena sensasi asam lambung yang cepat.

Untuk menjaga agar mulut tetap segar saat puasa dan tidak menimbulkan bau yang berlebih, makanan yang dikonsumsi saat sahur sebaiknya makanan yang tidak berpotensi tinggi menimbulkan bau, seperti pete atau goreng-gorengan. Makanan yang disarankan untuk sahur yaitu makanan tinggi serat seperti sayur dan buah.

Bau mulut saat puasa terjadi karena kekeringan pada mulut akibat kurangnya cairan (saliva atau air ludah). Karena saliva berkurang, bakteri dalam mulut pun jadi lebih banyak sehingga muncul bau mulut. Bagaimana mencegahnya? Berikut tips mengatasi bau mulut selama puasa:

1. Hindari makanan yang berpotensi menimbulkan bau seperti bawang merah, bawang putih, petai, jengkol, durian, ikan, daging, juga berbagai produk susu.
2. Kurangi jumlah rokok yang diisap
3. Gosok gigi setelah sahur, berbuka puasa dan mau tidur. Gosok dengan cara yang benar agar gigi dan rongga mulut bersih dan tidak tersisa makanan
4. Untuk membersihkan sisa-sisa makanan di sela-sela gigi, gunakan benang gigi
5. Perbanyak konsumsi buah dan sayur
6. Kurangi konsumsi minuman berkafein
7. Bila menggunakan obat kumur, jangan berlebih karena akan menghilangkan kondisi flora normal yang dibutuhkan gigi.

WIK

Sumber : kompas.com

Penulis : Purwanti

Foto : google.com/image

Bulan Ramadhan sudah didepan mata, sambut dan jalani Ramadhan dengan penuh sukacita agar keberkahan tetap memancar. Namun kadang kala persiapan menuju bulan puasa ini tidak dipersiapkan sebaik mungkin, akibatnya ibadah tidak berjalan maksimal karena persiapan yang tidak matang.

Persiapan fisik

Anda perlu mempersiapkan fisik yang bugar dan sehat menyambut bulan suci ini. Seperti berolahraga teratur, paling tidak 30 menit setiap hari. Membiasakan diri tidur cukup, paling tidak 7-8 jam perhari. Mengonsumsi vitamin dan atau suplemen makanan yang dibutuhkan dan sesuai dengan aturan.

Puasa terkait dengan bagaimana Anda menahan makan dan minum, pola makan kita diluar bulan puasa sebaiknya tidak diterapkan di bulam Ramadhan ini. Pola makan Anda pada bulan Ramadhan, sebaiknya diatur. Ketika sahur, makanlah makanan yang berkuah dan mengandung nutrisi sekaligus vitamin agar tetap fit saat puasa. Selipkan penutup seperti buah-buahan atau jus buah. Untuk menu berbuka, hindari gorengan dan es.

Awali menu berbuka Anda dengan mengonsumsi minuman atau makanan manis, karena makanan atau minuman manis dapat mengganti glukosa yang hilang saat berpuasa seperti segelas teh hangat manis dan sepotong kue manis.

Ada beberapa tips yang dapat Anda jalankan agar puasa Anda tetap fit dan bugar :

1. Olahraga ringan setiap hari, Anda bisa menyelipkannya pada saat pagi (setelah shalat subuh). Anda bisa memilih jenis olahraga yang tidak terlalu menguras keringat, senam ringan selama 10-20 menit sudah cukup bagi Anda. Atau waktu yang paling tepat adalah satu hingga 30 menit sebelum berbuka, sehingga Anda tidak perlu waktu yang cukup lama untuk mengganti cairan tubuh ketika berbuka.

2. Untuk menghindari bau nafas tak sedap saat Anda berpuasa, Anda bisa berkumur dengan rebusan air daun sirih setelah menyikat gigi usai sahur dan sehabis berbuka.

3. Jika Anda merasa membutuhkan vitamin, sebaiknya konsultasikan dahulu pada dokter Anda. Vitamin bukan sebagai pengganti cadangan makanan Anda selama berpuasa. Anda perlu mengetahui vitamin apa yang akan Anda konsumsi, dan jumlahnya yang sesuai dengan yang Anda butuhkan.

4. Untuk ibu hamil dan menyusui yang tetap ingin berpuasa, sebaiknya mengonsultasikan hal tersebut kepada dokter. Sehingga, Anda mengetahui sejauhmana tingkat risiko bagi Anda dan janin atau bayi.

Untuk menjaga stamina ketika berpuasa tetap fit dan bugar, sebelum makan sahur Anda dapat mengonsumsi 2 sendok madu murni. Kandungan gula yang terdapat pada madu dapat memberikan energi ekstra ketika Anda berpuasa.

Akhirnya….Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

Sumber : mediaindonesia.com

Hening membuat bening si nada sunyi.

Bening membuat jernih si mata hati.

Jernih untuk berkaca melihat si isi diri.

Tersenyum sadar untuk merubah rasa.

Geli tertawa sadar salah untuk merubah Jiwa.

Mungkin bersih, mungkin baru, mungkin transformasi.

Mungkin, mungkin dan mungkin. Tergantung ijin si Empunya diri.

Saat masih kecil jika saya marah, biasanya saya “gak” mau makan. Saya “mogok” makan he..he..namanya juga anak-anak. Ehm, nantinya saya paham bahwa hal tersebut ada manfaatnya. Lho, kok bisa? Karena saat sangat lapar semua emosi negatif terendah dalam diri akan muncul, mungkin bisa berupa marah yang meledak, mungkin teriakan atau respon lainnya. Nah, biasanya saat kita marah, ayah ibu atau orang yang lebih tua dari kita akan memberikan nasehat atau wejangan. Kalau nasehat tersebut pas, mengena dan kita bisa menerimanya (Acceptance), maka akan terjadi penyadaran diri (Awareness) bahwa kitalah yang salah. Lalu, kita mungkin menemukan kalimat yang pas, misalnya: “Oh, Papi tuh maksudnya sayaaang…” (Reframing) dan disitulah terjadi transformasi diri (Transformation). Setelah itu emosi marah kita akan mereda, bukan? Setelah itu, kita akan memiliki judul baru untuk Papi kita yakni Papi baik… dan sebagainya.

Duh, jujur deh setelah saya belajar NLP ternyata meng-ekspresi-kan emosi marah jauh lebih baik dibandingkan emosi marah yang dipendam. Karena kalau emosi marah dipendam, dia bak bara api maha dahsyat yang tersimpan di dalam gunung yang bila meledak akan meluluhlantakan banyak hal. Uh, pengalaman memendam emosi marah ini, saya bayar sangat mahal dalam kehidupan saya. Sungguh sangat mahal… Emosi marah haruslah bisa dikelola dengan baik. Sehingga bila memang emosi marah tersebut harus disampaikan, ya sampaikan saja tanpa “rasa”. Masak bisa? Ya, bisalah… Kuncinya melatih rasa (dalam bahasa Jawa baca ROSO), salah satu metode latihannya adalah berpuasa yang bermakna.

Baiklah, salah satu latihan yang dianjurkan oleh Pembimbing saya adalah puasa yang ternyata sudah saya kenal sejak saya masih kecil, jadi cukup mudah untuk menjalankannya. Namun, kalau dulu saya berpuasa tanpa makna, sekarang saya berpuasa dengan tujuan memberi makan batin, memberi makan sang jiwa dan untuk transformasi diri. Tujuan saya menulis artikel inipun adalah agar Anda juga bisa meningkatkan kemampuan Anda dalam olah batin diri sendiri tanpa perlu bantuan pihak lain. Sehingga potensi diri yang ada di dalam diri Anda terbangkitkan dan Anda dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ada banyak cara berpuasa, misal:

1. Makan terakhir jam 10 malam, lalu buka puasa jam 6 sore esok harinya, tepatnya saat matahari tenggelam.

2. Sehari Makan, Sehari Puasa (sangat menghemat pengeluaran, betul? He..he…)

3. Puasa seperti yang dilakukan umat Muslim yakni makan saur pada waktu Subuh dan buka puasa pada waktu Maghrib.

4. Puasa Vipasana, hanya makan buah dan sayuran sampai jam 12an siang dan tidak makan lagi sampai esok bangun pagi.

5. Puasa Senin Kamis dan banyak lagi cara atau metode orang berpuasa.

Saya tidaklah tertarik untuk membahas manfaat puasa yang memang sudah teruji sangat baik untuk kesehatan kita. Jadi Anda boleh memilih jenis puasa yang Anda rasa pas dan dapat dinaikkan kadarnya sesuai kebutuhan. Saya tertarik bagaimana mengoptimalkan manfaat puasa? Bagaimana bisa terjadi transformasi diri? Dalam NLP ada teknik Reframing yang sederhana namun jika digunakan dengan tepat guna akan berdampak transformasi dalam hidup kita.

Saat berpuasa, secara fisik bisa membawa leval emosi kita turun ke posisi terendah dalam diri kita. Sehingga emosi kita gampang me-respon, gampang meletup, gampang tersinggung, gampang marah, mau makan orang he..he.. apapun bentuknya. Nah, inilah peluangnya dan saat inilah saat terbaik untuk transformasi diri atau bahasa awam kita kenal sebagai refleksi diri, kontemplatif alami atau retret. Sekali lagi ini adalah pengalaman penerapan NLP gaya saya, jadi bukanlah suatu yang baku, siapa tahu pas juga untuk Anda.

Berikut tahapan memanfaatkan puasa untuk transformasi diri:

1. Eling atau dalam pengertian saya, saya jabarkan sebagai Sadari Saat Ini. Sadari apa yang Anda pikirkan saat ini. Sadari apa yang Anda katakan saat ini. Sadari apa yang Anda lakukan saat ini. Sadari dialog apa yang sedang terjadi dalam pikiran Anda saat ini. Marah? Kesal? Kecewa? Sedih? Atau emosi negatif lainnya yang sangat menyita energi tubuh kita.

2. Amati. Ya, setelah Anda menyadari apa yang Anda alami saat ini, setelah itu amati diri Anda dari jarak jauh (dalam NLP disebut posisi 2 atau posisi 3, gunakan pilihan yang Anda rasa pas). Jadi Anda seperti melihat diri Anda sendiri. Boleh gunakan teknik apapun, misal: menggambar diri Anda di kertas kosong dan berikan emosi yang tadi dialami. Cukup amati emosi tadi.

3. Terima dengan Ikhlas emosi negatif yang muncul, sadari bahwa kita manusia biasa yang mungkin saja bisa marah, kesal, kecewa, sedih dan kawan-kawannya. Terima, terima dan terima dengan ikhlas sampai rasa dalam diri Anda merasa nyaman. Lalu, akui dengan jujur ke Sang Pencipta bahwa kita masih memiliki emosi-emosi negatif tersebut dan mohon ampun untuk dibuang atau dilepaskan.

4. Rubah menjadi lebih baik. Bisa berupa pernyataan baru yang sangat powerful, misal dari sebuah: “Ah, malaslah aku mencobanya. Karena selama ini selalu gagal” kita ganti menjadi kalimat: “Mengapa tidak saya coba dulu ya, paling gagal. Toh, itu juga artinya belajar”

Contoh menerapkan latihan ini:

1. Misal di kantor, saat meeting terjadi dialog yang membuat Anda kesal, langsung berikan pertanyaan kepada diri Anda, misal: “Ngapain si Krishna (gunakan nama Anda sendiri) kesal?” (catatan: kata “si” akan otomatis membuat jarak antara Anda dan Krishna) dan segera berikan nasehat: “Nanti cepat tua, lho!” Kalau jawabannya menimbulkan respon balik yang lucu dari si Krishna, artinya Anda telah berhasil membuat si Krishna berubah menjadi lebih baik dan mungkin si Krishna membuat pernyataan baru dari kejadian tadi: “Iya, ya coba saya perhatikan dulu, siapa tahu ide dia benar dan lebih baik?”

2. Saat sore hari menjelang puasa, Anda jalan-jalan di Mal dan melihat jualan makanan buka puasa. Ingat, karena dorongan perasaan lapar, kemungkinan besar kita akan membeli apapun yang kita inginkan karena rasa lapar akan membuat sepertinya semua makanan yang kita lihat menjadi nikmat rasanya. Nah, saat respon ingin membeli makanan sebanyak mungkin ini muncul dalam diri, Eling, eling dan eling. Lalu amati… Terima dengan ikhlas perasaan tersebut, lalu rubah dengan dialog misalnya: “Baiklah aku akan tetap membeli makanan buka puasa ini, namun untuk orang lain, bukan untukku” Wow, walaupun sederhana ini akan menjadikan perubahan yang kuantum.

Contoh lain: “Ehm, makanan ini nikmat banget deh kayaknya? Toh, harganya masih masuk budget biaya makan sehari aku.” STOP, STOP, STOP! Jangan banyak dialog dalam diri lagi, langsung masuk ke sikap eling, eling dan eling. Lalu amati… Terima dengan ikhlas perasaan tersebut, lalu rubah dengan dialog baru misalnya: “Baiklah, aku tetap beli makanan buka puasa dengan budget biaya makan sehari aku, tapi sekarang aku belikan 5 bungkus nasi telor agar ada 4 orang lagi yang mungkin tidak punya uang, tapi tetap bisa buka puasa. Toh, di sekitar kita banyak sekali saudara kita yang tidaklah terlalu mampu membeli makanan. Mereka sudah terlalu sering puasa walau bukan bulan Ramdhan he..he..” Tarik nafas dalam, tahan sebentar, lalu hembuskan nafas Anda sebanyak mungkin sambil bayangkan menjadi pribadi yang baru dan jreeeng… jadilah….

3. Jalan-jalan dan lihat ada DISKON jualan pakaian, umumnya Anda yang wanita (tidak semua sih he..he..) secara alami merespon “Wah, lumayan banget diskon 60%, jadi hemat 60% nih” STOP, STOP, STOP! Jangan banyak dialog dalam diri lagi, langsung masuk ke sikap eling, eling dan eling. Lalu amati… Terima dengan ikhlas perasaan tersebut, lalu rubah dengan dialog baru misalnya: “Baiklah, aku tetap beli pakaian yang sedang diskon tersebut. Tapi bukan untukku, namun untuk setiap orang miskin yang kutemui saat aku pulang ke rumah nanti” Tarik nafas dalam, tahan sebentar, lalu hembuskan nafas Anda sebanyak mungkin sambil bayangkan menjadi pribadi yang baru dan jreeeng, momentum ini akan membuat Anda ber-transformasi menjadi baru. Seru, bukan?

Oh ya, puasa lainnya yang sering saya lakukan adalah Puasa Bicara. Ya, dalam satu tahun belakangan ini sebagai pembicara malahan saya semakin sering puasa bicara. Kadang 1 hari, maksimum 2 hari. Kalo seminggu ya repot, omset turun he..he..

Apa yang saya lakukan saat puasa bicara?

Hanya mengamati apa yang muncul dalam benak saya? Ya, mengamati saja. Kalau muncul sesuatu yang tidak nyaman baik berupa gambaran suara ataupun perasaan dari dalam diri, maka saya amati saja sampai menghilang sendiri. Paling banyak kegiatan saat kita puasa bicara adalah Internal Dialog yang muncul lalu lalang di benak kita. Amati saja dan jangan menyimpulkan apapun. Seru kan? Selamat mencoba.

Makna reflektif puasa untuk diriku:

Puasa adalah berdiam. Berdiam untuk tidak makan. Berdiam untuk tidak minum. Berdiam untuk tidak bicara. Berdiam untuk tidak menilai. Berdiam untuk tidak berdialog dengan kata-kata yang terbatas. Namun, berdialoglah dengan sang sunyi. Sang sunyi di dalam diri. Sunyi tanpa kata. Sunyi tanpa suara. Sunyi tanpa rasa. Namun sunyi yang berenergi. Energi transformasi. Energi perubahan dari Ilahi. Energi potensi diri. Menjadi diri sendiri. Untuk mengabdi pada sang Makna. Sang Makna Kehidupan agar nafas tidaklah menjadi sia-sia…

Memang sulit dipahami, berpuasalah dengan sang makna… Sampai saatnya tiba, sang di dalam diri akan berkata “Ah, ini maksudnya”. Saat kita bersua dengan kalimat pendek ini, kita akan (mungkin) bersujud syukur tanpa kata-kata bahwa sungguh Allah Maha Besar… dan aku hanyalah debu tak berarti… Duh, Gusti Allah mohon ampun… Kadang aku masih sering sombong dengan kekuatanku sendiri…

Krishnamurti yang masih terus ber-retret menguak misteri siapa diri ini.

Sumber : ciptarasakarsa.com

KapanLagi.com – Menjalankan ibadah puasa adalah sebuah kewajiban bagi umat muslim, namun jika ditilik dari sisi kesehatan dibalik nilai ibadah dari ritus yang dijalankan sebulan penuh tiap tahun ini, juga tersimpan banyak manfaat. Tapi tentu saja jika itu dijalankan dengan aturan yang benar dan tidak asal-asalan. Bagaimana memadukan antara ibadah dan mendapatkan manfaat bagi kesehatan kita, berikut kami suguhkan 6 tips menjalankan puasa sehat:

1. Jangan Tinggalkan Sahur

Sahur merupakan salah satu rangkaian dalam ibadah puasa Ramadhan yang sangat disarankan, dalam sebuah Hadist disebutkan bahwa “Bersabda Rasulullah SAW: “Sahurlah kamu, karena dalam sahur itu terdapat berkah yang besar”. Kenapa sahur penting bagi kita yang menjalankan puasa?, Saat menjalankan puasa tubuh kita tidak mendapatkan asupan gizi kurang lebih selama 14 jam. Untuk itu supaya tubuh dapat menjalankan fungsi dengan baik, sel-sel tubuh membutuhkan gizi dan energi dalam jumlah cukup. Untuk menu sahur sebaiknya pilih makanan berserat dan berprotein tinggi, tapi hindari terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang manis-manis.

Banyak makan makanan manis disaat sahur akan membuat Anda cepat lapar di siang hari. Makanan manis membuat tubuh bereaksi melepaskan insulin secara cepat, insulin berfungsi memasukkan gula dari dalam darah ke dalam sel-sel tubuh dan digunakan sebagai sumber energi. Sedangkan makan makanan berserat membuat proses pencernaan lebih lambat dan membantu insulin dikeluarkan secara bertahap. Untuk membuat energi dari sahur tahan lama, bersahurlah lebih akhir saat mendekati imsak.

2. Jangan Tunda Berbuka

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga tentunya energi kita terkuras, untuk memulihkan energi kembali, saat berbuka makanlah karbohidrat sederhana yang terdapat dalam makanan manis. Makanan yang mengandung gula mengembalikan secara instant energi kita yang terkuras seharian. Tetapi usahakan menghindari minum es atau yang bersoda, karena jenis minuman ini dapat membuat pencernaan tak berfungsi secara normal.

3. Makanlah Secara Bertahap

Biasanya begitu mendengar bedug magrib, tanpa tunggu lagi kita langsung menyantap habis hidangan yang disediakan diatas meja. Ini bukanlah pola yang bagus untuk kesehatan, setelah seharian perut kita tak terisi dan organ cerna beristirahat, sebaiknya jangan langsung menyantap hidangan dalam jumlah besar. Saat tiba waktu berbuka makan makanan manis, seperti kolak, atau minum teh hangat, istirahatkan sesaat, bisa Anda gunakan jeda itu untuk menjalankan sholat magrib sambil memberi waktu organ cerna kita menyesuaikan. Baru setelah sholat Anda dapat lanjutkan kembali makan makanan yang lebih berat seperti nasi dan lauk-pauknya. Dan setelah Tarawih dilanjutkan lagi dengan sesi makan kecil atau camilan.

4. Jangan Tinggalkan Olahraga

Menjalankan puasa bukan berarti berhenti total berolahraga. Justru aktivitas fisik tetap dibutuhkan untuk menjaga kelancaran peredaran darah agar kita tidak mudah loyo. Namun untuk urusan ini pilih olahraga ringan yang tak membutuhkan energi berlebih, seperti lari-lari kecil atau jalan kaki. Sebaiknya lakukan olahraga menjelang waktu berbuka. Tarawih selain ibadah juga sebagai sarana menjaga kebugaran
jasmani karena saat melakukan sholat tarawih sama dengan membakar kalori.

5. Konsumsi Cukup Air

Air merupakan zat yang sangat dibutuhkan tubuh. Lebih dari 60 % tubuh kita terdiri dari air. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik setiap organ tubuh kita membutuhkan air. Tanpa air yang cukup tubuh akan mengalami gangguan. Untuk itu perbanyak minum air untuk simpanan dalam tubuh supaya semua organ berfungsi dengan baik. Yang disebut air disini bukan hanya berupa air putih, tapi susu dan teh pun juga termasuk di dalamnya. Supaya kebutuhan tubuh tercukupi, aturlah agar Anda minum delapan gelas air sebelum menjalani puasa esok hari.

6. Kendalikan Emosi

Rasulallah bersabda bahwa puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan nafsu. Dengan kata lain tujuan puasa adalah me-manage emosi, belajar bersabar dan berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Secara psikologis ini mempengaruhi mental-spiritual kita, dengan mengendalian emosi membuat jiwa kita
tumbuh lebih sehat, dan merasakan kedekatan dengan Allah membuat hati kita damai. (erl)